PLTP Kamojang Unit 1-3, yang dioperasikan oleh PT Indonesia Power

Jakarta, Petrominer – Perjuangan Serikat Pekerja PLN Group menolak privatisasi mendapat dukungan dari Public Services International (PSI). Federasi serikat pekerja global yang beranggotakan lebih dari 700 serikat pekerja di 154 negara itu telah mengirimkan surat secara langsung kepada Presiden Joko Widodo.

Surat dari federasi yang mewakili 30 juta pekerja itu berupa penolakan atas rencana Kementerian BUMN membentuk holding company untuk pembangkit listrik panasbumi (PLTP) dan pembangkit listrik tenaga uap-batubara (PLTU), di mana khusus panasbumi akan terpisah dari induk perusahaan utama yaitu PLN. Setelah membentuk induk perusahaan yang terpisah, aset dan saham tersebut rencananya juga akan dijual melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

Karena itulah, dalam surat yang ditanda tangani Sekretaris Jenderal PSI, Rosa Pavanelli, menyebutkan bahwa PSI dan afiliasinya di sektor ketenagalistrikan Indonesia yaitu Serikat Pekerja PT PLN Persero (SP PLN Persero), Persatuan Pegawai PT Indonesia Power (PP IP), dan Serikat Pekerja PT Pembangkitan Jawa Bali (SP PJB), dengan tegas menolak usaha untuk memprivatisasi, melalui merger dari beberapa BUMN dan anak perusahaannya menjadi satu perusahaan holding.

“Bapak Presiden yang terhormat, Mahkamah Konstitusi telah memutuskan bahwa usaha apapun untuk memprivatisasi listrik, dalam bentuk apapun, bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945. Mahkaman Konstitusi menegaskan bahwa tenaga listrik adalah sektor produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak,” tulis Rosa dalam suratnya kepada Presiden Jokowi yang diperoleh PETROMINER, Rabu (15/9).

Oleh karena itu, lanjutnya, sebagaimana dimandatkan oleh Pasal 33 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945, listrik harus di bawah kuasa negara. Hal ini terkait dengan Putusan MK perkara No. 001-021-022/PUU-I/2003, Permohonan Judicial Review UU NO. 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan pada halaman 334. Putusan MK perkara No. 111/PUU-XIII/2015, Permohonan Judicial Review UU NO. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, halaman 103.

Surat itu juga menyebutkan, privatisasi layanan energi justru akan melumpuhkan akses universal sekaligus menghambat transisi penting menuju pembangkitan listrik rendah karbon. Hal ini disyaratkan oleh Kesepakatan Iklim Paris, dimana Indonesia berikrar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada tahun 2030 dengan meningkatkan penggunaan energi terbarukan sampai dengan 23 persen dari konsumsi total nasional pada tahun 2025.

Alasannya, menurut Rosa, begitu listrik terprivatisasi, prioritas swasta adalah mengelola sistem energi untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Para operator swasta akan menaikkan harga atau meminta subsidi publik yang lebih tinggi. Mereka akan mencari alasan untuk tidak menyediakan layanan kepada kaum miskin atau penduduk di wilayah terpencil.

“Keuntungan yang mereka hasilkan akan dibawa keluar dari Indonesia. Begitu juga perusahaan- perusahaan yang membeli sahamnya akan menggunakan kekuasaan mereka untuk mempengaruhi sistem politik Indonesia, agar hukum dan peraturan dibuat dan diterapkan untuk kepentingan mereka,” tegasnya.

Berdasarkan data PSI, banyak negara mengalami kerugian dari privatisasi dan sedang berusaha untuk mengambil kembali kendali atas berbagai layanan publik ini. Sektor swasta yang menjanjikan investasi baru, efisiensi yang lebih baik dan harga listrik yang lebih rendah secara umum gagal untuk mewujudkannya.

PSI juga mengingatkan bahwa Indonesia sebagaimana dimandatkan oleh Undang-undang Dasar berkewajiban untuk mempertahankan kepemilikan dan kontrol atas energi listrik di tangan publik. PLN adalah badan usaha milik negara yang memiliki kewenangan untuk menyediakan listrik bagi seluruh rakyat Indonesia. PLN sudah membuktikan, berkali-kali, dengan pengalaman panjangnya dalam mengelola dan mengoperasikan aset listrik sehingga PT PLN mampu menyediakan listrik yang handal dan terjangkau bagi seluruh rakyat dan usaha di Indonesia.

“Dengan rasa hormat yang mendalam kami menuliskan surat ini. Kami bersedia bertemu dengan siapa saja yang ditugaskan oleh Bapak Presiden untuk berbagi pengalaman kami dengan privatisasi yang problematis selama lebih dari 40 tahun. Serikat di sektor energi di Indonesia siap sedia mendukung strategi energi nasional yang akan bisa memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia dan memenuhi komitmen negara terhadap Kesepakatan Iklim Paris,” tulis Rosa.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here