Masyarakat dengan rela dan ikhlas tanpa dibayar bahu membahu mendirikan tiang listrik agar listrik bisa masuk ke dusunnya.

Sambas, Petrominer – “Kami bersyukur dalam waktu dekat “merdeke” (logat Sambas) atau merdeka dari kegelapan.”

Komentar dari seorang warga bernama Hadi Yudiarto itu terkesan lugu dan menggambarkan kebahagiannya yang meletup-letup. Bagaimana tidak, dusun tempat tinggalnya akan segera dialiri listrik. Saat ini, proses pembangunan jaringan listrik hampir selesai di Dusun Gayung Bersambut, Desa Selakau Tua, Kecamatan Selaku Timur, Kabupaten Sambas, Kaliamntan Barat.

“Jika tidak ada halangan, awal September 2019 nanti, masyarakat sudah dapat merasakan listrik dari PLN,” ujar General Manager PLN Unit Induk Wilayah Kalbar, Agung Murdifi, Sabtu (24/8).

Menurut Agung, khusus Dusun Gayung Bersambut, kendala terberat dan menjadi salah satu faktor daerah tersebut lama tersentuh listrik PLN adalah akses jalan. Pasalnya, jalannya sempit dan jembatan yang ada tidak bisa dilalui oleh kendaraan untuk memasukan material seperti tiang, trafo dan kabel listrik.

Namun, tantangan ini pun segera terjawab dengan adanya komitmen dan kerelaan warga yang bersedia untuk bergotong-royong mengangkut material. Masyarakat dengan rela dan ikhlas tanpa dibayar bahu membahu memikul tiang listrik agar bisa masuk ke dusunnya. Bahkan untuk menyeberang sungai melalui air, tiang harus diberi pelampung dan dibawa melalui sungai.

“Ini merupakan hal yang luar biasa. Saya mengapresiasi kerelaan dan keikhlasan seluruh warga dalam membantu dan bersinergi dengan para pekerja dalam mensukseskan pelaksanaan proyek lisdes tersebut,” ungkap Agung.

Dia menjelaskan, untuk mengalirkan listrik ke Dusun Gayung Bersambut, PLN membangun jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 8,586 kms dan jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 5,597 kms serta 2 unit gardu distribusi dengan total kapasitas sebesar 200 kVA.

Tanpa Ganti Rugi

“Kita sebentar lagi merasakan merdeke. Merdeke dari kegelapan. Akhirnya kami merasakan listrik dari PLN,” ujar Hadi di sela-sela kegiatan membantu para petugas PLN memasang tiang listrik.

Selama ini, menurutnya, untuk penerangan dan penggunaan peralatan listrik di malam hari banyak warga menggunakan genset. Waktu penggunaannya pun sangat terbatas, hanya sekitar dua atau tiga jam saja. Alasannya, biaya operasionalnya cukup tinggi. Sehingga lampu pelita menjadi solusi.

“Tentu mahal kalau menggunakan genset. Untuk membeli solar kami harus mengeluarkan uang sekitar 20 ribu per malam. Itupun hanya bisa dipakai untuk 3 jam saja. Belum lagi untuk biaya perawatan jika sesekali gensetnya rusak. Pastinya setiap bulan kami harus mengeluarkan biaya antara 600 hingga 700 ribu rupiah. Bagi kami warga dusun pastinya terasa sangat berat,” tegasnya.

Hadi dan beberapa warga lainnya pun meluangkan waktu untuk mendukung masuknya listrik ke desa mereka. Selain rela bergotong-royong mengangkut material, beberapa warga juga rela pohon sawitnya ditebang karena dilalui jaringan listrik. Ada sekitar 60 batang sawit miliknya dari sekitar 500-an batang sawit milik warga yang ditebang.

Setiap batang sawit tersebut satu Rupiah pun tidak ada tuntutan ganti rugi dari warga. Padahal sawit yang ada mayoritas sudah berproduksi atau berumur sekitar 6-8 tahun. Jika dikonversikan untuk ganti rugi diperkirakan warga yakni Rp 800.000 – 1.000.000 per batang.

“Kami tidak mau ganti rugi, demi kepentingan bersama dan asal listrik masuk, kami ikhlas pohon sawit, karet dan lainnya ditebang tanpa ganti rugi,” ujar Hadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here