Kapal pendingin terapung.

Jakarta, Petrominer – Keberadaan cold storage atau gudang berpendingin dalam industri perikanan, baik perikanan laut maupun tambak, sangatlah krusial. Dengan fasilitas ini, nelayan atau petambak bisa menyimpan hasil tangkapannya relatif lebih lama, sehingga nilai ekonomisnya tidak menyusut akibat proses pembusukan alamiah.

Pentingnya keberadaan cold storage kembali ditegaskan oleh Ketua Umum Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), Hasanuddin Yasni. Menurutnya, dengan pengendalian atau pengaturan suhu di cold storage, umur komoditas dapat diperpanjang (extended shelf life).

“Ikan harus didinginkan segera, setelah ditangkap di laut atau dipanen di tambak. Karena jika dalam 4 jam setelah ditangkap tidak cepat diturunkan suhunya, akan terjadi perubahan fisik, terjadi perkembangan bakteri. Ikan akan bau tengik, berlendir, dan lembek karena terjadi perubahan mikrobiologis. Inilah pentingnya cold storage,” jelas Hasanudin, Kamis (7/3).

Kondisi seperti itulah yang mendorong PT PLN (Persero) terus berupaya meningkatkan pasokan dan ketersediaan listrik untuk operasional cold storage. Sejumlah inisiatif pun telah dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini guna mendukung penyediaan listrik untuk cold storage.

Executive Vice President Corporate Communication and CSR PLN, I Made Suprateka menyatakan, pada 18 Mei 2018, PLN mulai menyediakan listrik untuk floating cold storage pertama di Indonesia milik PT Perikanan Nusantara (Persero) di Pelabuhan Untia, Makassar, Sulawesi Selatan.

“Pasokan listrik PLN ke Floating Cold Storage tersebut mencapai 240 kilo Volt Ampere (kVA) dengan menggunakan alat Automatic Secionalizing Switch. ini pertama kalinya di Indonesia, PLN memberi pasokan listrik ke cold storage terapung,” jelas Made.

Sebelumnya pada Juni 2017, PLN bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan berupaya memenuhi kebutuhan tenaga listrik di setiap lokasi Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT). Hal itu mecakup penyediaan listrik di 12 pulau kecil serta kawasan perbatasan yakni di Natuna, Saumlaki, Merauke, Mentawai, Nunukan, Talaud, Morotai, Biak Numfor, Mimika, Rote Ndao, Sumba Timur dan Sabang.

“Selain pengoperasian cold storage, proyek ini juga menjadi tempat singgah nelayan, pabrik es, sumur, gudang rumput laut hingga tambak serba guna,” papar Made.

Lihat juga: PLN Layani Kapal Pendingin Terapung Pertama

Jika dibandingkan dengan genset, penggunaan listrik PLN oleh para pengelola cold storage justru memberi manfaat yang berlipat. Antara lain mendapat nilai tambah ekonomis, sehingga produk perikanan bisa lebih tahan lama. Apalagi, ikan dan hasil laut lainnya dapat diolah menjadi fillet, nugget, dan bakso udang/ikan.

Penggunaan cold storage juga menunjang pertumbuhan bisnis nelayan setempat hingga sekitar 5-6 persen. Berdasarkan data ARPI pada Oktober 2017, kapasitas cold storage untuk perikanan mencapai 200 ribu ton. Ini jauh dari kebutuhan nasional, dengan kapasitas penyimpanan mencapai 1,7 juta ton.

Hemat Biaya

Selain pasokan listrik lebih terjamin, terjadi juga penghematan biaya lebih besar apabila cold storage mendapat pasokan listrik dari PLN.

Menurut Branch Manager Perikanan Nusantara Cabang Makassar, Ferdinand Wenno, sebelum dipasokan lisrik PLN, biaya operasional kapal floating cold storage Perinus yang bersandar di Untia selama setahun, sangat mahal.

“Karena genset menggunakan solar, biaya operasional dan pemeliharaannya bisa mencapai Rp 200 juta per bulan” urainya.

Dengan perhitungan menyala 250 jam, penggunaan listrik PLN menjadikan Perinus hemat Rp 138 juta setiap bulan.

Penghematan ini juga diamini oleh Hasanuddin. Dia menyebutkan bahwa penghematan yang didapat dengan penggunaan listrik PLN untuk cold storage bisa mencapai dua kali lipat.

“Perbandingan penghematan antara menggunakan listrik PLN untuk cold storage dengan genset itu 1 banding 2. Biaya menggunakan genset untuk cold storage sekitar 2 kali lipat dibanding listrik PLN,” tegasnya.

Indonesia Timur

Menurut Hasanudin, daerah-daerah yang urgent membutuhkan cold storage di timur yaitu NTB dari Lombok sampai Sumbawa, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat, Sulawesi Utara sampai Selatan, Maluku mencakup Ambon dan Ambon Utara, lalu Papua di Sorong dan Timika. Tidak hanya itu, wilayah Sumatera juga butuh. Ada Lampung, Palembang, dan Riau yang besar produksi perikanannya.

Mengantisipasi hal itu, menurut Made, PLN sudah menyiapkan fasilitas kelistrikan untuk pulau-pulau terluar di Indonesia, termasuk yang terpisah dari daratan. Untuk itu, sistem yang digunakan adalah island system, yang berarti sistem kelistrikan tersebut hanya berlaku di pulau atau daerah tersebut.

“Operasionalisasinya menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Tidak hanya itu, juga disesuaikan dengan sumber energi yang tersedia apakah dari energi matahari (surya) maupun tenaga angina. Ini akan menjadi tenaga hybrid yang menjadikannya sebagai energy mix (bauran energi),” jelas Made.

Dengan penyediaan listrik di wilayah Indonesia Timur, maka peluang membangun cold storage bisa sejalan dengan program pembangunan listrik 35 ribu MW.

Sekali lagi, dia menegaskan bahwa kehadiran infastruktur energi dibutuhkan untuk meningkatkan pendapatan para nelayan, sekaligus membangun ekonomi secara inklusif. Keberadaan cold storage di berbagai sentra penangkapan ikan secara pasti memberi ruang kepada masyarakat nelayan untuk meningkatkan value hasil tangkapannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here