Jakarta, Petrominer – Sektor industri kimia dan otomotif menjadi bagian dari fokus Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk ikut dipacu sebagai prioritas pengembangan sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0. Pasalnya, industri otomotif akan menjadi penghela industri baja dan plastik, sebagai bagian dari industri petrokimia.
Meski begitu, Kemenperin juga tetap menggenjot beberapa sektor lainnya agar mampu meningkatkan ekspor. Di antaranya adalah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, serta industri elektronika.
Ketika menyampaikan evaluasi kinerja industri tahun 2018 dan proyeksi pertumbuhan industri 2019 pekan lalu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa sejumlah sektor industri tersebut masih memiliki kapasitas berlebih untuk dikembangkan, baik untuk mengisi pasar dalam negeri maupun untuk diekspor.
Tahun 2019, Kemenperin memproyeksikan pertumbuhan industri non-migas 5,4 persen. Adapun kontribusinya diharapkan berasal dari sejumlah sektor yang diproyeksikan bertumbuh tinggi, antara lain industri makanan dan minuman (9,86%), permesinan (7%), tekstil dan pakaian jadi (5,61%), kulit dan barang dari kulit, serta alas kaki (5,40%).
“Selain itu, kami juga memacu sektor kimia, dengan menggenjot produksi olefin dari methanol di Kawasan industri Teluk Bintuni, Papua Barat, dengan nilai investasi US$ 2,6 miliar yang ditargetkan dapat mulai berproduksi tahun 2021 dengan kapasitas 2 juta ton per tahun,” papar Airlangga.
Sementara pada klaster Cilegon akan menghasilkan naphtha cracker dari dua perusahaan, yakni Chandra Asri Petrochemical dan Lotte Chemical dengan total kapasitas mencapai 4,5 juta ton per tahun, yang akan mulai beroperasi secara bertahap tahun 2019 hingga 2023.
“Jadi dari sektor industri petrokimia saja diharapkan investasi akan mendekati US$ 9 miliar, dengan tambahan tenaga kerja enam ribu orang,” jelasnya.
Airlangga juga menyampaikan bahwa Pemerintah tengah merancang kebijakan pemberian insentif fiskal yang dapat memicu industri lebih giat melakukan ekspor. Selain itu perlu dilakukan harmonisasi tarif dan revisi PPnBM untuk menggairahkan industri otomotif di Indonesia dalam memproduksi kendaraan sedan. Ini dilakukan dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar mancanegara, seperti ke Australia yang pasarnya mencapai 1,3 juta unit kendaraan bermotor.
“Upaya strategis itu salah satunya adalah mendongkrak produktivitas kendaraan sedan yang disesuaikan permintaan pasar ekspor saat ini. Sebab, produksi industri otomotif di Indonesia masih didominasi jenis SUV dan MPV. Sementara, jumlah pengapalan untuk kendaraan roda empat produksi Indonesia ke mancanegara saat ini mencapai 200 ribu unit per tahun,” jelasnya.
Untuk dapat bersaing dengan ekspor otomotif Thailand yang sudah mencapai 1 juta unit setiap tahunnya, di mana Indonesia baru mencapai 300 ribu unit, Pemerintah akan berupaya memanfaatkan sisa kapasitas produksi SUV dan MPV dengan produksi kendaraan sedan, yang demand nya cukup tinggi di pasar ekspor.
“Syaratnya produksi sedan di dalam negeri tidak boleh didiskriminasi, seperti dikenai PPnBM tinggi (30%) karena berdasarkan bentuknya, sedan tersebut memiliki bagasi. Selain itu industri otomotif yang komponen besi baja dan plastiknya cukup tinggi, adalah termasuk adalah industri market forces,” tegas Airlangga.
Berdasarkan data Kemenperin, pada Januari-Oktober 2018, industri otomotif di Indonesia mengekspor kendaraan roda dua dengan total nilai ekspor US$ 1,3 miliar. Sedangkan, untuk kendaraan roda empat, nilai ekspornya mencapai US$ 4,7 miliar. Sektor ini menjadi salah satu sektor yang akan terus dipacu untuk meningkatkan ekspor, paralel dengan didorongnya juga produksi kendaraan angkutan pedesaan.
Pertumbuhan industri lainnya yang positif ditopang oleh pertumbuhan masing-masing sub-sektor industri. Sub-sektor industri dengan rerata pertumbuhan tertinggi antara lain makanan dan minuman (8,71%), barang logam, komputer, barang elektronika, mesin dan perlengkapan (4,02%), alat angkutan (3,67%), serta kimia (3,40%). Sektor industri pengolahan non-migas pada 2018 memberi kontribusi 17,66% terhadap total PDB nasional. Ini merupakan kontribusi terbesar dibandingkan sektor-sektor lainnya.








Tinggalkan Balasan