Jakarta, Petrominer – Indonesia dapat menghemat biaya sampai US$ 2 miliar dengan melakukan pensiun dini PLTU yang paling tidak menguntungkan. Selanjutnya, pembangkit listrik tersebut diganti dengan campuran dari energi surya, penyimpanan baterai dan sumber energi bersih lainnya.
Pensiun dini PLTU batubara juga dapat menekan emisi karbon hingga 1,3 giga ton CO2. Ini setara dengan menghentikan emisi perkapalan global selama dua tahun. Demikian hasil analisa terbaru dari analisis lingkungan TransitionZero, yang diperoleh PETROMINER, Rabu (14/6).
Menurut TransitionZero, temuan-temuan penting tersebut ditemukan dalam aplikasi pertama dari model sistem energi yang terbuka untuk umum (open source) milik TransitionZero bernama Future Energy Outlook (FEO). Sistem ini dikalibrasi untuk melakukan perbandingan finansial dan biaya lingkungan untuk menjalankan sistem kelistrikan Indonesia hingga tahun 2050 dengan berbagai skenario.
“Temuan kami menunjukkan bahwa menutup PLTU tua di Indonesia lebih awal sama-sama menguntungkan untuk emisi dan biaya. Indonesia tidak hanya dapat menghemat US$ 2 miliar dengan menutup pembangkit yang paling tidak menguntungkan, tetapi juga dapat mempercepat dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan, menghemat 1,3 gigaton CO2, dan mencapai net zero dengan lebih cepat,” ungkap Kepala Data Insights TransitionZero, Seb Kennedy.
Indonesia telah menargetkan untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060. Untuk mempercepat upaya transisi energi bersih tersebut, dana senilai US$ 20 miliar dari Just Energy Transition Partnership (JETP) telah disepakati pada KTT G20 tahun lalu.
Salah satu tujuan dari JETP adalah membiayai pensiun dini PLTU di Indonesia. Analisis yang dilakukan TransitionZero sebelumnya mengungkapkan bahwa dana tersebut jika dimanfaatkan untuk mempensiunkan lebih dari setengah kapasitas PLTU batubara di Indonesia atau setara 21,7 GW hingga sepuluh tahun lebih cepat dengan menargetkan pembangkit-pembangkit listrik yang paling tidak menguntungkan terlebih dahulu.
Hingga saat ini, belum ada tools yang tersedia untuk umum yang dapat digunakan untuk menghitung cara yang paling efektif untuk mengganti kapasitas batubara yang hilang di setiap node jaringan listrik Indonesia. FEO, model sistem beresolusi tinggi yang didukung oleh rich asset-level data, dirancang untuk mengisi adanya kesenjangan pengetahuan tersebut.
Model FEO pertama yang dilakukan menunjukan bahwa total biaya untuk menjalankan sistem ini mulai dari sekarang hingga tahun 2050 akan sebesar US$ 2 miliar, jika dana JETP digunakan untuk menutup kelebihan 21,7 GW PLTU. Skenario Pensiun Dini (Early Coal Retirement) PLTU dapat mencegah 1,3 giga ton CO2, yang artinya Indonesia dapat menyimpan US$ 2 untuk setiap ton CO2 yang dihindari jika modal JETP dialokasikan secara efisien.
Namun, FEO juga mengungkapkan bahwa emisi dapat meningkat kembali segera setelah dana pembelian batubara habis, karena JETP seperti yang dibayangkan saat ini tidak cukup besar untuk mengakhiri pembajakan batubara di Indonesia. Hal ini juga turut menggarisbawahi pentingnya donor internasional yang mendanai penghapusan batubara di Indonesia untuk memenuhi janji mereka dalam mendukung JETP dengan hibah dan pinjaman lunak, dan idealnya bagi mereka untuk memberikan paket pembiayaan iklim yang jauh lebih ambisius.
“Sistem kelistrikan Indonesia sarat dengan kelebihan kapasitas yang mahal, sehingga siap untuk dirombak. Future Energy Outlook mengungkapkan penghematan biaya dan emisi yang tersedia dari mendesain ulang jaringan di sekitar sumber daya yang lebih bersih dan hemat biaya,” ujar Seb Kennedy.
Menariknya, analisis ini juga menemukan sedikitnya variasi dalam bauran energi Indonesia tahun 2050 dalam seluruh skenario yang dimodelkan. Indonesia menggunakan tenaga surya dan penyimpanan baterai sebagai sumber listrik paling murah, mengakhiri ketergantungannya pada batubara, terlepas dari target emisinya. FEO mengungkap seberapa cepat tenaga surya dapat melemahkan PLTU tua yang mahal, dan di jaringan mana transformasi ini akan terjadi.
Terkait pemasangan kapasitas, energi surya tumbuh dari antara 15 GW dan 21 GW di tahun 2023, tergantung skenario pemasangan. Kemudian energi surya meningkat sepuluh kali lipat diantara 170 GW and 210 GW pada pertengahan abad. Ini merupakan peningkatan yang sangat signifikan dari basis tenaga surya yang terpasang saat ini sebesar ~170 MW.








Tinggalkan Balasan