Wilayah Kerja Offshore North West Java (ONWJ) dikelola oleh Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ dengan sistem kontrak gross split setelah perpanjang kontraknya ditandatangani 18 Januari 2017 lalu hingga 20 tahun mendatang.

Jakarta, Petrominer – Meski didominasi lapangan tua (mature field), PT Pertamina (Persero) tetap memasang target kenaikan produksi minyak dan gas bumi (migas) tahun 2019 mendatang. Untuk tahun depan, produksi minyak dipatok lebih tinggi dibandingkan target tahun ini, sementara produksi gas hampir sama.

Senior Vice President Upstream Strategic Planning and Performace Evalution Direktorat Hulu Pertamina, Meidawati, menyatakan bahwa Pertamina menargetkan produksi minyak tahun 2019 sebesar 414 ribu barel per hari (bph). Angka ini naik dibandingkan target produksi tahun ini yang dipatok 400 ribu bph. Sedangkan untuk produksi gas, Pertamina menargetkan 2.966 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), atau sedikit lebih rendah dibandingkan target 2018 sebesar 3.069 MMSCFD.

“Mayoritas lapangan migas yang dikelola sudah tua atau mature. Namun, Pertamina juga memiliki lapangan baru (green field) seperti di Banyu Urip,” ujar usai tampil dalam diskusi bertajuk “Making Money From Nature Fields: The Spirit of Indonesia’s Oil and Gas Producers,” Rabu (7/11).

Dia mengakui bahwa mayoritas lapangan migas yang dikelola sudah tua atau mature. Namun, Pertamina juga memiliki lapangan baru (green field) seperti di Banyu Urip dengan penguasaan hak partisipasi sebesar 45%. Sisanya, 55% dikuasai Exxonmobil yang juga menjadi operator.

Selain itu, Pertamina juga mempunyai 100% di Jambaran Tiung Biru. Lapangan baru lainnya, adalah Tomori, Donggi Matindok, dan Lapangan Paku Gajah yang dikelola PT Pertamina EP.

Sepanjang tahun 2018 ini, Pertamina juga tercatat mulai mengelola blok-blok migas terminasi yang sebelumnya dikelola bersama mitra, seperti Blok Mahakam, Blok Tuban East Java, Ogan Komering, Sanga-Sanga, East Kalimantan, Attaka dan Souteast Sumatra.

Menurut Meidawati, target kenaikan produksi minyak itu dipasang karena didukung adanya kenaikan produksi dari lapangan Banyu Urip, serta dari lapangan-lapangan produksi lainnya yang dikelola Pertamina EP, Pertamina Hulu Energi (PHE), Pertamina Internasional EP (PIEP) dan Pertamina Hulu Indonesia (PHI).

Sedangkan untuk produksi gas-nya, diakui memang mengalami sedikit penurunan, karena adanya masalah produksi dari struktur Musi di Lapangan Pendopo, Sumatra Selatan, dan juga ada penurunan produksi sedikit dari blok Mahakam.

Untuk menopang program kenaikan produksi tersebut, Pertamina berencana menambah besaran investasi di tahun depan, menjadi US$ 2,5- miliar. Angka ini tentunya dari besaran investasi sampai akhir tahun 2018 ini yang sebesar US$ 2,3-2,4 miliar.

“Tapi besaran itu masih di internal, belum pasti, karena masih harus minta persetujuan Kementerian BUMN,” jelas Meidawati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here