Jakarta, Petrominer – PT PLN (Persero) terus mengembangkan listrik pedesaan dengan melistriki desa baru maupun desa lama yang sebagian dari dusunnya belum berlistrik. Ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah untuk mencapai Rasio Desa Berlistrik (RD) 100 persen pada tahun 2018 ini.
BUMN listrik ini menganggarkan biaya investasi Rp 15,9 triliun untuk membangun infrastruktur ketenagalistrikan bagi 739.329 pelanggan di wilayah desa tahun ini. Anggaran tersebut naik dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, yang sebesar Rp 6,2 triliun untuk 498.660 pelanggan di desa.
“PLN membutuhkan belanja modal yang cukup signifikan untuk pembangunan listrik perdesaan (Lisa), kurang lebih Rp 15,9 triliun tahun ini,” ujar Direktur Perencanaan Korporat PLN, Syofvi Felienty Roekman, Kamis (22/8).
Untuk mendukung program itu, PLN terus melakukan perluasan jaringan distribusi dan sistem kelistrikan yang ada dan yang berdekatan. Jaringan distribusi ini diperlukan untuk melistriki desa terisolasi yang terletak jauh dari desa yang sudah teraliri listrik. Sejalan dengan itu, juga dilakukan penambahan kapasitas pembangkit yang diperlukan sistem tersebut. PLN memprioritaskan pembangunan pembangkit skala kecil baik dari sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) maupun energi lainnya, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal, Tower PV, dan Solar Home System.
“Bagi daerah yang masih terisolasi, pelosok, dan perbatasan dengan negara tetangga, dimana pemanfaatan EBT masih belum terwujud dimungkinkan pengembangan pembangkit berbahan bakar minyak,” katanya.
Dari alokasi dana tersebut, kebutuhan investasi terbesar dialokasikan untuk pembangunan Jaringan Tegangan Menengah sepanjang 22.209 kilometer sirkit (kms) senilai Rp 9,4 triliun.
Kemudian, Rp2,9 triliun untuk pembangungan Jaringan Tegangan Rendah sepanjang 13.847 kms, Rp 2,5 triliun untuk pembangkit berkapasitas 135.898 kiloWatt (kw) atau kiloWattpeak (kWp), dan Rp 1,1 triliun untuk trafo berkapasitas 477.850 kiloVoltAmpere (kVA).

Syofvi menyebut investasi tersebut akan didanai oleh berbagai sumber. Dari kas, PLN menyiapkan sekitar Rp 5 triliun. Kemudian, juga akan memanfaatkan sisa dana dari Penyertaan Modal Negara (PMN) yang belum diserap sekitar Rp 5 triliun. Sisanya, PLN akan memanfaatkan dana dari eksternal seperti pinjaman antar lembaga.
Investasi infrastruktur listrik desa diperlukan perseroan untuk meningkatkan Rasio Desa Berlistrik (RDS). Hingga akhir tahun ini, Pemerintah dan PLN menargetkan RDS bisa mencapai 100 persen.
Untuk desa yang belum bisa terjamah oleh jaringan PLN, BUMN ini mendukung program pemerintah dalam penyediaan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE). Di saat bersamaan, perseroan menargetkan bisa melistriki desa-desa tersebut paling lambat tiga tahun setelah menerima LTSHE.









Tinggalkan Balasan