Salah satu kegiatan survei pendahuluan untuk sumberdaya panasbumi.

Jakarta, Petrominer – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sepanjang tahun 2020 telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi (migas), Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) Mineral dan Batubara (minerba), dan Wilayah Kerja Panasbumi. Rekomendasi ini merupakan hasil dari survei kegeologian yang dilakukan sepanjang tahun 2020.

“Dari survei kegeologian yang telah kami lakukan di tahun 2020, dihasilkan tiga rekomendasi area potensi migas konvensional dan satu non konvensional. Terkait dengan minerba dan panasbumi, ada 10 rekomendasi untuk WIUP mineral, 10 WIUP batubara, dan tiga WK Panasbumi,” ujar Kepala Badan Geologi, Eko Budi Lelono, pada Konferensi Pers Virtual Capaian Kinerja 2020 dan Rencana Kerja 2021 Badan Geologi, Rabu (20/1).

Menurut Eko, rekomendasi terkait sumberdaya migas tahun lalu itu menggenapi 38 rekomendasi WK Migas yang telah dikeluarkan Badan Geologi sejak tahun 2015. Tiga rekomendasi WK (RWK) Migas Konvensional adalah RWK Banjarnegara di Jawa Tengah, RWK West Madura (Bawean II) di Jawa Timur, dan RWK Muna-Button di Sulawesi Tenggara. Sementara satu RWK Migas Non Konvensional adalah RWK Sumatera Tengah di Riau.

“Dari hasil survei tersebut kami merekomendasikan WK Migas Konvensional maupun Non Konvensional yang bisa untuk ditindaklajuti. Ini kami serahkan kepada Direktorat Jenderal Migas, apakah nanti akan ditindaklanjut berupa penawaran WK atau perlu ada pendalaman atau survei tambahan,” jelasnya.

Selain mengeluarkan RWK Migas, tahun lalu Badan Geologi juga melakukan Survei Geologi Migas Cekungan Pembuang di Kalimantan Selatan.

Sementara untuk pengungkapan potensi mineral, Badan Geologi telah melakukan survei dan penyelidikan di sembilan lokasi, yaitu prospeksi lanjut emas dan mineral ikutannya di Sumatera Utara, mineral logam mulia dan logam dasar di Nusa Tenggara Barat, logam tanah jarang dan mineral loga strategis di Sulawesi Tengah, nikel dan mineral pengikutnya di Maluku Utara, geokimia regional bersistem lembar Morotai A-1 di Maluku Utara, batu gamping di Aceh, Fosfat di Aceh, kaolin di Kalimantan Barat, dan batu mulia di Sulawesi Barat.

“Kami mengeluarkan lima rekomendasi WIUP mineral logam dan lima rekomendasi WIUP bukan logam. Juga di tahun 2020, kami melakukan evaluasi wilayah keprospekan dari daerah eks PT Freeport Indonesia,” jelas Eko.

Untuk mengungkap potensi batubara Indonesia, Badan Geologi telah melakukan enam survei dan penyelidikan batubara, yakni survei tinjau batubara di Bengkulu, survei terpadu geologi dan geofisika di Sumatera Selatan, prospeksi gambut di Kalimantan Barat, survei tinjauan batubara di Kalimantan Selatan, prospeksi batubara di 2 lokasi di Sulawesi Selatan. Hasilnya, rekomendasi untuk 10 WIUP Batubara.

Badan Geologi juga melakukan karakterisasi batubara metalurgi. Total sumber daya indikasi batubara metalurgi adalah 7,23 metric ton (MT), sementara cadangannya adalah 1,74 MT. Selain itu dilakukan pula pengungkapan jenis, konsentrasi, dan tipe logam tanah jarang di 6 daerah terpilih di Kalimantan.

Untuk sumberdaya panasbumi, Badan Geologi melakukan survei di enam lokasi. Survei dilakukan di Aloe Calong Aceh, Ciamis Jawa Barat, Panulisan Jawa Tengah, Sulili Sulawesi Selatan, Nagekeo Nusa Tenggara Timur, dan Pinamuda Sulawesi Tengah. Adapun terdapat 3 usulan WK Panas Bumi yakni di Limbong Sulawesi Selatan (12 MWe), Sajau Kalimantan Utara (6 MWe), dan Bandabaru Maluku (9 MWe).

“Ini ke depannya kami akan tindaklanjuti beberapa lokasi, setidaknya tiga lokasi yang akan dibor untuk membuktikan keberadaan panasbumi tersebut,” ungkap Eko.

Selain 27 rekomendasi tersebut, Badan Geologi juga mengeluarkan satu rekomendasi/penetapan Kawasan Bentang Alam Karst, satu rekomendasi WK Gas Metana Batubata (GMB), lima rekomendasi penyelidikan geologi terpadu, dan 1.689 rekomendasi teknis untuk air tanah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here