Sorong, Petrominer – Petrogas (Basin) Ltd. memulai Pilot Project Walio Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di lapangan Walio, Wilayah Kerja (WK) Kepala Burung, Sorong, Papua Barat Daya. Ini merupakan metode peningkatan perolehan minyak dengan cara menyuntikkan bahan kimia tertentu ke dalam reservoir atau lapisan batuan di bawah permukaan bumi untuk membantu mendorong minyak yang tersisa agar bisa mengalir dan diproduksikan.
Proyek ini merupakan bagian dari pemenuhan Komitmen Kerja Pasti (KKP) Wilayah Kerja Kepala Burung. Prosesi injeksi perdana bahan kimia dilakukan oleh Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, Selasa (30/12).
Rikky menyampaikan bahwa injeksi perdana ini merupakan milestone penting bagi rencana pengembangan CEOR di lapangan Walio. Proyek ini lebih dari sekadar pemenuhan KKP. Hasil positif dari pilot project ini diharapkan dapat diperoleh dan memenuhi kriteria sukses pilot CEOR, sehingga nantinya dapat dilanjutkan dengan pengembangan CEOR skala komersial.
Proyek pengembangan CEOR Walio skala komersial tersebut bersama dengan pengembangan-pengembangan struktur baru hasil eksplorasi diharapkan dapat menambah cadangan baru, meningkatkan produksi dan memperpanjang usia produksi dari WK Kepala Burung. Sebagai dampaknya, akan menghasilkan profit untuk Petrogas sebagai operator juga revenue untuk pemerintah dan menggerakkan industri/jasa pendukung di sektor hulu migas.
“Proyek membuktikan bahwa lokasi remote dan jauh bukan menjadi hambatan karena dengan komitmen, dedikasi dan kerja keras, semua persiapan proyek dapat dilaksanakan dengan baik,” ungkap Rikky.
Dia berharap proyek ini juga menjadi inspirasi bagi KKKS lain yang mengoperasikan lapangan potensial EOR di area yang infrastruktur hulu migasnya lebih established, seperti di area Jawa, Sumatera dan Kalimantan.
Periode 30-35 Bulan
Dalam kesempatan itu, President RH Petrogas Companies in Indonesia, Ferry Hakim, menyampaikan bahwa pilot project EOR ini merupakan salah satu pelaksanaan KKP Wilayah Kerja Kepala Burung dan upaya Petrogas dalam mengoptimalkan produksi minyak di lapangan Walio.
“Kesuksesan proyek ini akan membuka peluang besar bagi Petrogas dalam mengembangkan penerapan CEOR di area yang lebih luas, memperkuat rencana jangka panjang untuk meningkatkan produksi minyak dan memaksimalkan oil recovery,” ungkap Ferry.
Proyek CEOR Walio dilaksanakan dengan pola injeksi 5-titik yang terdiri dari satu sumur injeksi dan empat sumur produksi. Injeksi diarahkan ke zona reservoir Kais, yaitu reservoir karbonat yang telah memasuki tahap mature dan telah berproduksi selama lebih dari empat dekade, serta merupakan reservoir utama penghasil minyak di WK Kepala Burung.
Pelaksanaan pilot project didukung oleh pengoperasian fasilitas permukaan khusus, termasuk unit injeksi surfaktan–polimer, sistem pengolahan air, serta jaringan flowline pendukung. Secara keseluruhan, implementasi pilot project ini diperkirakan berlangsung selama sekitar 30 hingga 35 bulan sejak dimulainya injeksi hingga penyelesaian evaluasi teknis akhir.
Lapangan Walio dikenal sebagai lapangan minyak terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia bagian timur. Lapangan ini berlokasi sekitar 3 km dari fasilitas Kasim Marine Terminal dan merupakan salah satu area produksi utama di dalam Wilayah Kerja Kepala Burung PSC.
Sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), Petrogas bersama PT Pertamina Hulu Energi Salawati Basin menjadi bagian kepemilikan di Wilayah Kerja Kepala Burung. Petrogas bertindak sebagai operator Wilayah Kerja Kepala Burung yang dalam melaksanakan operasinya berada dalam pengawasan dan pengendalian SKK Migas.








Tinggalkan Balasan