PLTU Tanjung Jati B berkapasitas 4x710 MW di Jepara, Jawa Tengah.

Jakarta, Petrominer – PT PLN (Persero) terus berupaya memberikan layanan terbaik bagi para pelanggannya. Selain menyediakan pasokan listrik yang andal, dengan semangat Transformasi, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini juga berkomitmen tinggi untuk terus menjaga kelestarian lingkungan, terutama yang dekat dengan pembangkit listrik.

Hingga kini, keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berbasis bahan bakar batubara masih menjadi andalan. Pasalnya, PLTU dinilai mampu menekan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik yang berimbas pada harga jual listrik kepada pelanggan yang lebih murah.

Dengan ketersediaan sumber daya alam yang melimpah di dalam negeri, pemanfaatan sumber energi primer dari batubara masih akan menjadi andalan. Ini karena Indonesia bukan hanya membutuhkan listrik yang murah namun juga yang andal. Dengan begitu, harapannya listrik yang terjangkau dan andal akan menggerakkan ekonomi negara.

Menurut Executive Vice President Corporate Communcation and CSR PLN, Agung Murdifi, PLTU merupakan tulang punggung penyediaan tenaga listrik nasional yang tersebar di seluruh Indonesia. Karena itulah, langkah yang perlu dilakukan adalah pengendalian emisi PLTU untuk menjaga kualitas lingkungan.

“Kami telah menjalin kordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), dan terus berupaya memenuhi standar lingkungan yang telah ditetapkan oleh regulator,” ungkap Agung, Selasa (12/1).

Monitoring Emisi

Pada tahun 2020, salah satu PLTU milik PLN, yakni PLTU Tanjung Jati-B berhasil meraih Peringkat Emas dalam ajang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) dari Kementerian LHK. Sementara 19 PLTU meraih Peringkat Hijau dan 96 PLTU lainnya meraih Peringkat Biru.

Ini salah satu bukti bahwa PLN telah mengoperasikan PLTU yang kian ramah lingkungan. Guna menjaga kelestarian lingkungan, PLN telah melengkapi PLTU berbahan bakar batubara dengan Continous Emission Monitoring System (CEMS), yang berfungsi untuk memonitor emisi secara berkelanjutan. CEMS ini dipasang pada semua PLTU dengan kapasitas di atas 25 megawatt (MW) untuk melakukan pengendalian emisi secara real time.

Berbagai inovasi juga telah dilakukan agar PLTU menjadi lebih ramah lingkungan dan memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri LHK No P.15 Tahun 2019 tentang tingkat baku mutu emisi. PLN melakukan pengendalian kadar sulfur batubara dengan cara pencampuran dan pemilihan batubara dengan komposisi campuran sulfur yang dapat memenuhi kualitas baku mutu emisi Sulfur Dioksida (SO2).

Penggunaan Teknologi Rendah Karbon juga terus dilakukan melalui pembangunan PLTU dengan Teknologi Super Critical (SC) dan Ultra Super Critical (USC). Tidak hanya itu, PLN juga melakukan pemasangan peralatan FGD (Flue Gas Desulfurization) maupun SCR (Selective Catalytic Reduction) pada PLTU sebagai upaya mengendalikan emisi.

Untuk meningkatkan bauran energi baru terarukan (EBT), PLN terus mengembangkan program Co-Firing. Ini merupakan upaya pemanfaatan biomassa yang merupakan renewable energi sebagai pencampur batubara untuk bahan bakar PLTU.

“Selain melakukan pembangunan EBT berskala besar, Program Co-Firing PLTU dengan biomassa menjadi langkah PLN untuk mendorong pemanfaatan EBT pada bauran energi nasional,” ujar Agung.

Co-Firing telah dilakukan uji coba di beberapa PLTU, antara lain PLTU Jeranjang (2×25 MW) dengan pelet sampah, PLTU Paiton (2×400 MW) pelet kayu, PLTU Rembang (2×325 MW) pelet kayu, PLTU Indramayu (3x330MW) pelet kayu, PTLU Tenayan (2×110 MW) dengan cangkang kelapa sawit, PLTU Ketapang (2×10 MW) dengan cangkang kelapa sawit, PLTU Sanggau (2×7 MW) dengan cangkang kelapa sawit, juga PLTU Belitung (2×16,5 MW) dengan cangkang kelapa sawit.

Secara keseluruhan terdapat 114 unit PLTU milik PLN yang berpotensi dapat dilakukan co-firing biomassa. Pembangkit tersebut tersebar di 52 lokasi dengan total kapasitas 18.154 MW. Harapannya, program ini dapat meningkatkan bauran EBT secara nasional.

“Seluruh upaya yang dilakukan merupakan wujud komitmen PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik tanah air yang terjangkau dan tetap ramah lingkungan guna mendorong roda ekonomi bangsa yang berkelanjutan,” tegas Agung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here