Perkembangan harga minyak mentah Indonesia Periode 2017-2018.

Jakarta, Petrominer – Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar Internasional pada bulan Maret 2018 mengalami kenaikan sedikit. Kondisi ini menahan tren laju kenaikan yang terjadi sejak pertengahan tahun 2017 lalu.

Perkembangan ini juga diikuti oleh harga minyak mentah Indonesia dari hasil perhitungan Formula ICP (Indonesian Crude Price). Berdasarkan Laporan Perkembangan Pasar Minyak bulan Maret 2018 dari SKMIGAS, yang diterima Petrominer, Senin (9/4), harga minyak mentah Indonesia mengalami sedikit kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

ICP (yang terdiri dari 43 jenis) tercatat sebesar US$ 61,87 per barel, naik US$ 0,26 per barel dibandingkan bulan Pebruari yang sebesar US$ 61,61 per barel. Penguatan serupa juga terjadi pada harga rata-rata ICP SLC yang naik sebesar US$ 0,54 per barel dari US$ 62,31 per barel menjadi US$ 62,85 per barel.

Penguatan sedikit harga minyak mentah Indonesia tersebut dan juga harga minyak mentah utama lainnya di kawasan Asia Pasifik dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan minyak di Korea Selatan. Tahun 2018 ini, permintaan minyak di negara Ginseng tersebut diproyeksikan terus mengalami peningkatan, terutama karena pembangunan ekonomi dan perkembangan di sektor petrokimia serta transportasi.

“Kenaikan harga juga dipengaruhi oleh permintaan kebutuhan minyak diesel yang tinggi guna mendukung proyek infrastruktur Pemerintah di India,” tulis laporan SKK Migas tersebut.

Tidak hanya di kawasan Asia Pasifik, harga minyak mentah utama di pasar internasional juga mengalami kenaikan.

  • Dated Brent naik US$ 0,71 per barel dari US$ 65,19 per barel menjadi US$ 65,90 per barel.
  • Brent (ICE) naik US$ 0,99 per barel dari US$ 65,73 per barel menjadi US$ 66,72 per barel.
  • WTI (Nymex) naik US$ 0,59 per barel dari US$ 62,18 per barel menjadi US$ 62,77 per barel.
  • Basket OPEC naik US$ 0,17 per barel dari US$ 63,48 per barel menjadi US$ 63,65 per barel.

Kenaikan harga ini terpengaruh kondisi perekonomian dunia berdasarkan publikasi OPEC bahwa momentum pertumbuhan yang kuat telah dimulai dari tahun 2017, pertumbuhan global secara signifikan naik ke tingkat 3,8 persen untuk 2018 dan 2017 dan masih stabil hingga saat ini.

Kenaikan juga dipengaruhi oleh permintaan minyak mentah global. Berdasarkan publikasi IEA, permintaan minyak global diperkirakan meningkat 1,5 juta barel per hari menjadi 99,3 juta barel per hari pada 2018. Sementara berdasarkan publikasi OPEC, permintaan minyak dunia diperkirakan naik 1,60 juta barel per hari ke rata-rata 98,63 juta barel per hari.

“Kenaikan harga juga diakibatkan meningkatnya ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah, yang berdasarkan informasi dari Reuters 26 Maret 2018 telah terjadi penyerangan Houthi Yaman kepada Arab Saudi dengan melakukan peluncuran rudal ballistik,” tulis laporan SKK Migas.

Perkembangan harga minyak mentah dunia berdasarkan publikasi Platt’s periode 2017-2018.

Sementara bulan April 2018, harga diperkirakan masih menguat karena tren peningkatan throughput refinery global diperkirakan terjadi pada Q2 2018, setelah pemeliharaan berkala kilang, utamanya di kawasan timur tengah. Harga kian ditopang oleh kondisi perekonomian global dengan pertumbuhan mencapai 3,8 persen dan relatif stabil.

Namun, harga bisa saja kembali melemah karena mulai meningkatnya kegiatan pemboran shale oil di Amerika Serikat dan meningkatnya nilai tukar US$ terhadap EURO.

Berdasarkan hal tersebut di atas, pada bulan April ini diperkirakan:

  • Harga rata-rata minyak mentah Indonesia berkisar antara US$ 59,00-64,00 per barel.
  • Harga rata-rata Dated Brent berkisar antara US$ 63,00-68,00 per barel.
  • Harga rata-rata Brent (ICE) berkisar antara US$ 63,00-68,00 per barel.
  • Harga rata-rata WTI (NYMEX) berkisar antara US$ 60,00-65,00 per barel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here