Dokumen persetujuan revisi PoD Abadi LNG Project diserahkan langsung oleh Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto kepada Presiden dan CEO Inpex Incorporation Takayuki Ueda di Istana Negara, Selasa (6/7).

Jakarta, Petrominer – Pemerintah Indonesia dan INPEX Corporation akhirnya sepakat mengenai pengembangan lapangan gas Abadi di blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Setelah Head Of Agreement (HoA) ditandatangani bulan lalu, INPEX kini mendapatkan persetujuan pemerintah terkait revisi rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) Abadi LNG Project.

Dokumen persetujuan revisi PoD proyek LNG tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto kepada Presiden dan CEO Inpex Incorporation Takayuki Ueda, Selasa (6/7). Penyerahan dokumen yang sudah ditandatangani Menteri ESDM Ignatius Jonan beberapa hari lalu itu dilakukan di Istana Negara dan disaksikan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Persetujuan atas revisi PoD oleh pemerintah ini merupakan tonggak sejarah yang sangat penting bagi Proyek LNG Abadi. Ini adalah investasi asing terbesar sejak tahun 1968 dan simbol pembangunan di Indonesia Timur yang berskala global setelah Freeport Indonesia.

Menurut Jonan, pengembangan Blok Masela ini akan mencapai US$ 18,5-19,8 miliar. Proyek ini juga akan menyerap ribuan tenaga kerja, baik saat konstruksi maupun onstream nanti.

“Pada saat pembangunan dapat menyerap 30 ribu tenaga kerja langsung maupun pendukung dan saat beroperasi akan menyerap tenaga kerja antara 4.000 – 7.000 orang termasuk pembangunan industri petrokimia,” jelasnya.

Presiden Jokowi menyambut positif atas langkah konkret yang diambil oleh Kementerian ESDM dalam menarik investasi di sektor migas. “Meskipun negosiasi alot akhirnya pada hari ini kita bisa menyelesaikan investasi yang sangat besar. Ini sangat berarti untuk Indonesia,” ungkap Dwi Soetjipto menggambarkan apresiasi Presiden Jokowi.

Secara rinci, Presiden menekankan tiga pesan penting untuk proyek ini. Pertama, komitmen Inpex sesuai dengan apa yang tertuang di PoD dan arahan pemerintah lewat Kementerian ESDM. Kedua, memaksimalkan lokal konten dan ketiga adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) lokal.

Sementara itu, President & CEO Inpex Takayuki Ueda mengatakan, konsep pengembangan proyek telah mengalami perubahan dari skema kilang terapung menjadi skema LNG darat. “Lapangan Gas Abadi yang mempunyai produktivitas reservoir sangat bagus menumbuhkan harapan untuk mengembangkannya secara efisien dan menjadikan lapangan ini beroperasi secara stabil dalam memproduksi LNG untuk jangka waktu yang panjang,” kata Takayuki.

Sebagai tambahan atas persetujuan revisi PoD, Pemerintah juga menyetujui permohonan untuk alokasi tambahan waktu selama 7 tahun dan perpanjangan Production Sharing Contract (PSC) Wilayah Kerja Masela selama 20 tahun hingga 2055.

Selanjutnya, Inpex akan terus bekerja bersama Shell sebagai mitra kerja untuk memulai aktivitas persiapan yang diperlukan dalam rangka melaksanakan kegiatan Front End Engineering Design (FEED).

Proyek Lapangan Abadi adalah proyek pengembangan LNG skala besar terintegrasi pertama yang dioperasikan oleh INPEX di Indonesia sebagai operator, sesudah Proyek LNG Ichthys di Australia.

Jumlah output gas alam di Lapangan Abadi sebesar 10,5 juta ton per tahun, mencakup sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, dan memasok penyediaan gas untuk lokal melalui jalur pipa. Untuk kondensatnya, mencapai sekitar 35.000 barel kondensat per hari. SKK Migas menargetkan blok Masela akan mulai produksi pada tahun 2027.

Details of the Abadi LNG Project. (Inpex Corp.)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here