PLTU Indramayu 3x330 MW.

Indramayu, Petrominer – Beragam upaya efisiensi dilakukan oleh PT PLN (Persero)  dalam operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Selain memanfaatkan teknologi tinggi, pencampuran batubara dengan pelet kayu menjadi pilihan.

Seperti yang kini dilakukan oleh PLTU Indramayu. Pembangkit listrik yang dikelola oleh anak usaha PLN, PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), telah memanfaatkan pelet kayu sebagai bahan bakar campuran batubara.

“PLTU Indramayu kini sedang melakukan ujicoba penggunaan pelet sebagai campuran batubara untuk menghasilkan listrik,” ujar General Manager UBJOM Indramayu, Ubaedi Susanto, Sabtu (18/1).

PLTU Indramayu memiliki total kapasitas energi sebesar 3×330 megawatt (MW). Pembangkit listrik ini berdiri di Desa Sumuradem, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan rutin kondisi PLTU Indramayu.

Ubaedi menjelaskan, setiap hari PLTU Indramayu rata-rata membutuhkan batubara 4.000 ton per unit. Sehingga total jika tiga unit beroperasi kebutuhan mencapai 12.000 ton. Dengan pemanfaatan pelet diharapkan dapat menurunkan penggunaan batubara.

“Saat ini masih tahapan ujicoba. Kemarin kami coba mencampurkan 5 persen pelet, dan hasilnya cukup memuaskan,” jelasnya.

Menurut Ubaedi, sasaran inovasi penggunaan pelet ini tidak hanya untuk menghemat biaya pokok penyediaan, tetapi juga menjadi energi alternatif pengganti bahan bakar fosil. Inovasi ini juga bisa mengurangi sampah dan emisi yang saat ini masih menjadi masalah di beberapa daerah.

Pencampuran pelet kayu dengan batubara untuk bahan bakar PLTU.

Proper Hijau

Sejak 10 tahun lalu, PLTU Indramayu dikenal sebagai objek vital nasional. Energi yang dihasilkan pembangkit ini mampu menyuplai listrik untuk Jawa dan Bali, utamanya kawasan Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Di tahun 2019, PLTU Indramayu berhasil memperoleh penghargaan Proper Hijau. Proper adalah program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan yang dikembangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) sejak tahun 1995. Program ini dilakukan untuk mendorong perusahaan meningkatkan pengelolaan lingkungannya.

Proper Hijau diberikan kepada perusahaan yang telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan oleh KLH.

PLTU Indramayu memanfaatkan sisa hasil pembakaran batu bara berupa fly ash dan bottom ash (FABA) untuk dikelola menjadi paving block.

“Produksinya memang belum terlalu besar, kami bisa produksi 500 paving setiap hari. Hasil dari paving block digunakan untuk kegiatan corporate social responsibility kepada warga sekitar pembangkit,” tutur Ubaedi.

Sebagai salah satu daerah penghasil beras terbesar di Jawa Barat, PJB juga terus mendukung pertanian di sekitar PLTU Indramayu dengan mendorong masyarakat untuk menggunakan pupuk organik melalui berbagai pelatihan dan pembinaan.

“Sebelumnya masyarakat khawatir kalau pakai pupuk organik hasilnya berkurang, ternyata sama dengan menggunakan pupuk sintetis, padahal biaya operasional menggunakan pupuk organik lebih murah. Sekarang banyak masyarakat yang ikut tertarik,” ujar Ubaedi.

Di tahun 2019, PLTU Indramayu berhasil memperoleh penghargaan Proper Hijau, karena kebarhasilan PJB melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan oleh Kementerian LHK. (Petrominer/Pris)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here