Bandung, Petrominer — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan investasi di sektor hulu migas mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu. Penurunan itu terjadi karena melemahnya harga minyak dunia.

Selama semester I 2016, SKK Migas hanya mencatat investasi baru di sektor hulu migas sebesar US$ 5,56 miliar. Dengan rincian, kegiatan eksplorasi US$ 367 juta, pengembangan US$ 845 juta, produksi US$ 3,922 juta, dan admistrasi US$ 521 juta. Angka tersebut turun sampai 27 persen dibandingkan investasi pada periode yang sama tahun 2015 lalu, yang mencapai US$ 7,74 miliar.

“Jumlah investasi pada tengah tahun pertama 2016 ini berada di bawah tahun lalu, karena penurunan harga minyak dunia,” ujar Kepala Bagian Humas SKK Migas, Taslim Z Yunus , Selasa malam (19/7).

Menurut Taslim, realisasi investasi sektor hulu migas selama enam bulan pertama 2016 itu masih jauh dari target investasi migas tahun 2016, yang dipatok sebesar US$ 17,21 miliar.

Kondisi serupa juga terjadi pada penerimaan negara dari sektor hulu migas. Peneriman yang diperoleh masih rendah, meski target lifting migas telah tercapai.

Selama Semester I 2016, penerimaan negara dari sektor hulu migas mencapai US$ 4,23 miliar. Angka ini sangat jauh dibandingkan target dalam rencana kerja dan anggaran ‎2016 yang sebesar US$ 7,07 miliar. Artinya, realisasi penerimaan negara dari sektor hulu migas baru mencapai 59,8 persen.

“Meski lifting migas pada semester I telah mencapai target Rencana Kerja anggaran 2016, tetapi penerimaan ‎negara dari sektor hulu migas belum mencapai target,” paparnya.

Kinerja tersebut seiring dengan penurunan harga minyak dunia yang berimbas pada harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP). Dalam rencana kerja anggaran, ICP tercantum US$ 40 per barel. Namun, realisasi rata-rata ICP hanya US$ 36,16 per barel atau baru mencapai 90,4 persen dari target.

“Jadi masalah capaian ICP, kita target US$ 40 per barel. Sementara capaian hanya US$ 36,16 per barel. Jadi penerimaan negara lebih kecil dari US$ 7,07 miliar‎,” tuturnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here