Jakarta, Petrominer — PT PLN (Persero) mencatat peningkatan kinerja sepanjang tahun 2016 lalu karena berhasil melakukan efisiensi dan pengelolaan fuel mix untuk pembangkit listrik. Kinerja kian positif karena BUMN ini terus melakukan penambahan kapasitas pembangkit yang juga mendorong kenaikan penjualan tenaga listrik.
“Perseroan selama tahun 2016 mencapai realisasi kinerja operasi yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya,” ujar Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, ketika menyampaikan Laporan Keuangan PLN Tahun 2016 di kantor Pusat PLN, Rabu (5/4).
Laporan keuangan PLN itu telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar & Rekan, Firma anggota jaringan global RSM dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified opinion).
Laporan tersebut menyebutkan bahwa nilai penjualan tenaga listrik PLN selama tahun 2016 mengalami kenaikan sebesar Rp 4,3 triliun atau 2,05% menjadi Rp 214,1 triliun. Tahun sebelumnya, PLN mencatat nilai penjualan sebesar Rp 209,8 triliun.
Pertumbuhan penjualan ini, jelas Sofyan, berasal dari kenaikan volume penjualan menjadi sebesar 216,0 Terra Watt hour (TWh) atau naik 6,49% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 202,8 TWh.
Peningkatan penjualan tersebut sejalan dengan keberhasilan PLN di tahun 2016 dalam menambah kapasitas pembangkit sebesar 3.714 MW. Tambahan kapasitas itu berasal dari pembangkit PLN sebesar 1.932 MW dan Independent Power Producer (IPP) sebesar 1.782 MW. BUMN ini juga telah berhasil menyelesaikan 2.859 kilometer sirkuit (kms) jaringan transmisi dan Gardu Induk sebesar 14.123 MVA.
Peningkatan konsumsi kWh ini juga didukung dari adanya kenaikan jumlah pelanggan, di mana sampai dengan akhir tahun 2016 telah mencapai 64,3 juta. Angka itu naik 3,1 juta pelanggan dari akhir tahun 2015 yang sebesar 61,2 juta pelanggan.
Bertambahnya jumlah pelanggan ini juga mendorong kenaikan rasio elektrifikasi nasional yaitu dari 88,3 % pada Desember 2015 menjadi 91,16% pada Desember 2016. Ini melampau target rasio elektrifikasi tahun 2016 yang tertuang dalam Renstra 2015-2019, sebesar 90,15%.
Pada Tahun 2016, PLN terus berusaha menekan harga jual tenaga listrik sehingga bisa menjual lebih murah kepada pelanggan dibandingkan tahun 2015. Tahun 2016, harga jual rata rata Rp 994/kWh turun sebesar Rp 41/kWh dari Rp 1.035/kWh pada tahun 2015. Penurunan harga jual ini masih bisa diimbangi oleh efisiensi internal PLN hingga tidak terlalu menggerus laba.
Seiring dengan meningkatnya produksi listrik, beban usaha perusahaan naik sebesar Rp 8,2 triliun atau 3,32% menjadi Rp 254,4 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 246,3 triliun.
Program Efisiensi
Pertumbuhan beban usaha tahun 2016 lebih kecil dibandingkan pertumbuhan kWh jual karena PLN terus melakukan program efisiensi melalui substitusi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dengan penggunaan batubara/energi primer lain yang lebih murah. PLN juga berhasil melakukan pengendalian biaya bukan BBM.
Efisiensi terbesar terlihat dari berkurangnya biaya BBM sebesar Rp 12,3 triliun. Sehingga pada 2016 menjadi Rp 22,8 trilliun atau 35,03% dari tahun sebelumnya Rp 35,0 trilliun. Itu terjadi terutama karena penurunan konsumsi BBM 0,8 juta kilo liter, sehingga volume pemakaian sampai dengan 2016 sebesar 4,7 juta kilo liter.
Laba Rp 10,5 triliun
Dalam laporan keuangan itu juga disebutkan bahwa EBITDA tahun 2016 sebesar Rp 57,99 triliun, naik Rp 6,5 triliun dibandingkan tahun 2015 sebesar Rp 51,49 triliun. Hal ini menunjukkan peningkatan kemampuan PLN dalam berinvestasi dengan dana internal dan kemampuan untuk mengembalikan pinjaman.
Perbaikan kinerja PLN pada periode tahun 2016 mengantarkannya untuk dapat mencetak laba bersih sebesar Rp 10,5 triliun, lebih rendah dibandingkan laba tahun 2015 (tanpa penerapan lSAK 8) sebesar 15,6 triliun. Hal tersebut terutama karena PLN berusaha untuk terus memberikan tarif yang kompetitif bagi masyarakat dan dunia usaha. Selain itu, PLN juga mengikuti tax amnesty untuk mendukung program pemerintah, sehingga beban pajak tahun 2016 meningkat cukup signifikan.
Dengan terbitnya POJK Nomor 6 tahun 2017 yang berlaku prospektif, maka Laporan Keuangan PLN Tahun Buku 2016 tidak lagi mencatat transaksi jual beli tenaga listrik dengan perusahaan pengembang listrik swasta (IPP) sebagai transaksi sewa pembiayaan.
Untuk melaksanakan proyek 35.000 MW diperlukan dana yang sangat besar, dengan porsi PLN sekitar Rp 600-700 triliun. Sebelum dilakukannya revaluasi aset, posisi Debt to Equity Ratio (DER) PLN sudah mendekati 300% sehingga sangat terbatas untuk menambah jumlah pinjaman yang memadai.
Dengan dilakukannya revaluasi aset per 31 Desember 2015, maka total aset dan ekuitas perseroan di akhir tahun 2015 meningkat sekitar Rp 650 triliun atau masing-masing meningkat sebesar 227% dan 453%. Revaluasi aset telah meningkatkan solvabilitas perseroan sehingga menambah ruang kapasitas pinjaman guna mendukung program 35.000 MW.








Tinggalkan Balasan