Area pengisian tabung gas elpiji 3 Kg di Depot LPG PT Pertamina (Persero), Tanjung Priok, Jakarta Utara. (Petrominer/ Fachry Latief)

Boyolali, Petrominer – Pengusaha rumah makan dan pabrik pengolahan makanan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, kedapatan masih banyak yang menggunakan LPG 3 kg bersubsidi untuk keperluan bahan bakarnya. Meski tertangkap basah melakukan penyalahgunaan LPG bersubsidi, mereka tidak langsung dikenai tindakan pidana.

“Sebanyak 1.060 tabung LPG 3 kg bersubsidi telah disalahgunakan oleh para pegusaha rumah makan di Boyolali,” ujar Kasat Sabhara Polres Boyolali, AKP Edi Sukamto, Selasa (13/11).

AKP Edi memaparkan, Tim Monitoring Penyaluran LPG 3 kg, yang terdiri dari Polres Boyolali berkoordinasi dengan PT Pertamina (Persero) dan Pemerintah Kabupaten Boyolali, telah menemukan adanya penyalahgunaan LPG 3 kg bersubsidi di 219 lokasi usaha rumah makan dan industri pengolahan makanan di Kabupaten Boyolali.

Hal senada juga disampaikan oleh Sales eksekutif LPG Rayon V PT Pertamina (Persero), Adeka Sangtraga. Dia menjelaskan bahwa dari total 219 lokasi yang didatangi, jika digabungkan dengan estimasi setiap bulannya, menghabiskan lebih dari 70 MT atau setara dengan 23.000 tabung LPG 3 kg. Ini merupakan jumlah yang cukup besar dan bisa merugikan masyarakat yang seharusnya mendapatkan LPG subsidi tersebut.

“Dengan estimasi jumlah yang cukup besar tersebut sangat tidak layak jika para pengusaha rumah makan dan pabrik pengolahan makanan tersebut menggunakan LPG 3 kg bersubsidi. Apalagi, LPG tersebut diperuntukkan bagi warga miskin dan usaha mikro,” ujar Adeka.

Namun, penyalahgunaan tersebut tidak begitu saja ditindak. Pertamina malah memberikan solusi kepada para pengusaha. Caranya, mereka diminta untuk menukarkan tabung LPG 3 kg dengan tabung LPG non subsidi bright gas 5,5 kg.

“Sebanyak 474 tabung bright gas 5,5 kg telah tersalurkan kepada para pengusaha yang berada di 219 titik lokasi tersebut. Diharapkan ke depannya para pengusaha lain yang masih menggunakan LPG 3 kg bersubsidi bisa segera beralih ke penggunaan LPG non subsidi,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Unit Manager Communication & CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) IV, Andar Titi Lestari, menegaskan kembali bahwa LPG 3 kg diperuntukkan hanya bagi warga miskin atau tidak mampu. Sementara untuk para pengusaha dan masyarakat mampu, Pertamina saat ini memiliki LPG non subsidi yaitu bright gas dengan ukuran 5,5 dan 12 kg serta LPG ukuran 50 kg yang diperuntukkan bagi warga mampu.

“Melalui tim monitoring penyaluran LPG 3 kg inilah salah satu cara kami untuk mengurangi penyalahgunaan LPG bersubsidi tersebut,” ujar Andar.

Jika masyarakat membutukan informasi ataupun memberikan masukan dan saran terkait penyaluran LPG, dapat menghubungi kontak Pertamina di 1-500-000 atau melalui website www.pertamina.com.

Pertamina telah menyediakan LPG non subsidi untuk para pengusaha rumah makan dan masyarakat mampu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here