Pelepasliaran “Sri Nabilla” dilakukan, Selasa (3/11). Dihadiri oleh Kepala BBKSDA Sumut Hotmauli Sianturi, Bupati Gayo Lues Muhammad Amru, Manajer Hubungan Pemerintahan PTAR Irwanto Situmorang, Superintendent Hubungan Eksternal Departemen Eksplorasi PTAR Gunawanta Bangun, perwakilan dari Yayasan Parsamuhuan Bodhicitta Mandala Medan, perwakilan beberapa LSM terkait, serta tim dokter hewan yang menangani dan memantau kesehatan “Sri Nabilla” yang dipimpin oleh drh Anhar Lubis.

Batangtoru, Petrominer – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, berhasil melepas-liarkan Harimau Sumatera “Sri Nabilla” ke Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Aceh, Selasa (3/11).

Ada peran dan dukungan dari PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, dalam pelepasliaran hariman betina itu. Dukungan yang diberikan berupa fasilitas pengangkutan atau alat transportasi berupa helikopter dan pilot dari Bandara Patiambang di Gayo Lues, Aceh. Dari lokasi ini, Sri Nabila diterbangkan ke lokasi di Hutan Kappi, yang merupakan Zona Inti di Kawasan TNGL.

Sebelum diangkut menggunakan helikopter, “Sri Nabilla” lebih dulu menempuh perjalanan darat dari Sanctuary Harimau Barumun Nagari, Aek Godang, Barumun di Tapanuli Selatan menuju Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh.

Sebelumnya, “Sri Nabilla” masuk ke kandang jebak di Desa Tapus Sipagimbal, Kecamatan Aek Bilah, Tapanuli Selatan pada 24 Agustus 2020. Berdasarkan catatan BBKSDA Sumatera Utara, “Sri Nabilla” telah berkonflik dengan masyarakat sekitar desa sejak Mei 2020.

“Dukungan yang diberikan PTAR merupakan bukti komitmen perusahaan terhadap pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, salah satunya dukungan perlindungan atas flora dan fauna,” ujar Direktur Hubungan Eksternal PTAR, Sanny Tjan.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) Kementerian LHK, melepasliarkan harimau sumatera “Sri Nabilla” di daerah Kappi, yang merupakan Zona Inti Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Kabupaten Gayo, Aceh, Selasa pagi (3/11).

Lebih lanjut, Sanny menjelaskan, PTAR bekerja sama dengan SCORPION Foundation Indonesia untuk terus mendukung upaya-upaya proteksi dan konservasi di Tapanuli Selatan.

Selain dukungan untuk “Sri Nabilla”, bersama SCORPION dan BBKSDA Sumut, juga mendukung penyelamatan unggas yang dilindungi yakni burung nuri merah (Red Lory/Eos Bornea), burung berparuh besar (Rhinoceros) dan elang (Niseaetus Cirrhatus).

Saat ini, elang tersebut tengah dalam pengawasan dan perawatan lebih lanjut di Pusat Transit Satwa Liar di Sipirok. Selanjutnya, hewan itu akan kembali dilepasliarkan di Hutan Batangtoru ketika sudah lebih siap.

Manajer Senior Komunikasi Korporat PTAR, Katarina Siburian Hardono, menambahkan bahwa tak hanya upaya dan dukungan terhadap pengelolaan lingkungan eksternal, perusahaan juga berkomitmen untuk menerapkan praktik pengelolaan lingkungan berkelanjutan di lingkungan internal operasional Tambang Emas Martabe. Salah satunya melalui program rehabilitasi.

Pada tahun 2019, PTAR telah mengajukan revisi dokumen penutupan tambang dengan nilai jaminan US$28,3 juta sehingga seluruh area operasional tambang telah memiliki rencana penutupan tambang.

“Sepanjang tahun lalu pula, total 35,5 hektare area telah distabilkan dengan tanaman penutup. Sebanyak 2.886 bibit telah ditanam selama 2019 dan perusahaan telah menyiapkan 5.828 bibit dari 45 spesies tanaman di fasilitas pembibitan (nursery),” ungkap Katarina.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here