Jakarta, Petrominer – Tantangan besar masih menggayuti industri nikel Indonesia. Mulai dari dinamika geopolitik global, keseimbangan produksi, hingga standarisasi lingkungan yang ketat.
Direktur Keuangan PT Trimegah Bangun Persada Tbk atau Harita Nickel, Suparsin D. Liwan, mengatakan kondisi industri nikel saat ini membuat pelaku usaha melakukan berbagai upaya untuk mendongkrak efisiensi operasi, tak terkecuali Harita Nickel. Perusahaan pun terus melanjutkan pengetatan biaya operasional untuk semua bisnis unit dan fokus pada upaya menjaga kesehatan keuangan secara jangka panjang.
“Strategi operasi lain yang dilakukan adalah dengan dimulainya pekerjaan konstruksi pabrik yang memproduksi kapur tohor atau quicklime, sebagai bahan pendukung proses HPAL dan akan meningkatkan efisiensi biaya bahan baku pendukung,” jelas Suparsin, Rabu (30/4).
Tidak hanya itu, menurutnya, Harita Nickel juga menerapkan strategi keberlanjutan guna memastikan stabilitas pertumbuhan jangka panjang dengan merampungkan proses audit standar pertambangan internasional Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA).
“Audit ini akan menjadi yang pertama di Asia untuk perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi. Sebelumnya perusahaan juga telah menyelesaikan Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) dari Responsible Minerals Initiatives (RMI). Kedua audit ini memastikan praktik pengadaan nikel yang bertanggung jawab dan memenuhi standar yang berlaku di dunia internasional,” ungkap Suparsin.
Lebih lanjut, dia menyebutkan Harita Nickel juga telah menyelesaikan Landscape Level Nature Risk Assessment (LNRA). Ini untuk memperkuat pengelolaan lingkungan dan memastikan pendekatan yang transparan dalam pengembangan berkelanjutan di konsesi baru.
“Komitmen Harita Nickel lainnya terhadap akuntabilitas dan transparansi dalam menerapkan prinsip-prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST) ditunjukkan dengan menerbitkan laporan keberlanjutan ketiganya,” ujar Suparsin.
Energi Berkelanjutan
Terkait pengembangan lainnya, Direktur Keberlanjutan Harita Nickel, Lim Sian Choo, menambahkan bahwa pihaknya telah berhasil melakukan peningkatan penggunaan energi berkelanjutan sebesar 29,8 persen dibandingkan tahun 2023.
Salah satu kontribusi pengurangan emisi dilakukan dengan melakukan penanaman sebanyak 2.025 bibit bakau di Pulau Obi dan sebanyak 1.750 bibit di Kayoa, Halmahera Selatan, bekerja sama dengan pemerintah setempat pada tahun lalu.
“Ke depan, Harita Nickel akan terus memantapkan komitmennya untuk memaksimalkan efisiensi, mengoptimalkan pemanfaatan aset, dan mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan dalam manajemen biaya. Termasuk mendorong inisiatif keberlanjutan, pengembangan masyarakat dan inovasi teknologi,” ujar Sian Choo.








Tinggalkan Balasan