Wamen ESDM Arcandra Tahar menjelaskan sistem PSC Gross Split di Baker Institute, Amerika Serikat, Kamis (8/3).

Houston, Texas, Petrominer – Kebijakan Pmerintah Indonesia melakukan perubahan fiscal regime dari Production Sharing Contract (PSC) cost recovery menjadi gross split  mendapatkan apresiasi positif dari para akademisi di Amerika Serikat (AS). Salah satunya adalah Baker Institute. Lembaga think tank energi ini bakal menjadikan gross split sebagai kajian untuk public policy maupun detail riset dan disertasi untuk program doktoral.

Dalam kunjungan kerjanya ke Amerika Serikat, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar diberi kesempatan untuk memaparkan gross split di hadapan para akademisi Baker Institute. Mereka pun sangat antusias untuk melakukan kajian mendalam. Hal ini akan menjadi langkah penting untuk mendorong hadirnya sistem PSC yang lebih memberikan keadilan bagi pemerintah dan investor.

“Kita pernah memperkenalkan sistem cost recovery yang kemudian diadopsi oleh banyak negara. Hal yang sama sangat terbuka bagi sistem gross split yang sedang diperkenalkan Pemerintah kepada investor, akademisi dan praktisi migas di dunia,” kata Arcandra usai memberikan paparan mengenai PSC gross split di Baker Institute, Rice University Amerika Serikat, Kamis (8/3).

Baker institute adalah lembaga think-tank yang high profile dan menempati ranking 1 menurut survey tahun 2017 sebagai salah satu lembaga bergengsi untuk pusat kajian energi di seluruh dunia. Lembaga ini didirikan oleh mantan Menteri Luar Negeri AS, James A. Baker III di awal era 1990an.

Senior program advisor Pusat Studi Energi, Baker Institute, Michael Maher, yang menjadi moderator diskusi, menyatakan bahwa kajian tentang PSC gross split akan menjadi tema penting di Baker Institute di masa datang.

Dalam kesempatan itu, Arcandra Tahar juga menegaskan komitmen Kementerian ESDM untuk memberikan dukungan penuh terhadap ide tersebut.

Menurutnya, gross split memiliki tiga prinsip utama yaitu kepastian, efisien dan sederhana. Dengan gross split investor akan memperoleh kepastian karena pembagian split dilakukan secara transparan dan terukur. Parameter jelas yaitu ditentukan berdasarkan karakteristik lapangan serta kompleksitas pengembangan dan produksi.

Skema gross split juga menciptakan efisiensi baik kepada pemerintah maupun investor. Karena biaya pengembangan blok menjadi tanggungjawab investor, maka investor harus mampu mengelola pembiayaan secara mandiri agar investasinya mendapatkan hasil optimal. Pemerintah juga tidak perlu mengeluarkan dana dari APBN untuk membiayai produksi migas.

Gross split juga sederhana dari aspek persetujuan penganggaran, pengadaan, serta akuntabilitas. Pemerintah juga tidak perlu membuang banyak tenaga untuk melakukan pengawasan anggaran,” ujar Arcandra.

Pembicara di CERAWeek

Sehari sebelumnya, Arcandra mendapatkan kehormatan menjadi pembicara tunggal dalam acara CERAWeek di Houston. Ini merupakan salah satu event tahunan yang dihadiri oleh para Menteri dan CEO perusahaan di bidang energi. Para Pembicara dalam acara ini adalah para pemegang keputusan, pembuat kebijakan dan pelaku bisnis. Tahun ini, CERAWeek diselenggarakan di Hotel Hilton Downtown, Houston, pada 5- 9 Maret 2018.

Dengan latar belakang sebagai inventor di bidang offshore technology development, CERAWeek mengundang khusus Wamen ESDM untuk berbicara bagaimana teknologi menjadi enabler (pendukung) dalam efisiensi dan menarik investasi. Acara ini dikemas dalam model talkshow dan dipandu oleh Nick Sharma, head of upstream research and consulting, IHS Markit.

Sebagai pembicara tunggal selama 40 menit, Arcandra memulai wawancara dengan menceritakan pengalamannya tentang penggunaan teknologi offshore di Peru. Selanjutnya, dia juga bercerita tentang tantangan-tantangan yang dihadapi di Indonesia, salah satunya terkait dengan potensial gas di Natuna dan Enhanced Oil Recovery (EOR). Wamen ESDM juga kemudian memaparkan bagaimana teknologi dapat membantu untuk mengembangkan lapangan-lapangan ini dan juga meningkatkan produksi.

Dalam diskusi yang berlangsung secara interaktif, Arcandra juga memberikan pandangan tentang pengalamannya di Kementerian ESDM, khususnya yang berkaitan dengan kebijakan. Menurutnya, pemahaman aspek teknis sangat penting diperlukan dalam membuat kebijakan sehingga dapat diimplementasikan di lapangan.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mendapatkan kehormatan menjadi pembicara tunggal dalam acara CERAWeek di Houston, Texas, Amerika Serikat, Rabu (7/3).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here