IPA Convex Chairperson, Krishna Ismaputra (kiri) dan IPA Executive Director, Marjolijn Wajong (kanan).

Jakarta, Petrominer – Transisi Energi merupakan hal yang tak bisa dielakkan. Meski begitu, energi fosil seperti minyak dan gas bumi (migas) masih memiliki peran penting sebelum energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai sumber energi yang lebih bersih dapat tersedia dan diakses dengan baik oleh semua orang.

Pemerintah pun telah menegaskan pentingnya gas bumi sebagai sumber energi di masa transisi. Para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas pun terus didorong untuk mengoptimalkan kapasitas produksinya. Ini sejalan dengan target produksi migas jangka panjang, yakni 1 juta BOPD (barel minyak per hari) dan 12 BSCFD (miliar standar kaki kubik per hari) gas pada tahun 2030 mendatang.

Bagi KKKS, seperti disampaikan Direktur Executive Indonesia Petroleum Association (IPA), Marjolijn Wajong, ini menjadi tantangan baru (new challenge). Pasalnya, perusahaan migas kini dituntut untuk mampu mengelola energi di zaman transisi serta melewatinya dengan baik dan benar.

“Sekarang kita punya dua challenge. Dulu satu challenge, bagaimana naikkan produksi. Sekarang kedua challenge itu tidak bisa lepas. Yaitu menaikan produksi dan kedua bagaimana kita mengelola migas dengan lebih bersih. Bukan hanya gas saja, tetapi bagaimana menurunkan emisi,” ungkap Wajong dalam pertemuan dengan beberapa redaktur media nasional, Selasa (14/6).

Meski begitu, dia menegaskan bahwa membuat energi bersih bukanlah kendala maupun halangan, namun lebih sebagai tantangan. Kenapa? Karena ini merupakan hal yang baru, sehingga belum bisa dikatakan sebagai penghalang.

“Kita hanya perlu membuat aturan-aturan baru. Aturan-aturan baru itu perlu, karena ini merupakan sesuatu hal yang baru bahkan di seluruh dunia, apalagi untuk kita, mungkin orang lain sudah ada yang memulai lebih dulu. Nah, jadi harus ada aturan yang tepat, sehingga ini bisa dilakukan dengan efisien,” ujar Wajong yang akrab disapa Meity.

Dia pun menjelaskan apa itu efisien dalam pengelolaan migas. Metode yang paling sering dibicarakan adalah dengan cara menginjeksikan kembali emisi dari proses produksi.

Siapa yang bisa menginjeksikan? Menurut Meity, sudah pasti pemain migas, karena mereka tahu struktur geologinya. Tidak hanya itu, perusahaan-perusahaan migas ini juga sudah biasa menginjeksikan sesuatu ke dalam perut bumi, bisa gas maupun water, agar lebih efisien.

“Jadi untuk saat ini, bagaimana kita membuat peraturan agar pemain-pemain migas ini bisa melakukan pengurangan emisi dengan cara yang baik dan efisien dan terus terang dalam framework kontrak yang sekarang ada. Nah supaya ini simplifikasinya ada, bagaimana peraturan itu mengizinkan usaha ini dilakukan dalam framework kontrak yang ada,” paparnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Krishna Ismaputra dari ENI Indonesia. Menurut Krishna, tantangannya adalah di satu sisi harus menaikkan target produksi, artinya lebih banyak migas yang akan diproduksi. Namun di sisi lain, karena sudah meratifikasi Paris Agreement, Indonesia punya target menurunkan emisinya sebanyak 39 persen usaha sendiri tahun 2050 dan 41 persen jika ada keterlibatan dari luar.

“Kalau kita berproduksi makin banyak, tentunya emisi akan lebih besar, namun kalau tidak maka bagaimana mau memenuhi kebutuhan dalam negeri? Di sisi lain kita juga harus mengurangi emisi untuk dapat membantu upaya Pemerintah mencapai Net Zero Emissions di tahun 2060. Jadi challengenya kita ada di bagian itu. Migas dalam hal ini melakukan berbagai cara,” ujar Krishna yang tahun ini dipercaya sebagai IPA Convex Chairperson.

Dia menegaskan bahwa porsi industri hulu migas dalam kontribusi menghasilkan emisi tidaklah besar dibandingkan kontributor yang lain, salah satunya pembangkit listrik. Meski begitu, industri hulu migas dituntut untuk melakukan beberapa penurunan emisi, misalnya beroperasi lebih efisien dengan menggunakan peralatan yang lebih efisien.

“Kita di oil and gas juga menggunakan energi yang dihasilkan untuk dipakai dalam membangkitkan energi sendiri. Ada kompresor dan sebagainya. Kompresor itu dinyalakan menggunakan oil and gas. Kita menggunakannya lebih sedikit, otomatis kalau kita menggunakannya lebih sedikit emisinya akan lebih sedikit, itu yang dilakukan oleh perusahaan migas,” ungkap Krishna.

Disamping itu, menurutnya, banyak juga perusahaan migas yang sudah memanfaatkan energi terbarukan, misalnya untuk penerangan pakai solar panel (PLTS). Hal itu dilakukan agar emisi yang dikeluarkan dari operasi hulu migas berkurang.

“Kemudian bagaimana kalau emisinya itu bukan dari hasil pembakaran dan sebagainya? Untuk menanggulangi itulah, maka kita dari industri hulu migas juga mulai ikut mengembangkan bersama Pemerintah pemanfatan teknologi CCS & CCUS. Jadi emisi karbon itu ditangkap, kemudian diinjeksikan ke reservoar yang kosong,” ujar Krishna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here