, ,

Kinerja Turun, Ekuitas dan Rasio Keuangan SUNI Tetap Terjaga

Posted by

Jakarta, Petrominer – PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI IJ) mencatat penurunan kinerja selama tiga bulan pertama 2026. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp 18 milyar, turun 73 persen  pada Kuartal I-2026. Penurunan tersebut terutama disebabkan penurunan pendapatan usaha dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Utama SUNI, Willy Johan Chandra, menyampaikan bahwa berkurangnya pendapatan pada Kuartal I-2026 ini terutama disebabkan penurunan penjualan OCTG casing. Penjualan OCTG casing dilakukan melalui proses tender dan dalam situasi persaingan yang cukup ketat dengan penyuplai-penyuplai yang lain.

“Status SUNI dalam penjualan OCTG casing ini adalah sebagai trader, sehingga penjualan casing ini sifatnya lebih fluktuatif dibandingkan CTG tubing yang lebih stabil penjualannya karena SUNI merupakan produsen OCTG tubing di Indonesia. Namun demikian, Perseroan tetap optimistis terhadap pertumbuhan penjualan ke depannya, dan meskipun terjadi penurunan laba dan penjualan pada kuartal ini, rasio keuangan Perseroan masih tetap terjaga dengan baik,” jar Willy dalam siaran pers yang diterima PETROMINER, Rabu (29/4).

Meskipun pertumbuhan laba bersih mengalami penurunan, ekuitas SUNI tetap meningkat sebesar 2 persen menjadi Rp 881 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Kenaikan ekuitas ini berasal dari laba yang dihasilkan selama kuartal 1-2026. Selain itu, SUNI juga berhasil menjaga rasio keuangan sesuai ketentuan kredit dengan Debt to Equity Ratio (DER) pada level 0,28 kali atau jauh di bawah batas maksimum yang ditetapkan, yaitu maksimal 2,5 kali.

Pada Kuartal I-2026, SUNI juga berhasil mendapatkan arus kas positif dari aktivitas operasional sebesar Rp 99 miliar, atau meningkat 41 persen dibandingkan Rp 70 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Ini karena berkurangnya pembayaran kepada pemasok pada kuartal ini dibandingkan periode sebelumnya.

Di sisi lain, SUNI merealisasikan investasi sebesar Rp 25 miliar untuk pembiayaan pembangunan pabrik ke-2 RTM, yang mengalami penurunan sebesar 55 persen seiring dengan semakin menurunnya intensitas kegiatan pembangunan pabrik ke-2 RTM. Sementara dari aktivitas pendanaan, arus kas bersih sebesar Rp 8 miliar atau turun sebesar 14 persen yang dipergunakan untuk pembayaran pinjaman Bank.

“Dengan adanya peningkatan kapasitas produksi ini, diharapkan kinerja operasional dan finansial perseroan ke depan akan semakin optimal serta mampu menjamin ketersediaan OCTG tubing di tingkat nasional,” kata Willy.

Produk Baru

Sementara itu, Direktur Operasional SUNI, Bambang Prihandono, menyampaikan pihaknya terus menyiapkan sumber daya operasional yang dibutuhkan seiring dengan pembangunan dan rencana operasional pabrik ke-2 RTM. Saat ini, SUNI terus melakukan uji coba produksi pada fasilitas baru tersebut sekaligus mempersiapkan fasilitas baru tersebut untuk pelaksanaan audit API dalam beberapa bulan ke depan.

Selain itu, anak perusahaan SUNI lainnya, yaitu PT Petro Synergy Manufacturing (PSM) pada awal kuartal 1 2026 telah mulai menjalankan kegiatan operasional secara komersial. Keberadaan PSM diharapkan dapat mendukung Perseroan dalam memproduksi wellhead dan x’mas tree yang memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta standar internasional dengan harga yang kompetitif.

“Setelah memperoleh sertifikasi API dan TKDN, PSM telah beroperasi secara komersial dan diharapkan dapat terus meningkatkan kapabilitas serta memperluas pasar, sehingga mampu meberikan kontribusi terhadap kinerja SUNI,” paparnya.