Penandatanganan MoU tentang kegiatan rehabilitasi mangrove sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan atau Corporate Social Responsibility (CSR) di Nusa Dua, Bali, Kamis (17/11).

Nusa Dua, Petrominer PT Trimegah Bangun Persada (TBP), unit bisnis Harita Nickel, mendukung kerjasama kegiatan rehabilitasi mangrove sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Dukungan tersebut diwujudkan dengan ikut menandatangani Nota Kesepahaman Bersama (MoU) terkait program tersebut di Nusa Dua, Bali, Kamis (17/11).

Kerja sama ini diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama TBP, PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT.Bukit Asam, Tbk, dan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Dalam MoU tersebut, semua pihak bersama-sama menyepakati dan mendukung kerja sama dalam meningkatkan luasan, kualitas rehabilitasi mangrove dan pemberdayaan masyarakat mendukung pemenuhan target nasional 600.000ha (Perpres 120/2020).

Direktur Utama TBP, Donald J Hermanus, menyatakan terima kasih telah dilibatkan dalam kerja sama ini sebagai bagian dari program rehabilitasi mangrove nasional dan aksi iklim. Apalagi, program ini sejalan dengan visi perusahaan yang berupaya untuk meningkatkan dampak positif terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasional dengan melaksanakan kegiatan tanggung jawab sosial, serta menghormati tradisi budaya masyarakat sekitar dan menjaga kelestarian lingkungan.

“TBP berkomitmen untuk selalu berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Salah satu kegiatan pelestarian lingkungan yang dilakukan perusahaan adalah Program Rehabilitasi Mangrove. Sepanjang tahun 2021 hingga 2022, total luas lahan mangrove yang telah direhabilitasi TBP mencapai 22,49 hektare yang tersebar di Pulau Obi dan Pulau Bacan, Halmahera Selatan,” ungkap Donald.

Selain program penanaman mangrove, TBP juga memiliki kegiatan-kegiatan lingkungan yang mendukung kelestarian ekosistem blue carbon seperti pembuatan terumbu karang buatan dan padang lamun. TBP memanfaatkan sisa hasil pengolahan berupa slag nickel dan FABA (fly ash bottom ash) menjadi kubus berongga untuk dijadikan karang buatan dalam rangka melestarikan terumbu karang.

Sebuah studi menegaskan pentingnya algae dan coral reefs dalam pengelolaan perubahan iklim.  Organisme ini diklaim mampu menyerap karbon tiga kali lebih baik dari pohon. Keberhasilan pembuatan terumbu karang buatan ini diharapkan bisa meningkatkan nilai ekonomi sekaligus peningkatan kondisi lingkungan sekitar area penempatan terumbu karang buatan.

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Nani Hendiarti, mengatakan Indonesia memiliki potensi yang besar terkait carbon credit khususnya pada area pesisir. Hutan mangrove di Indonesia seluas 3,36 juta ha atau sama dengan 20 persen mangrove dunia, di mana mangrove merupakan bagian dari ekosistem blue carbon.

“Kami rencanakan seluas 600.000 ha area direhabilitasi sampai dengan tahun 2024 merujuk pada peta mangrove nasional termasuk di dalamnya ada restorasi pada ekosistem blue carbon,” ungkap Nani.

Dia menegaskan pentingnya peran CSR dalam pengembangan komunitas khususnya komunitas masyarakat pesisir sebagai bagian dari program pengembangan mangrove yang berkelanjutan. Capaian Rehabilitasi Mangrove di 32 Provinsi tahun 2021 mencapai 34.912 ha dan target luasan rehabilitasi mangrove tahun 2022 sebesar 181.500 ha (berdasarkan Laporan Pelaksanaan Tugas BRGM Triwulan I dan Triwulan II Tahun 2022).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here