Jakarta, Petrominer – PT Krakatau Steel (Persero) terus berbenah dan konsisten melakukan transformasi maupun restrukturisasi. Hasilnya, Krakatau Steel mampu melewati berbagai tantangan. Bahkan di tengah upaya tersebut, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini tetap mendapatkan kepercayaan penuh dari para pemangku kepentingan.
Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menyebutkan bahwa imbas dari kepercayaan publik tersebut terlihat dari meningkatnya harga saham Krakatau Steel.
“Kinerja ini tidak hanya menjadi catatan finansial semata, tetapi lebih jauh mencerminkan tumbuhnya trust publik dan investor terhadap Krakatau Steel,” jelas Akbar, Kamis (24/7).
Sementara Kepala Riset Praus Capital, Marolop Alfred Nainggolan, mengatakan kenaikan ini bersifat individu tanpa ada kontribusi sentimen sektoral dan sentiment pasar. Lonjakan harga saham Krakatau Steel dalam beberapa pekan juga menunjukkan bahwa pasar sangat responsif terhadap aksi pertumbuhan anorganik.
Aflred memberi contoh upaya menggandeng Delong Steel dalam investasi strategis di sektor baja dan potensi kerja sama strategis lainnya. Skala nilai kerja sama yang signifikan tentu akan memberikan dampak yang signifikan, selain kepercayaan dari produsen global kepada Krakatau Steel.
“Begitu juga dengan kepemilikan oleh PT Danantara Asset Management (Danantara), memberikan harapan besar untuk percepatan penyelesaiaan restrukturisasi yang ada di Perseroan,” ungkapnya.
Aksi Korporasi
Lebih lanjut, Akbar menjelaskan bahwa sejak bulan Maret 2025 hingga saat ini, Krakatau Steel telah melakukan berbagai kesepakatan kerja sama dan aksi korporasi. Di antaranya penandatanganan nota kesepahaman dengan Delong Steel Group, penandatanganan bersama Xiamien ITG Group Co., Ltd. (International Trade Group/ITG) dan PT Dexin Steel Indonesia dalam konteks BRICS Innovation Base Industry Project Matchmaking Meeting di Beijing, China, kerja sama dengan Tatarstan Trade House di Rusia, serta ekspor 2.400 ton baja ke Polandia.
“Setelah bulan Juli 2025 ini, Krakatau Steel melalui PT Krakatau Baja Industri dan PT Tata Metal Lestari kembali melakukan ekspor 10.000 ton ke Amerika Serikat,” paparnya.
Setelah seluruh BUMN bergabung bersama Danantara, banyak terjadi perubahan signifikan, terutama yang terkait leverage investasi untuk nilai tambah perusahaan ke depan.
“Birokrasi yang lebih cepat diharapkan terjadi setelah Krakatau Steel berada di bawah Danantara. Kami juga akan terus berupaya melakukan pengembangan dan perbaikan setelah diterimanya dukungan dana dari Danantara,” ujar Akbar.
Dalam kesempatan itu, dia juga menekankan bahwa industri baja harus melakukan procurement yang efisien. Setelah reaktivasi pabrik Hot Strip Mill 1, Krakatau Steel diharapkan terus secara optimal menghasilkan produk baja berkualitas.
“Sudah saatnya Krakatau Steel menjadi payung bagi industri baja di Indonesia, proyek-proyek strategis diharapkan dapat secara optimal menyerap produk baja domestik sehingga perekonomian Indonesia kuat, industri nasional meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan baja dalam negeri,” tegas Akbar.
Dengan penataan kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah, dia mengaku yakin industri baja nasional lebih tangguh menghadapi gejolak ekonomi global. Pemerintah pun didesak agar tidak malu memperketat proteksi, safeguard, antidumping, maupun kebijakan yang berpihak pada pengembangan industri baja nasional.








Tinggalkan Balasan