, ,

Fokus pada Efisiensi, Harita Nickel Raup Pendapatan Rp 17,1 Triliun

Posted by

Jakarta, Petrominer – PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) mencatatkan pendapatan sebesar Rp 17,1 triliun pada semester I tahun 2026 ini. Kinerja tersebut didukung oleh disiplin operasional, optimalisasi kapasitas produksi, serta pengelolaan biaya yang dilakukan secara berkelanjutan di seluruh lini usaha.

Direktur Keuangan Harita Nickel, Suparsin Darmo Liwan, mengatakan di tengah dinamika industri nikel global, Harita Nickel tetap menjaga fokus pada efisiensi operasional, optimalisasi rantai nilai terintegrasi, dan penguatan praktik usaha yang bertanggung jawab. Langkah ini diambil guna menjaga keandalan produksi dan mendukung pertumbuhan jangka panjang.

“Sepanjang semester pertama tahun ini, industri nikel global masih mengalami berbagai tantangan. Dalam kondisi tersebut, kami tetap berfokus menjaga operasional yang efisien, andal, dan terukur di seluruh rantai nilai terintegrasi. Optimalisasi kapasitas produksi mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja penjualan di sejumlah segmen,” ujar Suparsin dalam keterangan resmi yang diterima PETROMINER, Jum’at (31/7).

Dari sisi operasional, kinerja penjualan bijih nikel meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut didukung oleh mulai beroperasinya fasilitas tambang baru, PT Gane Tambang Sentosa (GTS), sejak kuartal ketiga 2025 serta bertambahnya lini produksi fasilitas pirometalurgi, PT Karunia Permai Sentosa (KPS). Penguatan kapasitas ini turut mendukung ketersediaan bahan baku dan integrasi operasi Harita Nickel.

Pada segmen pirometalurgi, penjualan feronikel meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama didorong oleh output yang lebih tinggi dari tambahan lini produksi fasilitas RKEF milik KPS. Sementara itu, pada segmen hidrometalurgi, penjualan produk High Pressure Acid Leach (HPAL) dipengaruhi oleh jadwal pengiriman.

Dekarbonisasi

Lebih lanjut, Suparsin menyampaikan bahwa Harita Nickel juga terus menjalankan berbagai inisiatif untuk mendukung praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan memenuhi standar pasar global. Perusahaan ini melanjutkan proses Corrective Action Plan sebagai bagian dari evaluasi berdasarkan standar The Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA).

Salah satu inisiatif tersebut adalah pemanfaatan waste heat recovery, yaitu teknologi yang memanfaatkan panas sisa dari proses produksi di fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk menghasilkan listrik. Dengan begitu, energi yang sebelumnya terbuang dapat dimanfaatkan kembali dan mengurangi kebutuhan energi dari sumber lain. Pembangkit listrik berbasis pemanfaatan panas buang ini dirancang memiliki kapasitas hingga 50 MW dan ditargetkan rampung pada kuartal keempat 2026.

Di sisi pengembangan energi terbarukan, proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 40 MW telah mencapai progres konstruksi sebesar 99 persen. Harita Nickel juga terus mempersiapkan transisi penggunaan B50 sebagai bagian dari dukungan terhadap program dekarbonisasi pemerintah

“Ke depan, kami akan terus menjaga disiplin operasional, mengoptimalkan pemanfaatan kapasitas yang telah tersedia, serta terus menjalankan praktik usaha yang bertanggung jawab di seluruh rantai nilai. Langkah ini menjadi fondasi kami untuk menjaga keberlanjutan usaha sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Suparsin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *