Menteri ESDM, Arifin Tasrif, bersama foto bersama usai menyaksikan penandatanganan Kontrak Bagi Hasil Gross Split Blok Corridor antara Conoco Philips, Talisman, PHE dan SKK Migas di Kementerian ESDM, Senin sore (11/11).

Jakarta, Petrominer – Blok Corridor di Sumatera Selatan baru saja ditandatangani kontrak perpanjangannya. Pemerintah masih mengandalkan blok minyak dan gas bumi (migas) ini untuk menopang produksi gas nasional, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.

Penandatangan kontrak baru blok Corridor itu disaksikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, di Kementerian ESDM, Senin sore (11/11). Penandatanganan dilakukan oleh Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, Direktur Utama Pertamina Hulu Energi Corridor, Taufik Aditiyawarman, President Conocophillips (Grissik) Ltd., Bijan Agarwal, dan Regional Executive Director Talisman, Ferdinando Rogardo.

Lihat juga: Sah, Kontrak Blok Corridor Diperpanjang 20 Tahun

Kontrak perpanjangan tersebut akan menerapkan pola bagi hasil gross split. Dalam kontrak baru tersebut, komposisi hak partisipasi (participating interest/PI) berubah menjadi ConocoPhillips (Grissik) Ltd. (46 persen), Talisman Corridor Ltd. (Repsol) (24 persen), dan PHE Corridor (30 persen). PI yang dimiliki para pemegang interes tersebut termasuk PI 10 persen yang akan ditawarkan kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Berdasarkan kontrak baru, Kontraktor akan berinvestasi dalam pelaksanaan Komitmen Kerja Pasti (KKP) lima tahun pertama sebesar US$ 25.000.000 dan Bonus Tanda Tangan sebesar US$ 250.000.000.

Komitmen kerja pasti diarahkan untuk mengerjakan enam paket pekerjaan, seperti di Dayung Lower Palembang, Suban Lower Palembang, Telisa Well Suban Far East, Suban Far East (prospek lanjutan). Dari semua paket tersebut, ada 9 pemboran sumur eksplorasi dan survey seismic 3D.

Blok Corridor merupakan salah satu blok migas yang bernilai strategis mengingat besarnya produksi gas mencapai 1.100 MMSCFD (million standard cubic feet per day) atau setara dengan 12 persen dari total produksi gas nasional saat ini. Selain itu, blok ini juga memproduksi minyak dan kondensat sekitar 6.600 BOPD (barrel oil per day).

Komitmen Kerja Pasti lima tahun pertama Blok Corridor pasca tahun 2023.

ConocoPhillips, selaku operator yang sekarang (eksisting), masih dipercaya mengemban tugas operator selama masa transisi pasca kontrak berakhir 19 Desember 2023. Setelah masa transisi berakhir (selama tiga tahun), Pertamina dipercaya menjadi operator selanjutnya.

Direktur Utama PHE Corridor, Taufik Aditiyawarman, memastikankan telah siap menjadi operator blok Corridor pada tahun 2026, atau tiga tahun setelah kontrak baru berjalan. Bagi Pertamina, mengelola blok Corridor sangat strategis karena nantinya akan terintegrasi dengan blok Rokan yang dikelola Pertamina mulai tahun 2021 dan Kilang Dumai di Riau.

Berdasarkan data saat ini, blok Corridor memiliki luas 2.095,25 Kilometer persegi dan sebagian besar berada di Provinsi Sumatera Selatan. Pertamina juga memiliki empat wilayah kerja aktif di area Sumatera Selatan yaitu Pertamina EP Aset 1, PHE Jambi Merang, PHE Ogan Komering dan PHE Raja Tempirai.

“Lokasi blok Corridor berada di wilayah administrasi yang sama dengan blok Jambi Merang yang saat ini dikelola oleh PHE Jambi Merang yaitu di Kabupaten Musi Banyuasin. Tentu ini akan menjadi nilai tambah bagi Pertamina saat menjadi operator blok Corridor,” tegas Taufik.

Sementara itu, Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H. Samsu menyatakan, peningkatan PI bagi Pertamina merupakan skema terbaik yang telah disepakati antara ketiga pihak pemegang hak partisipasi, Skema ini disebut baik untuk mengurangi risiko operasi terhadap keberlangsungan dan juga tingkat produksi.

“Pertamina bersemangat untuk mengelola blok ini yang merupakan lapangan fractured basement gas play yang menantang. Kami berkomitmen untuk melakukannya dengan baik guna menjaga kesinambungan produksi di blok migas tersebut,“ ujar Dharmawan.

Peta Blok Corridor di Sumatera Selatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here