Nusa Dua, Petrominer – Percepatan pengembangan energi terbarukan dalam dekade ini dikombinasikan dengan pengembangan nuklir dan penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS) pasca tahun 2030 dapat membantu Indonesia mencapai net-zero emissions (NZE) pada tahun 2050. Transisi net zero global bakal memberi peluang investasi senilai US$ 3,5 triliun untuk Indonesia.
Demikian ungkap laporan terbaru dari BloombergNEF (BNEF) berjudul Net-Zero Transition: Opportunities for Indonesia, yang dirilis di BNEF Summit Bali, Sabtu (12/11).
Berdasarkan New Energy Outlook dari BNEF, analisis skenario tahunan jangka panjang tentang masa depan ekonomi energi, laporan ini mengkaji bagaimana pasokan energi Indonesia dapat berkembang di bawah Economic Transition Scenario (ETS)-nya BNEF dan Net Zero Scenario (NZS) yang sesuai dengan dengan tujuan Perjanjian Paris (Paris Agreement).
Kedua skenario tersebut berharap pertumbuhan permintaan listrik akan dipenuhi dari pengembangan energi terbarukan seperti surya, yang mulai menurun biayanya. Berdasarkan ETS, permintaan listrik Indonesia akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050 untuk mencapai 919 terawatt-hours (TWh), dibandingkan 306 TWh tahun 2021.
Saat ini, pembangkit listrik batubara memenuhi lebih dari 60 persen kebutuhan listrik Indonesia. Di bawah ETS, pangsa batubara akan naik ke 74 persen pada tahun 2027 dan kemudian turun menjadi 24 persen tahun 2050. Pada saat itu, porsi gabungan energi terbarukan dalam pasokan listrik mencapai 74 persen.
Berdasarkan NZS, permintaan listrik Indonesia akan tumbuh lima kali lipat pada tahun 2050, karena listrik menyumbang porsi terbesar dari permintaan energi final, termasuk menggantikan bahan bakar minyak (BBM) sebagai bahan bakar transportasi. NZS memperkirakan 75 persen pasokan listrik pada pertengahan abad nanti akan datang dari energi terbarukan, sementara sisanya dipasok oleh pembangkit listrik batubara yang dilengkapi dengan teknologi CCS (17 persen) dan nuklir (7 persen).
“Di bawah NZS, karena permintaan ekspor batubara Indonesia menurun lebih dari 60 persen, pembangkit listrik batubara domestik yang dilengkapi dengan teknologi CCS dapat menyediakan jalur transisi yang adil bagi industri batubara Indonesia. Di sisi lain, Indonesia juga perlu mempertimbangkan langkah-langkah untuk mempercepat pertumbuhan energi terbarukan dalam dekade ini,” ujar analis energi bersih BNEF Asia Tenggara, Caroline Chua.

Transisi net-zero global juga bisa menjadi peluang ekspor baru bagi Indonesia, karena permintaan baterai lithium-ion untuk kendaraan listrik akan meningkat menjadi lebih dari 2 TWh per tahun pada paruh kedua dekade ini. Berkat kekayaan sumber daya nikel, Indonesia telah menarik rencana untuk memproduksi baterai berkapasitas 25 gigawatt-hours (GWh).
“Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang signifikan untuk meningkatkan kapasitas produksi baterai lithium-ion. Untuk melakukannya, perlu meningkatkan kinerja lingkungan dari sektor pertambangannya serta meningkatkan permintaan baterai domestik dengan mempercepat ekosistem kendaraan listrik,” ungkap analis transportasi utama BNEF Asia-Pasifik, Allen Tom Abraham.
Untuk membiayai transisi energi, Indonesia hanya membutuhkan investasi di bawah US$ 2 triliun di bawah ETS BNEF dan sebanyak US$ 3,5 triliun di bawah NZS.








Tinggalkan Balasan