Kepala PPNS Ditjen Ketenagalistrikan, Djisman Hutajulu.

Jakarta, Petrominer — Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memenangkan Hadi Rahardja dalam sidang praperadilan atas penetapannya sebagai tersangka dalam kasus pencurian listrik di PT Wirajaya Packindo (PT WP).

Sebelumnya, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM telah menetapkan lima tersangka dalam kasus pencurian listrik oleh PT WP. Pencurian listrik itu telah merugikan PT PLN (Persero) mencapai Rp 167,85 miliar.

Dari kelima tersangka tersebut, empat orang merupakan petugas alih daya (outsourcing) PT PLN (Persero). Mereka telah dijatuhi vonis oleh Pengadilan Negeri Tangerang pada tanggal 4 Mei 2016 berupa Pidana Penjara selama 8 (delapan) bulan serta denda Rp 1 miliar.

Seorang tersangka lainnya adalah Hadi Rahardja, selaku pemilik saham terbesar dan Komisaris PT WP. Dia disangkakan turut serta menyuruh keempat orang terpidana tersebut, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 KUHP. Namun Hadi Rahardja melalui kuasa hukumnya, Lembaga Bantuan Hukum Patria Yustisi, mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Dalam sidang penyampaian putusan yang digelar, Selasa pagi (24/5), hakim tunggal Made Sutrisna memutuskan untuk memenangkan Hadi Rahardja dalam praperadilan tersebut. Dengan begitu, Komisaris PT WP itu pun bebas dari segala tuduhan.

Menanggapi hasil sidang yang tidak sesuai harapan itu, Kepala PPNS Ditjen Ketenagalistrikan, Djisman Hutajulu, menyatakan akan tetap mengusut kasus tersebut hingga tuntas. Pasalnya, otak dari pencurian listrik tersebut diduga berasal dari perusahaan itu sendiri.

“Karena jabatan Komisaris jadi tidak tahu menahu soal urusan listrik. Tapi ini masalahnya bukan jabatan, tapi orang atau individu yang menjadi otak pelakunya. Ini yang kita kejar,” kata Djisman usai mengikuti sidang praperadilan itu, Selasa siang (24/5).

Menurutnya, berdasarkan keterangan sejumlah saksi, ada orang dalam PT WP yang menggerakkan pekerja alih daya PLN untuk bekerja sama melakukan kecurangan. Adapun modus pencurian listrik itu dilakukan dengan mengotak-atik kawat meteran dengan memutusnya dalam saat tertentu sehingga tidak terukur dan terjadi loss arus.

Tidak hanya itu, pihak penyidik pun telah memegang pengakuan dari seorang saksi kunci yang menyatakan telah melakukan pertemuan dan menerima upah kerja. Pengakuan itu diperkuat dengan adanya kuitansi pembayaran upah kerja senilai Rp 306 juta.

Selanjutnya, ujar Djisman, pihaknya akan menindaklanjuti temuannya itu ke Polda Metro Jaya. Diharapkan otak di balik pencurian listrik di perusahaan itu bisa mendapat ganjaran dari perlakuannya.

“Ke depannya kita koordinasi dengan Polda, apalagi kita sudah tetapkan tersangka. Kita benahi proses penyidikan sehingga kita ikuti aturan,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here