Jakarta, Petrominer – Ketergantungan terhadap energi fosil yang tinggi mendorong Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengembangkan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan. Selain mengimplementasikan penggunaan bahan bakar dari campuran solar dan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebanyak 30 persen (B-30), Pemerintah juga mendorong pengembangan green fuel berbasis minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO).

Direktur Bioenergi, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna, mengatakan bahwa Pemerintah terus mendorong pemanfatatan bahan bakar nabati. Saat ini, sedang dilakukan uji coba B-40 dan pengembangan green fuel yang nantinya diharapkan dapat menghasilkan Green Diesel (D-100), Green Gasoline (G-100) dan Green Jet Avtur (J-100) yang berbasis CPO.

“Pemerintah menggandeng Pertamina untuk melakukan pengembangan green fuel di kilang-kilang Pertamina yang berada di sentra produksi sawit, baik secara co-processing di kilang-kilang existing maupun ke depannya dengan pembangunan kilang baru (standalone) yang didedikasikan untuk green fuel,” ujar Feby, Sabtu (18/7).

Menurutnya, produk green fuel ini mempunyai karakterisitik yang mirip dengan bahan bakar yang berbasis fosil. Namun, untuk beberapa parameter, kualitasnya jauh lebih baik dari bahan bakar berbasis fosil fuel.

Green diesel atau Diesel Biohydrokarbon memliliki keunggulan dibandingkan diesel yang berbasis fosil maupun biodiesel berbasis FAME. Di antaranya adalah cetane number yang relatif lebih tinggi, sulfur content yang lebih rendah, dan oxidation stability yang lebih baik serta berwarna lebih jernih.

Co-processing merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk memproduksi green fuel melalui proses pengolahan bahan baku minyak nabati dengan minyak bumi secara bersamaan.

“Saat ini, Pertamina telah berhasil menginjeksikan Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) pada unit Distillate Hydrotreating Refinery Unit (DHDT) di beberapa kilang eksisting dengan menggunakan katalis Merah-Putih hasil karya anak bangsa, yakni Tim ITB,” ungkap Feby.

Di Refinery Unit II di Dumai, Riau, Pertamina telah melakukan uji coba secara bertahap. Dimulai dari campuran 7,5, 12,5 hingga 100 persen.

“Kita patut memberikan apresiasi atas keberhasilan Pertamina memproduksi green diesel dengan bahan baku 100 persen CPO. Harapannya uji coba ini bisa dilanjutkan di RU-RU lainnya dan diimplementasikan secara kontinyu sehingga kita benar-benar bisa mandiri dalam menghasilkan bahan bakar minyak yang ramah lingkungan dengan bahan baku dari dalam negeri,” jelasnya.

Lebih lanjut, Feby menyampaikan bahwa dalam rangka menyamakan persepsi, saat ini sedang disusun usulan nomenklatur untuk produk-produk BBN, yaitu Biodiesel dengan kode B-100, Bioetanol (E-100), Bensin biohidrokarbon (G-100), Diesel biohidrokarbon (D-100), avtur biohidrokarbon (J-100).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here