Gunung Merapi di perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah masih mengalami erupsi dengan intensitas tinggi. Namun dari hasil pemantauan jangka panjang, intensitas erupsi cenderung menurun.

Bandung, Petrominer – Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan ada sembilan gunung api yang mengalami erupsi, baik eksplosif maupun efusif, selama periode Januari hingga Juni 2022. Selama periode tersebut, juga terjadi 10 kejadian gempa bumi merusak dengan total korban jiwa 27 orang.

“Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) selalu melakukan berbagai upaya strategis guna mengurangi risiko bencana geologi. Hal ini tidak lain karena kami ingin terus memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat,” ujar Kepala PVMBG, Hendra Gunawan, dalam Konferensi Pers mengenai Informasi Kebencanaan Geologi Semester I-2022 yang digelar secara daring, Kamis (4/8).

Menurut Hendra, gunung api yang mengalami erupsi Dempo, Merapi, Semeru, Anak Krakatau, Ili Lewotolok, Soputan, Karangetang, Ibu, dan Dukono. Dari jumlah tersebut, terdapat dua gunung api yang erupsinya disertai awan panas atau bahasa ilmiah disebut “Aliran Piroklastik, dan tiga gunung api yang aktivitasnya disertai guguran lava.

“Berdasarkan data BPPTKG, saat ini Gunung Merapi masih mengalami erupsi dengan intensitas tinggi, dengan rata-rata kejadian guguran adalah sekitar 81 kali dengan jarak luncur maksimal 2 km ke arah Kali Bebeng dan terkadang disertai dengan awan panas guguran. Namun, dari hasil pemantauan jangka panjang, intensitas erupsi cenderung menurun,” paparnya.

Hendra menjelaskan saat ini terdapat lima gunung api dengan tingkat aktivitas Level III atau SIAGA, yaitu Anak Krakatau, Merapi, Semeru, Ili Lewotolok dan Awu. Sebanyak 14 gunung api di Level II atau WASPADA; dan 49 gunung api di Level I atau NORMAL.

Status gunung api di Indonesia saat ini.

Terkain dengan bencana gempa bumi, dalam enam bulan terakhir ini telah terjadi 10 kejadian gempa bumi merusak dengan total korban jiwa sebanyak 27 orang dan 479 orang mengalami luka-luka. Bencana alam tersebut juga menyebabkan sekitar 4.717 bangunan mengalami kerusakan ringan hingga berat.

Wilayah terjadinya gempa bumi merusak ini adalah Tobelo, Pandeglang, Kepulauan Talaud, Pasaman Barat, Sukabumi, Seram Barat, Kendari, Halmahera Utara, Maluku Barat Daya, dan Mamuju.

Sumber gempa bumi yang aktif pada bulan Januari hingga Juli 2022 berasal dari zona penunjaman serta sesar aktif seperti terlihat di peta berikut ini. Pada periode semester satu tahun 2022 ini, tidak ada kejadian tsunami di wilayah Indonesia.

“Gempa Pasaman Barat yang terjadi pada tanggal 25 Februari 2022 merupakan gempa bumi paling merusak pada periode ini. Selain mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan bangunan, juga menyebabkan bahaya ikutan berupa retakan tanah, likuefaksi, dan gerakan tanah. Badan Geologi telah melakukan kegiatan tanggap darurat atau kaji cepat untuk memetakan dan menganalisis dampak gempa bumi serta memberikan rekomendasi teknis mitigasi bencana gempa bumi,” ungkap Hendra.

Dia juga menyampaikan bahwa gerakan tanah adalah bencana geologi yang paling sering terjadi di Indonesia, khususnya di musim penghujan. Pada bulan Januari hingga Juni 2022, di seluruh Indonesia telah terjadi 318 kejadian gerakan tanah dengan korban jiwa sebanyak 35 orang, 459 orang pengungsi, dan 903 bangunan rusak.

Kondisi ini telah mendorong PVMBG untuk melakukan berbagai kegiatan terkait upaya mitigasi bencana geologi. Selain pemantauan gunung api, PVMBG juga telah melakukan 13 kegiatan Tanggap Darurat, pemetaan 1 Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Api, pemetaan 2 Peta Geologi Gunung Api, dan 2 revisi Peta KRB Gunung Api. 33 rekomendasi terkait aktivitas gunung api di atas normal, 307 VONA, 2 instalasi peralatan pemantauan gunung api, dan 3 optimalisasi peralatan pemantauan gunung api.

“Salah satu manfaat yang diberikan dalam mitigasi bencana geologi adalah rekomendasi pembangunan kembali daerah bencana dan lahan relokasi pasca bencana. Selain itu, PVMBG tetap melakukan pendampingan dalam penyusunan rencana kontingensi, edukasi kepada masyarakat, serta penyusunan kebijakan terkait tata ruang, peta risiko, dan lain-lain,” ujar Hendra.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here