PLTU Pacitan 2x315 MW di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Jakarta, Petrominer – Indonesia, bersama sekelompok negara maju, telah menyepakati skema pendanaan transisi energi yang disebut sebagai Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan (Just Energy Transition Partnership/JETP) dengan target nilai investasi US$ 20 miliar. Masyarakat sipil Indonesia yang tergabung dalam gerakan #BersihkanIndonesia menyambut skema pendanaan ini sebagai sinyal positif untuk mendorong percepatan transisi energi.

Rencana investasi dan detail pembangkit listrik berbahan bakar batubara (PLTU) mana yang akan dipensiunkan dini melalui skema JETP masih akan dirampungkan dalam enam bulan. Untuk itu sangatlah penting memastikan bahwa proses ini akan berjalan secara transparan dan partisipatif agar tidak mencederai prinsip utama kerjasamanya yaitu “berkeadilan”.

“Meski begitu, #BersihkanIndonesia mempunyai banyak catatan kritis penting terkait prinsip-prinsip yang mendasari perumusan skema JETP agar tidak menjadi pembenaran rencana negara untuk tetap bergantung pada PLTU batubara,” ujar Koordinator Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, Tata Mustasya, dalam siaran pers yang diterima PETROMINER, Selasa (15/11).

Skema pendanaan JETP terdiri atas US$ 10 miliar yang berasal dari pendanaan publik berupa pinjaman lunak dan hibah serta US$ 10 miliar lainnya berasal dari pendanaan swasta yang dikoordinatori oleh Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ). Kelompok ini terdiri atas  Bank of America, Citi, Deutsche Bank, HSBC, Macquarie, MUFG, and Standard Chartered. JETP tersebut akan dimanfaatkan untuk mendorong pemensiunan dini PLTU batubara di Indonesia serta investasi di teknologi dan industri energi terbarukan.

“Untuk mencapai sasaran dari program tersebut, maka JETP sejak awal harus dilakukan secara transparan, partisipatif, dan akuntabel. Pendanaan ini juga seharusnya melarang dengan tegas semua PLTU baru dan memberikan disinsentif di sektor batu bara, dukungan peraturan yang jelas untuk meningkatkan skala energi terbarukan, menangani reformasi yang sangat dibutuhkan oleh PLN,” ujar Tata.

Seperti diketahui, pada Senin (14/11), Kementerian Keuangan dan Bank Pembangunan Asia (ADB) bersama mitra lainnya seperti lembaga donor, penelitian dan masyarakat sipil telah meluncurkan Energy Transition Mechanism (ETM) untuk mendorong percepatan transisi energi berkeadilan. PT Sarana Multi Infrastruktur ditunjuk sebagai Country Platform Manager ETM dan focal point nasional kegiatan ETM.

Salah satu PLTU yang akan menjadi target awal pensiun dengan skema ETM ini adalah PLTU Cirebon 1 berkapasitas 660 megawatt (MW). Dalam forum G20 juga disebutkan ada dua PLTU lainnya, yaitu PLTU Pelabuhan Ratu 3×350 MW dan PLTU Pacitan 2×315 MW. Kedua PLTU ini dipensiunkan dengan skema pengalihan (spin off) aset dengan pembiayaan campuran yang melibatkan para investor.

 Ketergantungan Batubara

#BersihkanIndonesia juga menyoroti kegagalan Pemerintah mengatur penghentian pembangunan PLTU sebagai bagian dari komitmen untuk keluar dari ketergantungan batubara dan melakukan pensiun dini. Meski Peraturan Presiden No 112/2022 mengatur penghentian perencanaan pembangunan PLTU batubara, namun Perpres itu masih memperbolehkan pembangunan 13 gigawatt PLTU yang ada dalam RUPTL PLN 2021-2030.

Alasannya, Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) sudah terlanjur diberikan dan konstruksi sedang berlangsung. Hal ini jelas mencederai rencana pemanfaatan pendanaan JETP untuk mengupayakan pensiun dini PLTU batubara.

“JETP di Indonesia dibayangi risiko kegagalan besar dalam upaya dekarbonisasi sistem kelistrikan. Karena pemerintah memberi sinyal ambigu dalam transisi energi dengan tidak menetapkan tenggat yang jelas untuk penghentian pembangunan PLTU baru dan masih berupaya memperluas fosil di jaringan listrik yang akan menghambat pengembangan energi terbarukan,” ujar Program Manager dan Peneliti Trend Asia, Andri Prasetiyo.

Perpres 112/2022 juga masih membolehkan penambahan kapasitas PLTU batubara untuk penggunaan industri. Diperkirakan, sebanyak 15 GW PLTU batubara akan dibangun untuk menunjang berbagai proses industri mineral dan logam di berbagai kawasan di Indonesia. Hal ini bertentangan dengan tujuan Indonesia mencapai nol emisi bersih tahun 2060 atau lebih cepat, serta komitmen Indonesia pada Perjanjian Paris.

Aspek Berkeadilan

Deputi Direktur Bidang Program Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Grita Anindarini, menegaskan bahwa Pemerintah harus meninjau regulasi dan kebijakan energi secara menyeluruh untuk memastikan aspek berkeadilan dari transisi energi ditaati, termasuk prinsip transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik pada saat JETP dilaksanakan. Prinsip-prinsip itu telah dituangkan dalam dokumen “Nilai dan Prinsip Transisi Energi Berkeadilan” yang diluncurkan #BersihkanIndonesia pada 20 Oktober 2022 lalu.

“Indonesia harus menyusun mekanisme transisi energi berkeadilan yang mengakomodasi prinsip keberpihakan kepada lingkungan dan keadilan sosial. Adil bukan hanya memperhatikan dampak lingkungan dari transisi energi, namun juga menghormati HAM dalam implementasinya. Karena itu, skema yang akuntabel, transparan dan partisipatif adalah kewajiban, termasuk pelibatan masyarakat adat, terdampak, dan kelompok rentan publik dan media lainnya. Sayangnya, semua nilai dan prinsip ini belum terakomodasi,” tegas Grita.

Merespons rencana pensiun PLTU batubara yang didorong dalam skema pendanaan ini, dia mengatakan mekanisme pertanggungjawaban hukum dan lingkungan terhadap PLTU yang akan dipensiunkan perlu diperjelas. Pasalnya, selama ini, banyak PLTU batubara berdampak terhadap pencemaran dan kerusakan lingkungan serta merugikan masyarakat.

“Pemerintah harus memastikan bahwa skema penyaluran dana ini tidak menghilangkan kewajiban pemilik pembangkit untuk memulihkan lingkungan serta menyelesaikan konflik, utamanya dengan masyarakat terdampak,” ujar Grita.

Beban Utang

JETP merupakan skema pendanaan yang dirintis International Partners Group (IPG), terdiri atas negara-negara G7, dan beberapa negara maju seperti Denmark dan Norwegia. Negosiasi skema pendanaan JETP bagi Indonesia dipimpin Amerika Serikat dan Jepang, kedua negara yang memiliki kepentingan besar akan sektor energi di Indonesia dengan sejarah panjang mendanai ketergantungan Indonesia akan minyak, gas dan batubara.

“JETP cenderung digambarkan sebagai inisiatif penyelamat, modal yang bergerak cepat, menawarkan peluang dan pendekatan transformatif untuk mendukung negara mitra dalam transisi energi menjauh dari batu bara. Namun, saya khawatir JETP dapat gagal mendukung elemen paling kritis dari transisi yang adil jika hanya mengeluarkan utang dan tidak memberikan porsi hibah yang cukup atau pembiayaan lunak untuk negara berkembang,” ujar Andri.

Dia menyoroti upaya Senator Amerika Serikat John Kerry selaku pemrakarsa JETP Indonesia yang menggadang-gadang pendanaan karbon sebagai bagian dari skema pendanaan transisi energi, khususnya di Indonesia. Titik berat pendanaan swasta akan menyulitkan upaya transisi energi yang dibutuhkan tetapi kurang menarik bagi swasta dan cenderung menyelipkan solusi-solusi semu (false solution) yang tidak transformatif bagi sistem energi dan perekonomian Indonesia.

Contohnya, dukungan berlebihan pada teknologi mobil listrik berbasis baterai, hidrogen serta carbon, capture, and storage/carbon, capture, utilization, and storage (CCS/CCUS).

“Pendanaan iklim seperti JETP seharusnya bersifat hibah dan pembiayaan lunak, bukan pembiayaan komersial yang malah mengunci Pemerintah kita kepada utang. Program ini membutuhkan dukungan pendanaan dalam jumlah besar untuk memberi sinyal yang kuat kepada pemberi dana dan investor, sehingga benar-benar dapat mendukung transisi energi keluar dari ketergantungan energi fosil,” ujar Tata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here