, ,

First Boring SKTT 150 kV di Jakarta dan Banten

Posted by

Jakarta, Petrominer – Dalam upaya memenuhi program kelistrikan di DKI Jakarta yang lebih handal, PT PLN (Persero) melaksanakan first boring (pengeboran pertama) sebagai tanda dimulainya pekerjaan pembangunan SKTT (Saluran Kabel Tegangan Tinggi) atau Kabel Tanah dengan Tegangan 150 kV (kilo Volt). Ada enam proyek pembangunan SKTT yang akan dilakukan serentak di wilayah Jakarta dan Banten.

SKTT 150 kV ini rencananya mulai beroperasi secara komersil pada pertengahan tahun 2018. Pembangunan SKTT ini merupakan wujud nyata dari program Pemerintah dalam merealisasikan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan berupa pembangkit listrik dangan kapasitas total mencapai 35.000 MW dan jalur transmisi baru sepanjang 46.000 kilometer sirkit (kms) di seluruh wilayah Indonesia.

“Pembangunan SKTT ini diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih dan memberikan dampak signifikan terhadap kehandalan pelayanan sistem kelistrikan di Ibukota DKI Jakarta. Ini juga sekaligus memenuhi kenaikan kebutuhan listrik di Jakarta,” ujar Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Barat PLN, Haryanto WS, usai meresmikan kegiatan pemboran pertama tersebut, Rabu (20/9).

Menurut Haryanto, metode pengeboran yang dilakukan adalah HDD (Horizontal Directional Drilling). Dengan begitu, tidak membutuhkan pembebasan lahan, sehingga dapat meminimalisir dampak kemacetan pada jalan raya, dan dapat diselesaikan dengan waktu yang relatif lebih cepat.

Total panjang SKTT 150 kV yang dimulai pembangunannya hari itu adalah 129,2 km panjang kabel, dengan biaya konstruksi sekitar Rp 997 miliar. Dana tersebut menggunakan anggaran PLN dan sebagian pinjaman luar negeri (Loan AFD).

Tambahan jalur kabel bawah tanah baru ini, selain untuk meningkatkan kehandalan pasokan listrik, juga dimaksudkan untuk menjamin kehandalan pasokan listrik pada saat pelaksanaan event internasional Asian Games Tahun 2018 pada tanggal 18 Agustus – 2 September 2018.

“Kabel baru ini juga akan dihubungkan dengan gardu induk baru untuk pemenuhan kebutuhan listrik dalam rangka pengembangan daerah di Summarecon dan Pelindo,” jelasnya.

Metode pengeboran yang dilakukan adalah HDD (Horizontal Directional Drilling). Dengan begitu, tidak membutuhkan pembebasan lahan, sehingga dapat meminimalisir dampak kemacetan pada jalan raya, dan dapat diselesaikan dengan waktu yang relatif lebih cepat.

Lebih lanjut, Haryanto menjelaskan bahwa pekerjaan SKTT ini juga telah memaksimalkan komponen dan produksi material dalam negeri, yang terdiri dari kabel 150 kV XLPE Cu 1×1000 mm2. Kandungan TKDN-nya mencapai sebesar 80 – 87 persen dari total biaya pekerjaan, termasuk pemasangannya yang dilaksanakan oleh anak bangsa.

“Seluruh pekerjaan ini diharapkan selesai tahun 2018 sebagai bagian dari penyelesaian proyek Pemerintah 35.000 MW dan 46.000 km sirkit jaringan transmisi dan 109.000 MVA gardu induk,” paparnya.

Keenam proyek pembangunan SKTT atau kabel tanah itu adalah:

  1. SKTT 150 kV Senayan – Danayasa. Dengan panjang 2,275 km route, menggunakan kabel ukuran 1×1000 mm2, 2 sirkit, pelaksana PT KMI Wire & Cable. Rencana operasi: Tahun 2018,
  2. SKTT 150 kV AGP – Mampang. Dengan panjang 2,250 km route, menggunakan kabel ukuran 1×1000 mm2, 2 sirkit, pelaksana oleh PT KMI Wire & Cable. Rencana operasi: Tahun 2018,
  3. SKTT 150 kV Summarecon – Bekasi. Dengan panjang 4,970 km route, menggunakan kabel ukuran 1×2000 mm2, 2 sirkit, pelaksana oleh Konsorsium PT Twink Indonesia – PT Medan Smart Jaya. Rencana operasi: Tahun 2018,
  4. SKTT 150 kV Priok – Pelindo sirkit 2. Dengan panjang 5,078 km route, menggunakan kabel ukuran 1×1000 mm2, 1 sirkit, pelaksana oleh KSO PT CME – PT Swarna Dwipa – PT Prima Artha Utama. Rencana operasi: Tahun 2018,
  5. SKTT 150 kV Suralaya Lama – Suralaya Baru. Dengan panjang 1,5 km route, menggunakan kabel ukuran 2×1600 mm2, 1 sirkit, pelaksana oleh KSO PT CME – PT Swarna Dwipa – PT Prima Artha Utama. Rencana operasi: Tahun 2018,
  6. SKTT 150 kV Muara Karang – Angke. Dengan panjang 4,0 km route, menggunakan kabel ukuran 2×1200 mm2, 2 sirkit, pelaksana oleh konsorsium PT Twink Indonesia – PT Perfect Circle Engineering. Rencana operasi: Tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *