Fasilitas pengolahan gas di Blok Rimau, Sumatera Selatan, yang dikelola oleh PT Medco E&P Indonesia.

Jakarta, Petrominer – PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) membukukan pendapatan bersih dari segmen minyak dan gas (migas) sebesar US$ 135 juta, atau naik 80 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun kinerja ini dibarengi dengan laba kotor US$ 645 juta, atau 53 persen lebih tinggi dari 2017, dengan margin kotor 52 persen.

Kinerja tersebut tertuang dalam laporan keuangan konsolidasi MedcoEnergi yang telah diaudit untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2018.

Menurut CEO MedcoEnergi, Roberto Lorato, hasil capaian tersebut sangat solid dengan EBITDA dan margin operasi yang lebih baik sebagai hasil dari upaya berkelanjutan yang disiplin dalam menjaga biaya.

“Keberhasilan pengembangan gas Blok A di Aceh menegaskan kemampuan kami yang handal dalam menyelesaikan proyek. Sementara itu persetujuan yang baru saja diperoleh dari pemegang saham Ophir Energy terkait akusisi Ophir Energy merupakan peluang yang baik untuk memperoleh portofolio aset yang saling melengkapi, meningkatkan skala, diversifikasi serta memberikan peluang pertumbuhan yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan kami, karyawan, para mitra, dan negara tuan rumah. Kami akan terus bekerja untuk menyelesaikan transaksi ini pada akhir kuartal kedua,” kata Roberto dalam siaran pers yang diterima Petrominer, Kamis (11/4).

Lihat juga: Akhir Juni 2019, Proses Akuisisi Ophir Energy Selesai

Dalam ikhtisar keuangan MedcoEnergi tahun 2018 disebutkan laba kotor US$ 645 juta atau 53 persen lebih tinggi dari 2017 dengan margin kotor 52 persen (46 persen di tahun 2017). EBITDA US$ 596 juta (US$ 582 juta terkonsolidasi) atau naik 37 persen dari tahun 2017 didorong oleh peningkatan margin, harga komoditas dan daya listrik yang lebih tinggi, dan konsolidasi Medco Power selama setahun penuh.

Segmen minyak dan gas membukukan Pendapatan Bersih US$ 135 juta meningkat 80 persen tahun ke tahun. Namun Penghasilan Bersih Konsolidasi mengalami kerugian sebesar US$ 51 juta terutama akibat kerugian non tunai dari afiliasi pertambangan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMNT):guna mempercepat pengembangan Phase 7.

Utang Bersih terhadap EBITDA, tidak termasuk MPI, adalah 3,3x (3,6x di tahun 2017). Hutang Bersih Konsolidasi terhadap EBITDA adalah 3,7x (4,5x in 2017). Likuiditas Medco tercatat melalui kas dan setara kas sebesar US$ 627 juta di akhir tahun lalu.

Pengeboran, efisiensi proyek dan penangguhan bersamaan dengan nilai tukar yang menguntungkan memungkinkan MedcoEnergi untuk mengurangi belanja modal 2018 menjadi US$ 329 juta.

Dibandingkan tahun sebelumnya, harga minyak naik 32 persen menjadi US$ 67,8 per barel dan harga gas naik 16 persen menjadi US$ 6,4 per mmbtu. Sementara harga daya listrik (tanpa bahan bakar) Medco Power Indonesia (MPI) naik 28 persen.

Penjualan listrik yang dihasilkan MPI adalah 2.704 GWh, 24 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya dan sejalan dengan pedoman tahun 2018 setelah beroperasinya secara penuh Sarulla Geothermal. MPI juga menghimpun Rp 1,2 triliun dari transaksi pasar modal pertamanya melalui penerbitan obligasi standar dan syariah.

MedcoEnergi mencatat divestasi bisnis pertambangan batubara dan infrastruktur air telah selesai tahun 2018. Penjualan aset minyak dan gas di Amerika Serikat selesai pada kuartal pertama 2019, begitu juga penjualan 51 persen saham pada Gedung Energi.

Selain itu, MedcoEnergi menerima persetujuan para pemegang saham untuk penambahan modal perusahaan tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu hingga 10 persen dari saham yang diterbitkan dengan harga minimum Rp 868 per saham (US$ 100 juta). MedcoEnergi secara kontinu melakukan diskusi untuk penempatan saham bagi yang memenuhi persyaratan.

Dalam ikhtisar operasional, Medco mencatat produksi minyak dan gas rata-rata 85 ribu boepd, sejalan dengan panduan dan biaya tunai per unit yaitu US$ 8,7 per boe. Pada tahun lalu, MedcoEnergi juga mendapatkan perpanjangan kontrak selama 20 tahun untuk Rimau PSC dan Tarakan PSC.

Selain itu, Medco juga telah menemukan gas di sumur eksplorasi Nowera-1 di Sumatra Selatan PSC dan rencana percepatan pembangunannya telah disetujui oleh SKK MIGAS. Produksi gas pertama diharapkan dimulai tahun 2021. Telah ditandangani kontrak GSA baru dengan PGN untuk menjual gas tambahan dari Sumatra Selatan PSC sebesar 30 bbtupd.

Di sektor kelistrikan, kapasitas operasi kotor terpasang MPI naik menjadi 2.819 MW setelah selesainya fasilitas 330 MW Sarulla Geothermal. Pembangkit listrik bertenaga gas CCPP Riau, milik MPI, juga telah mendapatkan Deklarasi Pembiayaan dari PLN dan telah menandatangani perjanjian keuangan proyek dengan konsorsium bank internasional.

Dari sektor minerba, produksi AMNT tahun 2018 yang berasal dari stockpile sebesar 141,9 Mlbs tembaga dan 70,9 Koz emas. AMNT terus melanjutkan pengembangan fase 7 yang sekarang sepenuhnya dibiayai dengan fasilitas yang berkomitmen sebesar US$ 1,2 miliar dari empat bank besar berbasis di Asia. Produksi pertama dari fase 7 diharapkan akan dimulai pada paruh pertama tahun 2020.

AMNT juga tercatat telah memperoleh Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan izin Kelayakan Lingkungan dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk pengembangan smelter berkapasitas 1,3 juta ton yang berlokasi di Benete, Sumbawa Barat. Outotec Oyj telah ditunjuk untuk mengembangkan Front-End Engineering Design.

MedcoEnergi berekspektasi agar akuisisi Ophir Energy plc (Ophir) selesai pada kuartal kedua. Selain itu, perusahaan nasional ini juga menargetkan pro-forma produksi akan mencapai 110 ribu boepd setelah penyelesaian akuisisi Ophir, biaya tunai per unit untuk minyak dan gas akan dipertahankan di bawah US$ 10 per boe.

Untuk MPI, ditargetkan menghasilkan penjualan daya 2.850 GWh. Dengan Pro-forma belanja modal sebesar $ 400 juta atau di bawah. Medco menargetkan Hutang Bersih terhadap EBITDA akan tetap 3,0x atau di bawah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here