Rig offshore di lapangan Kerisi, blok South Natuna Sea Block B, yang dioperasikan Medco E&P Natuna Ltd.

Jakarta, Petrominer – SKK Migas mencatat ada Sembilan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang mampu mencatatkan lifting di atas 100 persen dalam periode sembilan bulan tahun 2021 ini. Kinerja ini menopang capaian industri hulu minyak dan gas bumi (migas) di tengah pandemi Covid-19 yang menyebabkan belum optimalnya operasional karena pembatasan mobilitas dan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Deputi Operasi SKK Migas, Julius Wiratno, mengatakan bahwa dampak Covid-19 masih sangat mengganggu operasional hulu migas. Meski begitu, SKK Migas dan KKKS terus melakukan upaya agar kinerja hulu migas tetap optimal.

“Upaya yang dilakukan tersebut membuahkan hasil yang menggembirakan dengan capaian lifting migas yang sebesar 96 persen, meskipun ada beberapa proyek utama yang penyelesainnya mundur dari target,” ujar Julius, Senin (25/10).

Sampai Triwulan III tahun 2021, realisasi lifting migas sebesar 1,640 barrel oil equivalent per day (BOEPD) atau sebesar 96 persen dari target APBN. Realisasi tersebut tidak lepas dari kinerja sejumlah KKKS yang mampu mencatatkan lifting di atas 100 persen.

Untuk minyak, ada tujuh KKKS yang mencapai di atas 100 persen target lifting. Sementata untuk gas, terdapat sembilan KKKS yang berhasil mencapai lifting (salur) gas di atas 100 persen.

KKKS yang berhasil melampaui target lifting minyak adalah Pertamina Hulu Mahakam (PHM) sebesar 25.119 barel minyak per hari (BOPD) atau 114,5 persen, Medco E&P Natuna sebesar 14.509 BOPD atau 138,2 persen, Pertamina Hulu Sanga-Sanga sebesar 12.129 BOPD atau 101,9 persen, ConocoPhilips (Grissik) LTD sebesar 7.014 BOPD atau 104,8 persen, JOB Pertamina–Medco Tomori Sulawesi LTD sebesar 6.730 BOPD atau 103,9 persen dan Husky-CNOOC Madura LTD sebesar 6.564 BOPD atau 109,4 persen.

Untuk gas, KKKS yang capaian lifting melebihi target APBN antara lain ConocoPhilips (Grissik) LTD sebesar 831 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 106,5 persen, PHM sebesar 489 MMSCFD atau 119,2 persen, ENI Muara Bakau BV sebesar 325 MMSCFD atau 111,7 persen, JOB Pertamina–Medco Tomori Sulawesi LTD sebesar 283 MMSCFD atau 101,7 persen, Premier Oil Indonesia sebesar 197 MMSCFD atau 109,2 persen, Medco E&P Natuna sebesar 133 MMSCFD atau 111,2 persen, Husky-CNOOC Madura LTD sebesar 100 MMSCFD atau 100,3 persen dan Pertamina Hulu Energi ONWJ LTD sebesar 68 MMSCFD atau 109,5 persen.

Julius mengakui pandemi ini telah berdampak langsung karena ditemukannya pekerja hulu migas maupun kontraktor di proyek yang terkena Covid-19. Padahal, operasional hulu migas telah dijaga seketat mungkin dengan prosedur protokol kesehatan sudah melampaui yang ditetapkan Pemerintah. Dampaknya terjadi outbreak, yang meskipun telah dilakukan berbagai cara hilangnya waktu akibat outbreak tidak semua bisa di-recovery.

“Seperti yang terjadi pada proyek Tangguh Train 3 dan Jambaran Tiung Biru (JTB) yang karena terjadi outbreak bertubi-tubi menyebabkan jadwal onstream meleset sehingga berdampak pada capaian lifting di tahun 2021,” ungkapnya.

Meski begitu, Julius menyebutkan bahwa kinerja gemilang KKKS yang melampaui target APBN 2021 ini menunjukkan bahwa meskipun ada keterlambatan penambahan produksi dari proyek hulu migas, pada sisi lain operasional produksi dapat dijaga secara optimal sehingga terdapat KKKS yang melampaui target APBN 2021. Hal ini menunjukkan bahwa koordinasi dan sinergi antara SKK Migas dan KKKS terus meningkat. Terlebih implementasi sistem secara digital melalui penambahan modul-modul di integrated operation center (IOC) sehingga pengawasan SKK Migas terhadap operasional dan proyek KKKS tetap bisa dilaksanakan secara optimal, real time 24 jam.

SKK Migas pun memberikan apresiasi atas kinerja KKKS yang melampaui target APBN 2021, dan akan mendorong KKKS yang belum mencapai target untuk meningkatkan kinerjanya di sisa tahun 2021 sekaligus akan menjadi level entry yang optimal memasuki tahun 2022, mengingat target APBN 2022 sudah dipatok tinggi.

“Tidak ada kata menyerah, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa merealisasikannya, sekaligus menjadi pondasi untuk upaya peningkatan produksi migas nasional secara berkelanjutan mencapai target 2030 yaitu produksi minyak 1 juta barrel dan gas 12 BSCFD”, tegas Julius.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here