Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Bambang Gatot Ariyono. (Petrominer/Fachry Latief)

Jakarta, Petrominer – Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus melakukan optimalisasi di tengah dinamika harga komoditas pertambangan. Upaya ini telah membuahkan hasil cukup memuaskan jelang akhir tahun 2019.

Hingga kuartal III 2019, Ditjen Minerba berhasil mencatatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 29,74 triliun. Angka ini sudah menyentuh 68,76 persen dari target tahun ini yang dipatok sebesar Rp 43,26 triliun.

“Kita terus optimalkan capaian PNBP dari sektor Minerba, agar dapat menyokong agenda pembangunan bangsa dan peningkatan kesejahteraan rakyat” ujar Dirjen Minerba Bambang Gatot Ariyono, Rabu (20/11).

Tahun ini, jelas Bambang, harga komoditas batubara memang secara global mengalami tekanan. Sementara sektor tambang batubara menyumbang sekitar 80 persen kontribusi PNBP dari sektor pertambangan. Hal ini membuat Pemerintah terus melakukan berbagai upaya agar capaian tahun ini bisa optimal demi kepentingan negara.

Dia mengakui bahwa tidak ada satu pihakpun yang bisa mengendalikan harga. Kendati demikian, lewat penataan Ijin Usaha Pertambangan, pengendalian produksi dan program digitalisasi, Ditjen Minerba berharap PNBP sektor mineral dan batubara bisa tetap optimal.

Bambang berharap, dalam situasi saat ini, para pelaku usaha semakin efisien dalam operasi mereka tanpa melupakan kaidah pertambangan yang baik dan benar. Terlebih tak mengabaikan aspek tanggungjawab reklamasi lahan tambang dan pengembangan komunitas sosial lewat Program Pengembangan Masyarakat perusahaan.

Tahun lalu, Ditjen Minerba mampu memberi kontribusi hingga Rp 50 triliun bagi negara. Angka itu sekitar 155 persen dari target yang ditetapkan. Situasi harga tahun lalu dinilai cukup membantu kinerja Ditjen Minerba.

“Dengan menghadapi dinamika pasar saat ini, yang cenderung mengalami tekanan, kami tidak akan berhenti melakukan optimalisasi,” tegasnya.

Tahun ini, salah satu asumsi yang dipakai dalam menetapkan target adalah Harga Batubara Acuan (HBA) sebesar US$ 80 per ton dengan kurs rupiah senilai Rp 15.000 per US$ dan produksi batubara sekitar 530 juta ton. Hingga akhir September 2019, HBA turun jauh menjadi sebesar US$ 65,79 per ton dan kurs juga berubah.

Meski ada tren penurunan harga, Ditjen Minerba disebut tak akan mendorong peningkatan produksi demi kepentingan konservasi. Produksi batubara tetap akan disesuaikan dengan ketentuan yang diajukan oleh perusahaan tambang mineral dan batubara.

“Konservasi ini penting agar aspek pengelolaan lingkungan pertambangan tetap terjaga” ujar Bambang.

Dia pun mengaku akan terus mengupayakan optimalisasi setidaknya mencapai 90 persen dari target PNBP. Termasuk diantaranya dengan membenahi layanan pelaporan online yang kini terus dikembangkan di lingkungan Ditjen Minerba seperti e-PNBP.

Lewat aplikasi e-PNBP, Bambang mengaku pihaknya dapat melakukan kontrol lebih baik terhadap perusahaan yang memiliki kewajiban terhadap negara. Selain itu dengan penataan perizinan yang semakin rapi, diharapkan optimalisasi bisa terus dilakukan.

“Sebagai sektor penting dan salah satu penyumbang PNBP terbesar pada negara, kami berharap agenda pembangunan dapat terus berlanjut demi kepentigan masyarakat luas,” paparnya. (Humas Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here