, ,

Co-Firing Amonia Kurang Efektif Tekan Emisi PLTU

Posted by

Jakarta, Petrominer – Analisis terbaru oleh TransitionZero menjelaskan bahwa potensi pengurangan emisi dari PLTU dengan teknologi co-firing amonia sangat kecil dan tidak sejalan dengan target capaian net-zero di Asia. Jepang sebagai promotor utama teknologi tersebut didesak untuk mempertimbangkan kembali strategi energi co-firing amonia-nya.

Menurut IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), Asia harus segera mengurangi emisi dan mencapai net-zero pada tahun 2050. Namun, TransitionZero menyebutkan Asia bakal meleset untuk mencapai net-zero jika terlalu mengandalkan teknologi co-firing amonia dari Jepang untuk mengurangi emisi. Alasannya, potensi pengurangan emisi dari teknologi itu kecil dan tidak selaras dengan net-zero.

Sebagai bagian dari kebijakan net-zero di domestik dan globalnya, pembuat kebijakan dan utilitas di Jepang telah secara luas mempromosikan co-firing amonia dengan pembangkit batubara. Malahan, teknologi ini sering diasosiasikan sebagai sebagai solusi pengurangan utama dengan kedok batubara ‘bersih’. Selanjutnya, Jepang berencana mengekspor teknologi tersebut ke negara lain, termasuk Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia.

Karena sejumlah besar keuangan publik dan swasta diinvestasikan untuk mengomersialkan co-firing amonia, analisis TransitionZero menemukan bahwa hal itu menawarkan potensi pengurangan emisi secara marginal dibandingkan PLTU batubara rata-rata dan juga tidak sejalan dengan masukan net-zero dari IEA (International Energy Agency).

Potensi pengurangan emisi dari berbagai pilihan PLTU dibandingkan jalur IEA Net Zero. (TransitionZero)

Lembaga think tank yang berbasis di London ini juga mencatat bahwa saat ini sedang dikembangkan jenis amonia ‘lebih bersih’ namun belum layak secara komersial. Potensi pengurangan emisinya juga masih minimal berdasarkan tingkat pencampuran saat ini yang sedang dipelajari. Secara khusus, ditemukan bahwa pembakaran bersama (co-firing) 20 persen amonia hijau dengan 80 persen batubara tidak akan berhasil memotong emisi cukup untuk mencapai net-zero di Malaysia, Indonesia dan Thailand.

Faktor emisi grid untuk rasio co-firing amonia yang berbeda terhadap level saat ini dan jalur net-zero IEA. (TransitionZero)

Lebih lanjut, TransitionZero menegaskan bahwa meskipun tenaga surya dan angin telah mengalami peningkatan di Asia, namun rencana ini masih belum ambisius. Meski begitu, ini lebih masuk akal secara ekonomi.

Analisis menunjukkan bahwa tenaga surya dan angin sudah menunjukkan biaya pengurangan (abatement costs) yang lebih rendah di Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Thailand. Malahan, keempat negara tersebut akan mengalami peningkatan pangsa energi tenaga surya dan angin dalam dekade berikutnya, yang akan berdampak pada pengurangan biaya energi terbarukan.

Karena itulah, TransitionZero mendesak Jepang untuk mengalihkan fokus investasinya ke tenaga surya dan angin. Dengan begitu, dapat membuka potensi ekonomi yang signifikan.

Analis Asia Tenggara TransitionZero, Joo Yeow Lee, mengatakan karena siklus hidup emisi dari co-firing amonia terjadi dari produksi ke pembakaran, teknologi ini tidak akan membantu negara-negara Asia Tenggara mencapai tujuan net-zero mereka.

“Alih-alih berinvestasi pada co-firing amonia untuk sektor listrik, Jepang sebaiknya berinvestasi pada energi terbarukan di negara-negara Asia Tenggara agar sejalan dengan target iklim mereka dengan cara yang lebih ekonomis dan untuk menghindari aset yang terlantar,” ungkap Joo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *