Jakarta, Petrominer – Pemerintah mengapresiasi implementasi teknologi Diesel Dual Fuel (DDF) pada mobil tangki Pertamina, yang mengkombinasikan bahan bakar Solar dan CNG (Compresses Natural Gas). Implementasi teknologi ini merupakan salah satu realisasi dari pemanfaatan bahan bakar gas (BBG) untuk transportasi jalan.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Tutuka Ariadji, pemanfaatan DDF yang merupakan kombinasi dari bahan bakar Solar dan CNG di tiga tangki BBM ini merupakan tindak lanjut Keputusan Menteri ESDM Nomor 47.K/HK.04/MEM.M/2021 tentang Peta Jalan (Roadmap) Pemanfaatan Bahan Bakar Gas Untuk Transportasi Jalan dan Penugasan Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar Gas untuk Transportasi Jalan Tahun 2020 – 2024 kepada PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk.
“Ini menjadi kesempatan yang baik bagi Pertamina untuk mengubah truk tangki yang semula berbahan bakar BBM, beralih menggunakan gas. Kalau bukan Pertamina dan PGN yang menjadi pionir, siapa lagi? Saya mendorong Pertamina melakukan pioneering ini sebaik mungkin,” ujar Tutuka dalam acara peluncuran DDF di Integrated Terminal Jakarta (Terminal BBM Plumpang), Selasa (27/12).
Implementasi penggunaan CNG merupakan sinergi dalam kerangka transisi energi yang dijalankan PT Pertamina Patra Niaga selaku pengelola Mobil Tangki Logistik dan PT Pertamina Gas Negara (PGN) Tbk. selaku penyedia CNG. PGN melakukan inovasi dalam menyediakan mobile SPBG serta LNG/CNG Trucking untuk mengakselerasi bauran energi dari gas, baik untuk transportasi maupun industri.
“CNG ini aman, ramah lingkungan dan sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraan yang dipersyaratkan oleh produsen kendaraan,” ungkap Tutuka.
Menurutnya, penggunaan CNG untuk moda transportasi merupakan komitmen Pertamina untuk menurunkan emisi karbon, di mana emisi karbon gas alam lebih rendah 40 persen dibanding bahan bakar minyak. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi cadangan gas yang besar, sehingga untuk mewujudkan kemandirian dan kedaulatan energi nasional sangat penting mengakselerasi peningkatan bauran energi dari gas produksi dalam negeri
Direktur Logistik dan Infrastruktur Pertamina, Erry Widiastono, mengatakan implementasi DDF merupakan komitmen Pertamina dalam rangka mengurangi emisi karbon dan implementasi ESG (Environmental, Social, and Governance) di perusahaan.
“Dengan implementasi DDF maka biaya operasional akan semakin efisien, juga pemakaian volume CNG akan meningkat sesuai dengan target Kepmen ESDM 47/2021, serta tercipta ekosistem pemanfaatan BBG sebagai energi transisi,” ujar Erry.
Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Heru Setiawan, menyatakan bahwa PGN sebagai Subholding Gas Pertamina mendukung penuh program konversi BBG Pertamina. Di sisi lain, PGN telah menargetkan perluasan pemanfaatan BBG untuk transportasi darat dalam 5 (lima) tahun ke depan. Konversi ke BBG pada truk logistik BBM, diharapkan bisa semakin meningkatkan optimalisasi SPBG.
“Dengan penggunaan DDF akan memberikan penghematan biaya bahan bakar pada truk dual fuel sampai 30 persen. Secara teknis, DDF telah memenuhi standar keamanan di antaranya dari Kementerian ESDM Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian,” jelas Heru.
PGN menargetkan akan mengonversi 1.000 unit truk/ bus dalam lima tahun ke depan. Secara bertahap, konversi ke BBG juga akan dilakukan pada kendaraan kecil sekitar 18.000 unit.
PGN telah menyiapkan 57 titik lokasi SPBG, termasuk Mobile Refulling Unit (MRU), untuk menyediakan serta mendistribusikan BBG, berupa CNG untuk transportasi darat. BBG dan infrastruktur pendukungnya untuk kendaraan darat akan dipasok anak perusahaan PGN yaitu PT Gagas Energi Indonesia.
Lokasi SPBG tersebar di Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan. Lokasi SPBG berada di jalur utama Sumatera Jawa dan jalur logistik nasional, sehingga akan mendorong Pertamina untuk mengonversi truk logistik menggunakan CNG.
Inovasi PGN menyediakan mobile SPBG serta LNG/CNG Trucking, merupakan upaya akselerasi bauran energi dari gas, baik untuk transportasi maupun industri.
Pada fase awal, penggunaan Gas Transport Module (GTM) dan MRU untuk menyuplai CNG ke truk angkut BBM. Fase selanjutnya yaitu revitalisasi SPBG Plumpang untuk supply CNG ke truk angkut BBM dan kendaraan umum.









Tinggalkan Balasan