Melistriki Daerah Pedalaman di Tanah Papua

0
1268
Proses pemasangan tiang listrik di lahan yang baru dibuka dengan kondisi geografis berbukit.

Jayapura, Petrominer — Melistriki Papua hingga ke wilayah pedalaman terus berlangsung. Sampai tahun 2019 mendatang, PT PLN (Persero) mentargetkan 2.500 desa dan 9 ibu kota kabupaten di Papua dan Papua Barat sudah bisa menikmati listrik 24 jam penuh.

Program ini merupakan amanah langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang telah menyatakan akan membangun Indonesia dari mulai pinggiran. Tujuannya sederhana saja, yakni supaya kesejahteraan rakyat di daerah-daerah tertinggal bisa meningkat, tidak jomplang dengan kota-kota besar.

Dalam kunjungannya ke Papua pada 17 Oktober 2016 lalu, Jokowi secara khusus meminta PLN untuk segera membuat Papua terang benderang. BUMN ini pun segera bergerak dan memasang target untuk sekitar 2.500 desa dan sembilan ibukota kabupaten di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.

Pada akhir tahun 2016 lalu, PLN Wilayah Papua dan Papua Barat telah berhasil mengalirkan listrik di 92 desa. Dengan rincian, 70 desa di Provinsi Papua Barat dan 22 desa di Provinsi Papua.

Sementara untuk tahun 2017 ini, PLN mematok target yang tidak main-main, yaitu 365 desa dan 8 ibukota kabupaten yang akan dialiri listrik. Sebanyak 231 desa berada di Provinsi Papua dan 134 desa lainnya berada di wilayah Provinsi Papua Barat.

Namun membangun infrastruktur kelistrikan di Papua bukanlah pekerjaan mudah. Pasalnya, infrastruktur perhubungan masih belum memadai, banyak kabupaten yang terisolasi. Misalnya Wamena yang hanya bisa dijangkau dengan pesawat kecil karena belum ada jalan darat ke sana.

Kalau ke wilayah seperti ini, material untuk membangun pembangkit listrik dan jaringannya pun harus diangkut lewat udara, sudah tentu harganya jadi lebih mahal. Tidak hanya itu, para pekerja PLN pun harus menembus hutan, pegunungan, tanah merah, lumpur, dan sebagainya untuk membangun jaringan listrik.

Iringan mobil truk pengangkut kadang terhambat jalanan yang berlumpur.

Sekitar 2.500 desa dan sembilan ibukota kabupaten menjadi tugas PLN, khususnya PLN Wilayah Papua dan Papua Barat untuk menerangi tanah Papua pada tahun 2019 mendatang.

Distrik Fef

Sejauh ini, PLN telah meresmikan 1 ibukota kabupaten dan 4 desa yang akhirnya terlistriki di mana sebelumnya gelap gulita.

“Kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi kami apabila daerah-daerah yang ada di Papua dan Papua Barat ini dapat teraliri listrik dari PLN. Terdapat tantangan-tantangan yang harus kami lewati untuk menerangi suatu daerah di Papua salah satunya jarak dan sarana yang ada,” kata Direktur Bisnis Regional Maluku dan Papua PLN, Haryanto WS, Rabu (24/5).

Salah satu ibukota kabupaten yang telah berhasil dilistriki adalah Fef yang merupakan ibukota dari Kabupaten Tambrauw. Ini merupakan ibukota kabupaten dengan akses dan kondisi geografis yang tidak mudah untuk dilalui. Hal tersebut juga merupakan kendala utama yang dihadapi PLN dalam melistriki desa-desa di Bumi Cenderawasih ini.

“Meskipun terdapat kendala-kendala dalam melistriki daerah-daerah di Papua ini dimana salah satunya mobilisasi material, namun kami akan terus berupaya agar masyarakat-masyarakat di pedalaman dapat menikmati listrik seperti di daerah-daerah lainnya yang sudah menikmati listrik terlebih dulu,” lanjut Haryanto.

Keterlambatan dalam mobilisasi material yang memiliki dampak cukup signifikan oleh PLN dalam melistriki suatu daerah dapat teratasi meskipun memakan waktu yang lebih dari target yang telah ditentukan sebelumnya. Kelancaran PLN dalam melistriki suatu daerah tidak lepas dari bantuan seluruh lapisan masyarakat dan stakeholder yang ada di Papua dan Papua Barat.

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat dan pemerintah setempat dalam yang terus mendukung program Papua Terang sehingga dapat terealisasi dengan cepat. Kami juga akan terus berjuang agar seluruh masyarakat di Papua dan Papua Barat bisa merasakan cahaya lampu di malam hari secara merata,” tegasnya.

Karena keterbatasan alat berat, tiang listrik pun ditarik oleh para pekerja di daerah yang berbukit.

Perasaan bahagia pun dirasakan pula oleh masyarakat di Ibukota kabupaten Fef, dimana beberapa waktu belakangan ini daerah tersebut mengalami kegelapan. Penerangan yang hanya seadanya membuat pemerintah dan masyarakat mengharapkan kehadiran PLN di ibukota kabupaten tersebut. Hubungan yang berjalan baik antara PLN dan juga Pemerintah Kabupaten Tambrauw telah mendorong realisasi “Habis Gelap Terbitlah Terang” di Ibukota Fef.

Sebelumnya, belum ada penerangan sama sekali dan masih sangat gelap di desa ini. Penerangan hanya menggunakan damar/pelita. Para penduduk pun menyatakan sangat bangga karena sudah dapat penerangan dari PLN.

“Kami ucapkan terima kasih kepada pemerintah dan PLN yang telah bersedia menerangi Desa Fef. Semoga dengan adanya listrik ini dapat membantu kami dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari baik dari segi pendidikan, kesehatan, pemerintahan, dan sebagainya. Harapan kami agar kedepannya listrik dapat beroperasi selama 24 jam,” ungkap Kepala Distrik Fef, Yosep Yewen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here