, ,

Harga Batubara Melonjak, Saatnya Investasi ke Transisi Hijau

Posted by

Jakarta, Petrominer – Harga batubara yang melambung dapat menjadi titik balik Indonesia untuk memimpin sebagai pemegang Presidensi G20. Ini seharusnya juga bisa menjadi peluang bagi perusahaan batubara Indonesia untuk melakukan diversifikasi bisnis dan keluar dari bisnis fosil.

Analis keuangan Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), Ghee Peh, menyatakan kesempatan untuk mempercepat transisi energi bagi perusahaan batubara Indonesia telah tiba. Pada akhir kuartal I tahun 2022, delapan perusahaan batubara Indonesia sukses membukukan kas total US$ 6,8 miliar.

Dalam laporan terbarunya, Peh menganalisis delapan perusahaan batubara Indonesia tersebut, yang dalam tahun 2021 dan kuartal I-2022 telah mendapat keuntungan besar dari harga batubara yang mencapai rekor tertinggi. Malahan, keuntungan dan arus kas perusahaan-perusahaan batubara tersebut telah mencapai titik tertinggi. Tentunya, hal ini dapat mempercepat proses perubahan radikal untuk meninggalkan investasi tambang batubara baru dan memenuhi komitmen iklim jangka panjang.

“Ini saat yang tepat untuk mempertimbangkan pembelanjaan saldo kas tersebut secara berkeadilan dan berkelanjutan, terlebih lagi dengan Indonesia sebagai pemegang Presidensi G20. Saldo kas sebesar US$ 6,8 miliar dari perusahaan-perusahaan tersebut pada akhir kuartal I-2022 dapat membantu pembayaran utang dan mempercepat transisi menuju energi bersih,” tulis Peh dalam laporannya bertajuk “High Coal Prices Could Boost Indonesia’s Energy Transition.”

Dia menyebutkan, delapan perusahaan batubara tersebut adalah PT ABM Investama Tbk (ABMM), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), Geo Energy Resources Ltd (RE4), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Selama kuartal I-2022, total volume penjualan batubara dari delapan perusahaan tersebut sama dengan 25 persen dari tingkat penjualan sepanjang tahun 2021. Meski pelarangan ekspor telah menahan jumlah penjualan, hal ini juga berarti perusahaan-perusahaan tersebut tidak melakukan peningkatan kapasitas produksi yang berarti.

Delapan perusahaan tersebut juga cukup kuat secara finansial, dengan keuntungan dan arus kas operasi yang tinggi di kuartal I-2022.

“Selain dari utang yang rendah dan saldo kas yang tinggi, rencana belanja modal mereka juga tampak rendah tanpa ada penambahan kapasitas produksi yang berarti. Contohnya, Indika Energy telah mengajukan rencana untuk transisi ke energi terbarukan,” kata Peh.

Perusahaan tersebut telah menurunkan tingkat utangnya secara bertahap sejak tahun 2020. Total posisi utang menurun dari US$ 4,1 miliar pada tahun 2020 menjadi US$ 3,7 miliar di kuartal I-2022. Malahan, Bayan Resources dan Geo Energy Resources telah menurunkan tingkat utang mereka ke nol.

“Strategi yang konservatif ini sangat masuk akal mengingat semakin meningkatnya jumlah institusi keuangan yang telah mundur dari pembiayaan proyek batubara baru,” tambah Peh.

Delapan perusahaan itu hanya menginvestasikan 15 persen dari total saldo kas mereka dalam belanja modal tahun 2020, dan kurang dari 10 persen pada tahun 2021. Pada tahun 2021, total belanja modal dari seluruh perusahaan tersebut mencapai US$ 624 juta. Sebagian besar dari belanja modal tersebut dialokasikan untuk infrastruktur seperti jalan dan peralatan.

Peluang Bertransisi

Berdasarkan belanja modal mereka tahun 2021, IEEFA menemukan bahwa sebagian besar dari perusahaan-perusahaan tersebut berinvestasi dalam infrastruktur dan jenis usaha lainnya. Kecuali ABM Investama dan PTBA, yang berfokus pada pengembangan proyek baru yang berkaitan dengan batubara.

“Kami menemukan bahwa ABM Investama tengah meningkatkan volume produksi dan berencana mengakuisisi tambang batubara baru. Sementara PTBA tengah berencana mengembangkan hilirisasi DME (dimethyl ether) yang bersumber dari batubara. Secara keuangan, justifikasi untuk proyek DME cukup lemah,” kata Peh.

Di sisi lain, Indika Energy telah melepas kepemilikannya dari usaha kontraktor penambangan batubara. Perusahaan tersebut tengah mentargetkan belanja modal sebesar US$ 32 juta untuk proyek penambangan emas, dan memegang kepemilikan sebesar 51 persen (US$ 21 juta) dalam perusahaan listrik tenaga surya, yakni Empat Mitra Indika Tenaga Surya (EMITS) bersama mitranya Fourth Partner Energy.

“Selagi perusahaan batubara Indonesia tengah mendapatkan keuntungan yang besar dari kenaikan harga, kami merekomendasikan untuk melakukan divestasi lebih lanjut dari batubara dan mempercepat proses transisi dengan menggunakan momen harga tinggi, keuntungan besar, dan arus kas tinggi tahun 2021 dan kuartal I-2022,” tulis Peh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *