Karena keterbatasan alat berat, tiang listrik pun ditarik oleh para pekerja di daerah yang berbukit.

Jakarta, Petrominer – PT PLN (Persero) komitmen melanjutkan program Ekspedisi Papua Terang untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di wilayah tersebut. Ini sejalan dengan upaya Pemerintah dalam meningkatkan rasio elektrifikasi nasional hingga mencapai 100 persen tahun 2020 mendatang.

“Upaya melistriki Bumi Cendrawasih tidaklah mudah. Pasalnya, sampai bulan Juli 2019, rasio elektrifikasi di Provinsi Papua adalah 48,5 persen dan Papua Barat 91,22 persen. Dengan jumlah desa total 7.358, masih ada 1.724 desa yang masih gelap gulita,” ujar Direktur Human Capital Management (HCM) PLN, Muhamad Ali, Kamis (3/10).

Ali memaparkan, sebagai kelanjutan dari Ekspedisi Papua Terang, tahun ini PLN menetapkan Program 1.000 Renewable Energy for Papua. Kali ini, PLN Direktorat Bisnis Regional Maluku dan Papua menggandeng Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Cenderawasih, LAPAN, dan TNI AD.

Program ini, menurutnya, disusun setelah mempelajari dan menganalisa hasil dari Ekspedisi Papua Terang. Apalagi, sebagian besar masyarakat di Papua dan Papua Barat sangat menginginkan pasokan listrik dari PLN, yang dianggap lebih stabil dan bisa diandalkan. PLN pun telah menetapkan energi baru terbarukan (EBT) sebagai sumber bagi pembangkit listrik yang akan dibangun di pedalaman Papua.

Kepala Divisi Pengembangan Regional Maluku–Papua PLN, Eman Prijono Wasito Adi, menyebutkan ada empat alternatif sumber EBT yang ditawarkan dari hasil Ekspedisi Papua Terang, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Pikohidro; Tabung Listrik (Talis); Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm); dan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Dari keempat pilihan tersebut, Pikohidro dianggap lebih cocok bila diaplikasikan pada daerah yang memiliki perbedaan ketinggian.

Pembangkit Listrik Tenaga Pikohidro merupakan pembangkit skala sangat kecil yang memanfaatkan energi potensial air untuk menghasilkan listrik berkapasitas hingga 5.000 Watt. Sedangkan Tabung Listrik (Talis), merupakan alat penyimpanan energi (energy storage) layaknya power bank, yang digunakan untuk melistriki rumah. Cukup dengan plug-and-play, masyarakat di pedalaman Papua sudah dapat memanfaatkan listrik dengan Talis ini untuk kebutuhan penerangan hingga menyalakan televisi. Talis dapat diisi ulang di Stasiun Pengisian Energi Listrik (SPEL).

Sementara PLTBm adalah pembangkit listrik skala kecil yang memanfaatkan potensi energi biomassa, seperti bambu, kayu, serat kelapa sawit dan bahan organik kering lainnya. Seperti yang kita kenal selama ini Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), menjadi alternatif melistriki daerah yang sulit dijangkau oleh transportasi darat. Karena itu dengan mengandalkan sumber energi matahari, maka sangat cocok diterapkan pada kawasan terpencil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here