Perkembangan harga minyak mentah Indonesia Periode 2020-2021.

Jakarta, Petrominer – Harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) kembali mengalami penurunan. Berdasarkan perhitungan Formula ICP, rata-rata ICP bulan Desember 2021 sebesar US$ 73,36 per barel, turun US$ 6,77 per barel dari US$ 80,13 per barel pada bulan sebelumnya.

ICP SLC juga mengalami penurunan sebesar US$ 7,12 per bulan, dari US$ 80,15 per barel dari bulan sebelumnya menjadi US$ 73,03 per barel. Kondisi serupa juga dialami harga minyak mentah di pasar internasional.

Dikutip dari Executive Summary Tim Harga Minyak Mentah Indonesia, penurunan ini antara lain dipengaruhi oleh pelaku pasar yang menanggapi secara overreacted atas ketidakpastian kondisi pasar seiring peningkatan kasus Covid-19. Pasar kian tertekan dengan laporan inflasi, pelepasan cadangan strategis dan berlanjutnya peningkatan produksi OPEC+ serta penguatan nilai tukar Dollar AS terhadap mata uang utama dunia lainnya.

“Kondisi ini menyebabkan turunnya minat investor pada komoditas minyak hingga level terendah dalam beberapa tahun dan mendorong aksi profit taking di saat harga masih tinggi,” tulis laporan tersebut yang diperoleh PETROMINER, Sabtu (8/1).

Faktor lainnya adalah munculnya varian Covid-19 baru, yakni Omicron, yang menyebar dengan cepat awal Desember 2021 dan penetapan WHO atas varian Omicron sebagai varian of concern di beberapa kawasan seperti Afrika Selatan, Eropa, Amerika, dan Asia. Akibatnya, negara-negara di Eropa seperti Inggris, Norwegia, Jerman, Italia, Australia, Denmark dan China memutuskan untuk kembali menerapkan pembatasan aktifitas.

“Hal tersebut menyebabkan kekhawatiran terjadinya penurunan aktivitas ekonomi dan penurunan permintaan minyak mentah global serta ekspektasi pasar agar OPEC+ menunda keputusan untuk tetap melanjutkan peningkatan produksi minyak,” mengutip laporan tersebut.

Terkait pasokan/produksi dan stok minyak, Energy Information Administration (EIA) melaporkan kenaikan stok gasoline sebesar 7,3 juta barel menjadi 222,7 juta barel. Ini terjadi menyusul turunnya permintaan secara musiman yang diperkuat dengan pengetatan aktifitas akibat sebaran varian virus Omicron.

Sementara International Energy Agency (IEA) dalam laporan bulan Desember 2021 menyatakan bahwa pasokan minyak mentah global melebihi permintaan terutama akibat peningkatan produksi AS. Hal ini seiring dengan peningkatan aktifitas pengeboran dan peningkatan produksi OPEC+ sebesar 450.000 barel per hari.

Sedangkan terkait permintaan minyak, IEA dalam laporan bulan Desember 2021 menyatakan rata-rata permintaan minyak mentah global tahun 2021 mengalami penurunan 100.000 barel per hari. Kenaikan ini terjadi menyusul peningkatan kasus Covid-19 yang berdampak terutama pada penurunan aktifitas penerbangan dan konsumsi bahan bakar jet.

OPEC melaporkan permintaan minyak pada kuartal IV-2021 disesuaikan sedikit turun terutama untuk memperhitungkan langkah-langkah penahanan Covid-19 di Eropa dan potensi dampaknya terhadap permintaan bahan bakar transportasi, serta munculnya varian Omicron. Total permintaan minyak dunia sebesar 96,63 juta barel per hari secara tahunan pada tahun 2021.

Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah selain disebabkan oleh faktor-faktor tersebut juga dipengaruhi oleh terus berlanjutnya ekspektasi akan pelepasan cadangan minyak strategis China, penurunan pertumbuhan perekonomian di wilayah Asia Pasifik, terutama di China dan India, serta penurunan impor minyak mentah di China dan Jepang.

Perkembangan harga minyak mentah dunia berdasarkan publikasi Platt’s periode 2020-2021.

Berikut perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional bulan Desember 2021 dibandingkan November 2021:

  • Dated Brent turun US$ 7,34 per barel dari US$ 81,44 per barel menjadi US$ 74,10 per barel.
  • WTI (Nymex) turun US$ 6,96 per barel dari US$ 78,65 per barel menjadi US$ 71,69 per barel.
  • Basket OPEC turun US$ 6,88 per barel dari US$ 80,37 per barel menjadi US$ 73,49 per barel.
  • Brent (ICE) turun US$ 6,05 per barel dari US$ 80,85 per barel menjadi US$ 74,80 per barel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here