
Jakarta, Petrominer – PT RMK Energy Tbk (RMKE IJ) mengawali tahun 2026 dengan pencapaian kinerja keuangan yang impresif. Perusahaan penyedia jasa logistik batubara terintegrasi ini mencatatkan pendapatan usaha Rp 815,6 miliar pada kuartal pertama tahun 2026, tumbuh 2,4 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Direktur Utama RMKE, Vincent Saputra, pertumbuhan ini didorong oleh performa solid dari segmen penjualan dan jasa batubara yang terakselerasi pasca beroperasinya jalur pengangkutan (hauling road) milik Grup sejak tahun 2025. Dengan infrastruktur yang semakin lengkap, RMKE optimistis dapat terus meningkatkan volume trading dan mengoptimalkan margin saat harga pasar mendukung.
“Kenaikan pendapatan yang signifikan pada kuartal pertama ini merupakan buah dari strategi integrasi hulu-hilir yang kami jalankan. Sebagian besar pertumbuhan segmen penjualan berasal dari pembeli strategis global,” ungkap Vincent dalam siaran pers yang diterima PETROMINER, Kamis (30/4).
Penjualan Batubara
Di segmen penjualan batubara, RMKE membukukan volume penjualan luar biasa yang mencapai 1,0 juta ton hingga Maret 2026, atau meningkat 3,8 kali lipat secara tahunan. Peningkatan volume ini dibarengi dengan kenaikan rata-rata harga penjualan batubara sebesar 5,6 persen menjadi Rp 611.396 per ton.
Strategi dalam memperluas basis pelanggan, termasuk pembelian batubara dari pelanggan baru yang terhubung langsung dengan fasilitas RMKE, menjadi motor penggerak utama. Langkah strategis ini memberikan fleksibilitas bagi RMKE untuk meningkatkan volume trading di tengah tren kenaikan harga batubara dengan memanfaatkan infrastruktur logistik yang terintegrasi.
Segmen jasa pengangkutan batubara melalui hauling road menjadi primadona baru dengan lonjakan volume sebesar 5,4 kali lipat menjadi 470,2 ribu ton pada Kuartal I-2026, dibandingkan 86,4 ribu ton pada Kuartal I-2025. Keberhasilan ini semakin krusial mengingat adanya regulasi Pemerintah Daerah yang melarang penggunaan jalan umum untuk angkutan batubara efektif per 1 Januari 2026. Tentunya, ini menjadikan hauling road RMKE sebagai infrastruktur vital di wilayah tersebut.
Sedangkan volume muatan tongkang mengalami penurunan musiman sebesar 14,4 persen menjadi 1,7 juta ton akibat faktor cuaca ekstrem, periode administrasi RKAB di awal tahun, serta banyaknya hari libur nasional. Namun, dampak tersebut berhasil terkompensasi dengan sangat baik oleh kontribusi pendapatan dari segmen hauling road yang tumbuh pesat.
Laba Bersih
Sejalan dengan kenaikan pendapatan, RMKE membukukan laba kotor Rp 101,2 miliar, tumbuh 19,6 persen. Kontribusi laba kotor didominasi oleh segmen jasa sebesar 79,0 persen dan segmen penjualan sebesar 21,0 persen.
Alhasil, perusahaan ini sukses mencatatkan laba bersih Rp 55,7 miliar, atau naik 8,2 pesen. Dari sisi neraca, RMKE menunjukkan pengelolaan keuangan yang sangat sehat dengan rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) di level 0,54 kali.
Direktur Keuangan RMKE, Edwin, menyebutkan bahwa segmen jasa pengangkutan via hauling road telah membuktikan perannya sebagai kontributor utama dalam menjaga stabilitas kinerja saat periode low season di awal tahun.
“Dengan berlakunya larangan penggunaan jalan umum, hauling road kami kini menjadi aset strategis. Kami yakin dengan pondasi yang kuat dan cuaca yang mulai membaik, RMKE berada di jalur yang tepat untuk merealisasikan target tahun ini dan menangkap peluang pasar jangka panjang,” ujar Edwin.







