Ikan hiu paus yang terpantau berukuran 4,5-5 meter dan diduga masih dalam kategori anakan.

Probolinggo, Petrominer – Protection of Forest and Fauna (Profauna) mengapresiasi upaya pembebasan hiu paus dari kanal inlet wilayah di sekitar PLTU Paiton, Jawa Timur. Ikan yang diberi nama Paitonah itu merupakan jenis hiu yang memiliki tubuh paling besar dibandingkan jenis hiu lainnya

“Kami secara obyektif sangat mengapresiasi tindakan penyelamatan hiu paus tersebut dan membawanya kembali ke laut lepas, karena tidak banyak orang yang peduli terhadap hal tersebut,” ujar Ketua Profauna Indonesia, Rosek Nursahid, Jum’at (20/9).

Nursahid mengapresiasi upaya penyelamatan hiu paus yang dianggap “luar biasa.” Apalagi, upaya penyelamatan tersebut melibatkan semua unsur terkait mulai dari aparat TNI, Kementerian terkait, nelayan, dan juga pengelola PLTU Paiton.

Tim Rescue Whale Shark Paiton dipimpin oleh Komandan Kodim 0820/Probolinggo, Letkol Inf. Imam Wibowo. Tim terdiri atas Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehuatanan, BPSPL Denpasar Wilker Jawa Timur, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Probolinggo, BBKSDA Jawa Timur, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas IV Probolinggo, WSI, PT Pembangkitan Jawa Bali Unit Pembangkit (PJB UP) Paiton, PT YTL Jawa Power, PT Paiton Operation & Maintenance Indonesia (POMI) dan Kelompok Masyarakat Pengawas.

“Itu luar biasa, karena masih banyak yang mau membantu, dan banyak pihak yang mau ikut terlibat,” tegas pendiri Profauna Indonesia itu.

Nursahid juga mengapresiasi tingginya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sekitar, khususnya dalam hal keselamatan makhluk hidup langka termasuk fauna dan flora. Ini terjadi terutama karena dukungan media sosial yang begitu mudah diakses saat ini.

“Kendati tergantung pada jenis kasusnya, kepedulian terhadap keberadaan dan upaya menjaga kelestarian hewan langka sudah mulai tinggi. Ini kami soroti, mengingat saat ini sudah mulai ada peningkatan kesadaran dalam upaya perlindungan dan pelestarian satwa liar. Sangat berbeda dengan kondisi 20 tahun lalu, saat Profauna baru berdiri di Indonesia,” jelasnya.

Profauna Indonesia adalah organisasi independen non profit berjaringan internasional, yang bergerak di bidang perlindungan hutan dan satwa liar. Didirikan tahun 1994 di Malang, Jawa Timur.

Tim Rescue Whale Shark Paiton dipimpin oleh Komandan Kodim 0820/Probolinggo, Letkol Inf. Imam Wibowo.

Jangan Berulang

Dalam kesempatan itu, Nursahid menyatakan perlu diteliti atau ditelusuri apa penyebab hiu paus tersebut sampai tertarik masuk ke daerah sekitar PLTU Paiton. Ini penting untuk mencegah kejadian tersebut berulang. Pasalnya, apabila sudah terdampar masuk ke wilayah inlet, akan sulit bagi hiu paus tersebut kembali ke habitatnya di laut lepas.

Dia menduga, selain karena untuk mencari makanan, ada juga penyebab lainnya hiu paus itu bisa terdampar di wilayah PLTU. Secara teori, salah satunya adalah karena hiu paus tersebut kehilangan navigasi (hilang arah), akibat pengaruh sonar dari kapal-kapal yang berlayar di laut lepas.

“Ada juga karena faktor alam, yakni gelombang laut menyebabkan hiu paus terseret ombak ke perairan tangkap. Faktor lainnya adalah karena polusi, menyebabkan sumber makanan semakin sulit dicari, sehingga hiu paus harus berenang lebih jauh untuk mengejar makanan mereka,” jelas Nursahid.

Dia juga mengamati ada masa-masa di mana hiu paus kerap terdampar ke wilayah penangkapan darat. Hal tersebut sejalan dengan yang informasi dari Elland Yupa Sobhytta, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSL) Denpasar, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang menyebutkan bahwa ikan hiu paus dengan jumlah puluhan ekor biasa muncul di sekitar perairan Pasuruan pada bulan Juli.

Bulan Agustus hingga September, kawanan ikan ini akan mengarah ke Timur menuju perairan Probolinggo. Kemudian mereka bergerak ke perairan Situbondo pada bulan Desember hingga Januari, dan diprediksi bermigrasi ke Luar Selat Madura menuju benua Australia atau ke Sulawesi hingga Filipina.

Perpindahan kawanan ini bergantung dari sumber makanan (plankton dan ikan kecil). Salah satu tempat yang menjadi sumber makanan adalah perairan sekitar PLTU Paiton. Dengan masih banyaknya mangrove dan terumbu karang yang menjadi tempat ikan serta adanya muara beberapa sungai yang kaya akan nutrien, membuat hiu paus sering muncul di sekitar perairan PLTU Paiton.

Ikan hiu paus (Rhincodon typus) adalah ikan yang dilindungi oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/KEPMENKP/2013. Hiu paus yang dikenal dengan hiu totol oleh nelayan setempat, dilindungi dengan alasan jumlahnya semakin berkurang, akibat mudah tertangkap secara tidak sengaja oleh nelayan (by-catch).

Hiu Paus merupakan jenis hiu yang memiliki tubuh paling besar dibandingkan jenis hiu lainnya. Kawanan hiu paus mempunyai kebiasaan berenang secara individu untuk mencari makanan hingga ke daerah pesisir atau perairan dangkal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here