, ,

Harita Nickel Siap Penuhi Kebutuhan 1,5 Juta Baterai Kendaraan Listrik

Posted by

Nusa Dua, Petrominer – Harita Nickel, melalui PT Halmahera Persada Lygend (HPL), berhasil memanfaatkan nikel limonit (kadar rendah) yang diolah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama baterai kendaraan listrik. Beroperasi sejak pertengahan tahun 2021 lalu di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, HPL menjadi perusahaan pionir di Indonesia dalam memproduksi MHP.

Head of External Relations Harita Nickel, Stevi Thomas, menjelaskan bahwa HPL berhasil memproduksi MHP dengan memanfaatkan nikel limonit (kadar rendah) melalui teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL). Sebelumnya, nikel limonit tidak dimanfaatkan karena kadarnya sangat rendah (<1,3%) dan tergolong jenis batuan penutup (overburden).

“Namun, jenis tersebut kini memiliki nilai strategis dan menjadi material yang banyak dicari produsen baterai kendaraan listrik dunia,” kata Stevi di sela-sela partisipasi Harita Nickel pada eksibisi dalam rangkaian acara Environment Deputies Meeting and Climate Sustainability Working Group (3rd G20 EDM-CSWG), Rabu (31/8).

Menurutnya, partisipasi Harita Nickel pada acara ini untuk mengenalkan keberhasilan Indonesia di mata dunia sebagai produsen MHP. Keberhasilan HPL dalam memproduksi MHP sekaligus turut mendukung dalam penanggulangan perubahan iklim, yakni mendorong penurunan emisi dari penggunaan kendaraan bermotor bahan bakar fosil demi mencapai Net Zero Emissions dan energi bersih di tahun 2060 atau lebih awal.

Saat ini, HPL memiliki kapasitas produksi mencapai 365 ribu WMT/per tahun. Dengan kapasitas produksi sebesar ini, Harita Nickel mampu memenuhi kebutuhan 1,5 juta baterai kendaraan listrik pada tahun 2022 dan lebih dari 3 juta kendaraan pada tahun 2040.

“Di saat Pemerintah bercita-cita menjadi pemain utama dunia dalam industri baterai kendaraan listrik, Harita Nickel tampil menjadi yang terdepan. Harita Nickel menjadi pionir tidak hanya dalam pengolahan dan pemurnian bijih nikel kadar rendah melalui teknologi HPAL, tapi juga membawa Indonesia satu langkah ke depan sebagai produsen bahan baku baterai kendaraan listrik yang diperhitungkan dunia,” ungkap Stevi.

Selain upaya optimal dalam konservasi mineral nikel limonit, kehadiran teknologi HPAL juga mampu memberi manfaat lain dalam hal penyediaan ribuan tenaga kerja khususnya lokal di Pulau Obi, Halmahera Selatan. Pabrik pengolahan tersebut juga memberi kontribusi ekonomi lainnya dalam bentuk pendapatan negara, pembangunan daerah di wilayah operasional, serta peningkatan dan perluasan jangkauan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.

Penerapan teknologi tersebut menjadi salah satu wujud komitmen Harita Nickel terhadap praktik operasional yang ramah lingkungan. Begitu juga komitmen terhadap keberlanjutan menjadi strategi perusahaan melalui tiga pilar utama, yakni perubahan iklim, hak asasi manusia, dan tata kelola.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *