Jakarta, Petrominer – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gelombang tinggi yang menerjang wilayah Banten dan Lampung pada Sabtu malam (22/12) malam adalah tsunami kecil. Kejadian tersebut disebabkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda.

Dalam jumpa pers, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa berdasarkan ciri gelombangnya, tsunami yang terjadi kali ini mirip dengan yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah. Periodenya (periode gelombang) pendek-pendek.

BMKG menduga bahwa tsunami dengan ketinggian tertinggi 0,9 meter ini disebabkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan data, Gunung Anak Krakatau bererupsi hingga empat kali hari Sabtu, terakhir terjadi pukul 21.03 WIB.

“Erupsi gunung api itu diduga menyebabkan guguran material yang jatuh ke lautan dan akhirnya mengakibatkan gelombang tinggi,” jelas Dwikorita.

Hal senada juga disampaikan Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rudy Suhendar. Malahan, Rudy menjalaskan bahwa Gunung Anak Krakatau telah bereupsi sejak 29 Juni 2018 lalu.

“Erupsi terbesar pada Sabtu kemarin, gunung api tersebut melontarkan material hingga ketinggian 1.500 meter,” jelasnya.

Rudy mengakui memang ada kemungkinan material erupsi Anak Krakatau runtuh ke lautan dan menyebabkan gelombang. Namun dia menduga kemungkinannya kecil sehingga masih harus membuktikan apakah memang ada longsoran.

Kronologi

Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menyebutkan bahwa penanganan darurat dampak gelombang tinggi yang menerjang pantai Anyer di Kabupaten Pandeglang dan Lampung Selatan terus dilakukan.

“Kejadian gelombang tinggi yang menerjang permukiman dan hotel di pantai berlangsung secara tiba-tiba sehingga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan,” ujar Sutopo dalam siaran pers, Minggu (23/12).

Menurutnya, gelombang pasang tinggi berlangsung pada Sabtu pukul 21.30 WIB.

Data sementara dampak gelombang pasang yang dihimbun BPBD pada Minggu (23/12) pukul 00.30 WIB, terdapat 3 orang meninggal dunia dan 21 orang luka-luka di Kabupaten Pandeglang dan Lampung Selatan.

Di Lampung Selatan tercatat 3 orang meninggal dunia, 11 orang luka-luka dan dirawat di rumah sakit, dan lebih dari 30 unit rumah rusak berat. Di Kabupaten Pandenglang 10 orang luka-luka.

Pendataan masih dilakukan. Kondisi malam dan gelap menyebabkan belum semua dampak kerusakan diselesaikan. BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, SKPD, relawan dan masyarakat melakukan penanganan. Bantuan disalurkan kepada masyarakat.

Kondisi pasang laut yang menerjang pantai sebagian sudah surut. Genangan dan material sampah masih banyak di permukiman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here