Proyek pengembangan lapangan gas Randugunting oleh Pertamina Hulu Energi (PHE) Randugunting di Jawa Tengah, yang berpotensi memberikan tambahan produksi gas 5 MMSCFD. Salah satu proyek hulu migas yang onstream pada Kuartal I-2020.

Jakarta, Petrominer – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) merevisi target produksi minyak dan gas bumi tahun 2020 karena terdampak pandemi Covid-19 dan penurunan harga minyak mentah dunia. Meluasnya wabah virus Corona ini juga kian membuat sulit upaya pencapaian target produksi.

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, menyebutkan bahwa pihaknya telah menurunkan outlook produksi minyak tahun 2020 dari 735 ribu barrel oil per day (BPOD) menjadi 725 ribu BPOD dalam program Filling The Gap (FTG). Sementara produksi gas bumi diperkirakan turun dari 5.959 juta standard cubic feet per day (MMSCFD) menjadi 5.727 MMSCFD (program FTG).

“Target produksi dan lifting kian menjadi sulit untuk dicapai karena terdampak Covid-19 dan penurunan harga minyak,” ujar Dwi ketika memaparkan kinerja SKK Migas Kuartal I-2020 yang dilakukan secara daring (online), Kamis sore (16/4).

Dia mengatakan bahwa pengiriman minyak dan penyerapan gas oleh para pembeli berkurang akibat menurunnya permintaan. Hal ini terlihat dari realisasi lifting kuartal I-2020 yang tidak mencapai target sesuai APBN 2020.

Pada kuartal I 2020, realisasi rata-rata lifting minyak bumi sebesar 701,6 ribu BOPD. Angka ini sekitar 92,9 persen dari target APBN sebesar 755 ribu BOPD. Sementara produksi minyak mencapai 728,8 ribu BOPD.

Untuk gas bumi, realisasi lifting sebesar 5.866 MMSCFD atau 87,9 persen dari target APBN yang sebesar 6.670 MMSCFD. Sementara produksi gas sebesar 7.118 MMSCFD.

Realisasi produksi minyak dan gas bumi selama Kuartal I-2020. (SKK Migas)

Aktivitas Operasional Terdampak

Lebih lanjut, Dwi menjelaskan bahwa rendahnya harga minyak sejak Pebruari 2020 lalu yang kemudian dibarengi oleh penyebaran Covid-19 sangat berdampak bagi kegiatan hulu migas, baik di operasional, pelaksanaan proyek maupun penyerapan gas.

Kegiatan operasional hulu migas sangat terpengaruh oleh kebijakan Pemerintah dalam pencegahan penyebaran Covid-19. Misalnya, transportasi material dan inspeksi kinerja peralatan atau fasilitas menjadi lebih lama. Produktivitas engineering dan konstruksi menjadi lebih rendah karena pergerakan tenaga kerja yang terbatas.

Selain itu, persetujuan pengurusan perizinan juga memakan waktu yang lebih lama. Akibatnya, semua kegiatan harus menyesuaikan kondisi yang dihadapi.

“Sebagian aktivitas operasional seperti planned shutdown, pengeboran (drilling), kerja ulang (work over) dan perawatan sumur (well service) mengalami penundaan. Sejumlah proyek juga mengalami pelambatan dibandingkan sebelumnya. Contohnya, Proyek Marakes yang mundur dari September 2020 ke tahun 2021 karena pengadaan barang dan tenaga penunjang dari Italia oleh Eni terhambat,” ungkap Dwi.

Meski begitu, SKK Migas terus berupaya mengatasi hambatan operasional dan kelancaran proyek hulu migas. Di antaranya adalah berkoordinasi dengan para gubernur di wilayah kerja migas, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup serta Kementerian Hukum dan HAM untuk membantu melancarkan mobilisasi pekerja.

SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) melakukan penyesuaian sistem kerja dan membahas ulang rencana kerja tahun 2020 untuk menetapkan best effort yang dilakukan. SKK Migas juga tengah mengusulkan adanya stimulus atau insentif bagi para KKKS kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif.

“Kita mengajukan pada menteri usulan pemberian paket stimulus pada KKKS juga meminta KKKS negosiasi ulang kontrak-kontrak dalam rangka efisien biaya,” ujar Dwi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here