
Jakarta, Petrominer – PT PLN (Persero) bersama Institut Teknologi PLN (IT PLN) menggelar program pelatihan energi terbarukan bagi pelajar SMA. Inisiatif ini menjadi langkah nyata PLN dalam mendukung akselerasi transisi energi nasional dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE) melalui penguatan literasi serta penyiapan sumber daya manusia (SDM) unggul sejak dini.
Direktur Legal dan Manajemen Human Capital PLN, Nurlely Aman, menyampaikan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Akselerasi transisi energi memerlukan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa.
“Melalui edukasi ini, PLN ingin membekali para siswa dengan wawasan praktis mengenai pemanfaatan energi ramah lingkungan di sekitar kita,” ujar Nurlely, Senin (3/8).
Dia menegaskan, PLN berkomitmen terus memperluas jangkauan edukasi energi terbarukan ke berbagai institusi pendidikan di Tanah Air. Literasi energi yang kuat pada generasi muda adalah fondasi penting bagi keberlanjutan transisi energi nasional menuju masa depan yang bersih.
Pelatihan tersebut digelar melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk “Rekayasa Teknologi untuk Energi Terbarukan di Sekolah Menengah Atas.” Program yang berlangsung pada periode Juli-Agustus 2026 ini hadir di tujuh sekolah menengah atas (SMA) yang tersebar di Indonesia, yakni SMA Taruna Nusantara Magelang, SMA Gama Yogyakarta, SMA Taruna Brawijaya Jawa Timur, SMAN 1 Binjai, SMAN 4 Medan, SMAN 5 Surabaya, dan SMAN 94 Jakarta Barat.
“Lebih dari 250 siswa kelas XI dan XII dari 7 sekolah mengikuti pelatihan intensif mencakup materi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan pengelolaan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WTE),” ungkap Nurlely.
Dukungan Masyarakat
Sementara itu, Wakil Rektor IV IT PLN Bidang Kerja Sama, Ahsin Sidqi menegaskan bahwa transisi energi memerlukan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat. Melalui pelatihan tersebut, peserta dibekali pemahaman holistik mengenai potensi energi surya serta pemanfaatan sampah menjadi energi.
“Kami berharap transisi energi didukung oleh semua lapisan masyarakat, termasuk generasi muda. Kita ajak semua lapisan masyarakat. Kuncinya adalah kemandirian energi dan kedaulatan energi,” ujar Ahsin.
Dia menjelaskan, rangkaian program pelatihan dilaksanakan melalui empat tahapan, yaitu dua hari In Class Training, dua hari Praktikum Project, sesi Check Point, dan penyusunan laporan pertanggungjawaban. Masing-masing peserta akan mendapatkan materi pelatihan, pendampingan, dan sertifikat.
Hari pertama, para peserta diajarkan tentang bagaimana energi surya yang melimpah dan bisa dibuat menggantikan energi fosil yang sudah sangat terbatas. Hari kedua adalah WTE, bagaimana sampah-sampah menjadi masalah di berbagai kota akan menjadi solusi ketika dijadikan energi.
Kepala Sekolah SMA Taruna Nusantara, Mayjen TNI Muhammad Imam Gogor, mengapresiasi inisiatif PLN dan IT PLN yang menghadirkan pelatihan bagi siswa maupun pamong. Program pelatihan ini diharapkan dapat membekali para calon pemimpin bangsa dengan kemampuan berinovasi dalam menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk memanfaatkan sampah sebagai sumber energi terbarukan.
“Kami berharap program ini betul-betul memberikan dampak yang positif bagi para pamong, dan khususnya para siswa yang nantinya akan menjadi calon-calon pemimpin bangsa. Sehingga nanti mereka bisa berinovasi menjadi pemimpin yang mengetahui kebutuhan masyarakat. Khususnya, bagaimana memanfaatkan sampah untuk bisa menjadi energi terbarukan,” ujar Imam.
Guna menjamin keberlanjutan program, sekolah-sekolah tersebut akan mengintegrasikan materi PLTS dan WTE ke dalam kegiatan pembelajaran di luar kurikulum reguler yang akan diturunkan kepada setiap angkatan secara berkelanjutan.








Tinggalkan Balasan