Muhammad Wavi dari Universitas Telkom, mahasiswa Gerilya Batch 2 yang berkesempatan memasang PLTS di atap gedung Medco Ratch Power Riau berkapasitas 47,5 kWp.

Jakarta, Petrominer – Industri hulu minyak dan gas bumi nasional kini dihadapkan pada dua tantangan sekaligus, yaitu pemenuhan kebutuhan energi guna mengurangi impor migas dan mitigasi risiko perubahan iklim terkait aktivitas industri hulu migas. Pelaku industri hulu migas pun menyadari bahwa transisi energi telah diterima oleh seluruh pihak dan bahkan harus menjadi bagian dari aktivitas perusahaan migas di seluruh dunia.

Vice President Indonesia Petroleum Association (IPA), Greg Holman, menyebutkan bahwa transisi energi merupakan hal yang tak dapat dihindari oleh seluruh perusahaan migas di seluruh dunia. Kesepakatan Paris yang menargetkan pengurangan emisi karbon guna menahan laju kenaikan suhu dunia sebesar 1,5-2 derajat Celsius diakui telah mengubah wajah industri hulu migas saat ini. Indonesia, sebagai salah satu negara yang meratifikasi Kesepakatan Paris, sedang berusaha keras untuk mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas seluruh industri, termasuk industri hulu migas.

“Meski dihadapkan kepada tantangan pengurangan emisi karbon, namun para pelaku industri hulu migas meyakini bahwa industri hulu migas tetap diperlukan untuk menunjang kebutuhan energi di masa mendatang dan juga sebagai jembatan menuju transisi energi,” ungkap Greg beberapa waktu lalu.

Sesuai temanya “Addressing the Dual Challenge: Meeting Indonesia’s Energy Needs While Mitigating Risks of Climate Change,” IPA Covention & Exhibition (Convex) 2022 mengangkat isu tersebut di setiap sesi diskusinya. Seluruh pemangku kepentingan di industri hulu migas duduk bersama mencari solusi agar target pemenuhan kebutuhan energi dan upaya mengurangi emisi karbon akibat kegiatan hulu migas dapat tercapai dengan baik.

Seperti yang disampaikan Manager Corporate Sustanability & Risk Management PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi), Firman Dharmawan, di hadapan sejumlah wartawan di booth MedcoEnergi dalam pameran The 46th IPA Convex 2022, Rabu (21/9).

Sebagai salah satu perusahaan yang mengelola beberapa lapangan migas di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara, MedcoEnergi punya jurus ampuh menghadapi kedua tantangan di atas. Dengan misi untuk terus memenuhi permintaan energi dan sumber daya alam berkelanjutan, MedcoEnergi berkomitmen menerapkan praktik dan standar global Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environtment, Social and Government/ESG) terbaik, termasuk standar Global Reporting Initiative (GRI) serta Sustainable Development Goals (SDGs) .

“Hingga saat ini, MedcoEnergi telah mencapai 90 persen dari metrik dan target keberlanjutan lima tahun yang ditetapkan dalam Penilaian Materialitas 2018. Fokusnya pada penguatan kebijakan, tata kelola, sistem, kemampuan, dan budaya keberlanjutan,” ungkap Firman.

Malahan, menurutnya, selama periode 2019-2021, peringkat ESG MedcoEnergi dari lembaga MSCI meningkat dari B, menjadi BB, kemudian BBB. Sementara skor Sustainalytics meningkat dari 49,9 menjadi 42,2.

Dalam paparanya, Firman juga menyampaikan bahwa pada tahun 2022, MedcoEnergi terus memperbaiki kinerja dan pengungkapan ESG dengan melakukan pembaruan Penilaian Materialitas. Tujuannya adalah untuk menetapkan metrik dan target keberlanjutan periode 2022-2027. Selain itu, MedcoEnergi juga menerbitkan laporan Task Force on Climate-Related Financial Disclosure (TCFD) untuk pertama kalinya dan melaporkan kinerja emisi Perusahaan untuk tahun kedua di platform CDP (sebelumnya dikenal sebagai Carbon Disclosure Project).

“Kami melaporkan pada tahun 2017-2021 sesuai dengan standar GRI 2016 dan pengkiniannya. MedcoEnergi sukses meningkatkan kualitas dari pengungkapkan dengan meningkatkan jumlah indikator GRI dari tahun ke tahun yang di-assurans keyakinan terbatas oleh Ernst & Young. Tahun 2017, ada 31 indikator. Setahun berikutnya naik menjadi 55 indikator, hingga menjadi 86 indikator pada tahun 2021,” jelasnya.

Aspirasi MedcoEnergi menghadapi Net Zero Emissions pada tahun 2050 dan 2060.

Lebih lanjut, Firman mengatakan bahwa kerangka keberlanjutan MedcoEnergi ini memberikan landasan bagi Strategi Perubahan Iklim dan aspirasi emisi Net Zero Perseroan. MedcoEnergi berkomitmen mencapai emisi Net Zero Scope 1 dan 2 pada tahun 2050 dan Scope 3 pada tahun 2060, serta baru-baru ini menerbitkan target interim untuk tahun 2025 dan 2030.

“Kami akan tetap fokus pada peningkatan ESG dengan target yang terukur dalam Strategi Perubahan Iklim dan Transisi Energi. Strategi ini dikembangkan melalui proses multi tahun untuk membangun pemahaman internal dan infrastruktur yang diperlukan dalam mengelola risiko Perubahan Iklim,” ucapnya mengakhiri pertemuan sore itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here