
Balikpapan, Petrominer – PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) mengklaim berhasil meningkatkan produksi minyak dan gas bumi (migas) melalui pekerjaan hydraulic fracturing pada sejumlah sumur di wilayah operasi Mutiara dan Pamaguan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Program tersebut dilaksanakan sepanjang periode 2023 hingga 2026 dan berhasil memaksimalkan potensi reservoir, meningkatkan produksi, sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.
General Manager Zona 9, Dadang Soewargono, mengatakan penggunaan metode ini merupakan bagian dari langkah strategis perusahaan untuk terus menerapkan inovasi dan teknologi dalam menahan laju penurunan produksi. Tidak hanya itu, strategi ini juga mampu meningkatkan recovery rate, serta mempertahankan tingkat produksi lapangan-lapangan migas yang sudah mature di wilayah Kalimantan.
“Kami percaya bahwa penerapan inovasi dan teknologi memainkan peranan penting dalam menjaga keberlanjutan produksi migas sejalan dengan visi dan misi Perusahaan, serta komitmen PT Pertamina Hulu Energi dan PT Pertamina (Persero) untuk mendukung ketersediaan dan ketahanan energi nasional,” ujar Dadang dalam keterangan resmi yang diterima PETROMINER, Jum’at (15/8).
Dia menjelaskan, metode hydraulic fracturing pertama kali diaplikasikan di lapangan Mutiara dan Pamaguan tahun 2023, yang kemudian berlanjut sampai tahun 2026. Selama periode tersebut, perusahaan melakukan hydraulic fracturing pada 16 sumur yang memberikan pengalaman dan pembelajaran baru pada setiap challenge yang ditemui, baik dari segi teknikal maupun operasional.
Meurut Dadang, setiap pekerjaan hydraulic fracturing dirancang berdasarkan hasil kajian teknis yang komprehensif guna memastikan challenge yang akan dihadapi dapat dimitigasi sesuai dengan kondisi masing-masing reservoir ataupun masalah operasional.
Secara keseluruhan, pekerjaan hydraulic fracturing memberikan kontribusi positif terhadap kinerja produksi yang signifikan. Pekerjaan ini berhasil meningkatkan tingkat produktivitas suatu sumur sehingga sumur tersebut dapat berproduksi lebih optimal.
Setelah aplikasi hydraulic fracturing, capaian penambahan produksi minyak dapat meningkat 100 hingga 500 barrel oil per day (BOPD), serta penambahan produksi gas 0,1 – 0,4 million standard cubic feet per day (MMSCFD), sesuai karakteristik masing-masing reservoir. Pekerjaan ini juga diproyeksikan memberikan tambahan cadangan atau Estimated Ultimate Recovery (EUR) yang mampu mencapai hingga 1,3 Juta Barrel Minyak dan 300.000 Kaki Kubik Gas.
Meskipun terbilang metode yang umum diterapkan, hydraulic fracturing adalah salah satu metode stimulasi pada sumur untuk memperlancar ekstraksi minyak dan gas bumi pada reservoir yang memiliki sifat fisik batuan yang kurang baik, dengan cara memompa cairan bertekanan tinggi untuk memecah reservoir tersebut.
Salah satu hasil terbaik penerapan hydraulic fracturing diperoleh pada sumur PAM-66 di lapangan Pamaguan yang mencatatkan tambahan laju produksi minyak awal mencapai 500 BOPD. Selain itu, sejumlah sumur lainnya juga menunjukkan peningkatan produksi yang positif setelah dilakukan stimulasi sesuai karakteristik reservoir masing-masing.
“Melalui penerapan metode hydraulic fracturing yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing reservoir, perusahaan berhasil meningkatkan produktivitas sejumlah sumur sekaligus memperkuat upaya menjaga keberlanjutan produksi. Capaian ini menunjukkan komitmen kami untuk terus menghadirkan inovasi dan penerapan teknologi dalam mendukung ketahanan energi nasional,” ujar Dadang.









Tinggalkan Balasan