, , , ,

Bakal Gantikan LPG, Pabrik Bio-CNG Mulai Dibangun

Posted by

Langkat, Petrominer – Pemerintah terus berupaya mencari alternatif pengganti LPG (Liquified Petroleum Gas) untuk memenuhi kebutuhan energi di rumah tangga. Ada Dimethyl Ether (DME) yang diproses dari batubara dan juga pemanfaatan gas bumi secara langsung melalui jaringan gas rumah tangga (jargas).

Langkah strategis ini diharapkan bisa untuk menekan impor LPG. Apalagi, sejak berhasil menggantikan minyak tanah, kebutuhan LPG terutama untuk keperluan rumah tangga kian meningkat hingga mencapai 96 persen. Tentunya, hal ini berdampak pula pada tingginya impor bahan bakar tersebut.

Kini, muncul alternatif pengganti lainnya, yakni Bio-CNG (Compressed Natural Gas). Produk ini diyakini bakal memberi kontribusi yang signifikan dalam mendukung transisi energi di Indonesia, khususnya dalam rangka pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) menjadi sumber energi.

Bio-CNG ini merupakan hasil dari pengelolaan limbah sawit yang berkelanjutan. Produk ini dikembangkan oleh PT KIS Group, yang merupakan leader dalam bidang Biogas dan Bio-CNG di Indonesia dan Asia. Malahan, perusahaan ini berencana membangun 25 pabrik Bio-CNG dengan kapasitas masing-masing 15.500 m3 Bio-CNG per hari.

Pabrik pertamanya sedang dibangun di PT United Kingdom Indonesia Plantation, Blangkahan POM, Desa Blangkahan, Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Peletakan batu pertama pabrik ini dilakukan pada 28 September 2022 lalu. Ini menandai akan dimulainya transisi energi dan dekarbonisasi yang besar di perkebunan kelapa sawit.

Pabrik ini merupakan bagian dari proyek tahap I yang akan membangun 25 pabrik Bio-CNG dengan kapasitas 15.500 m3 BioCNG per hari. Dengan total produksi 387.000 m3 Bio-CNG, pabrik-pabrik tersebut diperkirakan akan menghasilkan pengurangan 3,7 Juta ton Co2 per tahun dan menghasilkan 3,7 juta kredit karbon per tahun.

Direktur Bioenergi, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Edi Wibowo, mengapresiasi upaya yang dilakukan KIS Group tersebut. Langkah tersebut disebutnya telah berkontribusi signifikan dalam mendukung transisi energi di Indonesia, khususnya dalam rangka pemanfaatan EBT menjadi sumber energi.

“Pembangunan proyek Bio-CNG diharapkan dapat menjadi salah satu upaya baik dari KIS Group dalam ikut serta menyukseskan program peningkatan pemanfaatan EBT dalam bauran energi nasional,” ujar Edi Wibowo dalam kegiatan groundbreaking pabrik Bio-CNG pertama.

Dia memuji KIS Group sebagai salah satu stakeholder yang memperhatikan pengembangan biogas skala industri. Melalui PT KIS Indonesia, perusahaan ini telah berhasil membangun lebih dari 20 pabrik biogas di Indonesia sejak tahun 2012, dan menjadi yang terdepan dalam pengembangan biogas skala industri.

Melalui kerja sama KIS Indonesia dengan Anglo-Eastern Plantations dan PT Unilever Oleochemical Indonesia, KIS mengembangkan proyek Bio-CNG/Bio-Methane komersial skala besar pertama di Indonesia dan Asia untuk menggantikan bahan bakar fosil. Bentuk kerjasama ini diwujudkan dan ditandai dengan groundbreaking ceremony/peletakan batu pertama pekan lalu.

Pembangunan pabrik Bio-CNG tahap I ditargetkan akan commissioning pada April hingga November 2023. Ketiga proyek ini akan menghasilkan volume BioCNG mencapai 1.230 MMBtu per hari, dengan nilai investasi sekitar US$ 15 juta.

“Kami mengapresiasi upaya KIS grup dalam meningkatkan penggunaan biogas skala industri, yang menargetkan pada Desember 2024, akan menyelesaikan 25 pabrik, dengan nilai total investasi sebesar US$ 110 juta, dan akan mengurangi emisi karbon sebesar 3,7 juta ton CO2 per tahun,” ujar Edi.

Kontrak Jangka Panjang

Chief Executive Officer (CEO) KIS Grup, K.R. Raghunath, mengatakan, pembangunan pabrik Bio-CNG ini diharapkan mampu mendorong keberhasilan pengelolaan limbah sawit berkelanjutan di Indonesia. Pembangunan pabrik Bio-CNG ini dilakukan dengan mekanisme kontrak jangka panjang.

“KIS Group telah menandatangani kontrak jangka panjang dengan Unilever dan pihak lain untuk memasok Bio-CNG. Pada Desember 2024, KIS Group akan menyelesaikan 25 pabrik. Proyek-proyek ini juga menciptakan lapangan kerja dalam skala besar,” ungkap Raghunath.

Pengembangan Proyek Bio-CNG di industri kelapa sawit akan membantu perkebunan/pabrik kelapa sawit mengurangi emisi karbon, mengatasi masalah limbah serta membantu industri terdekat untuk lebih memanfaatkan EBT sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan dekarbonisasi. Selain itu, langkah pengembangan dan pembangunan proyek Bio-CNG ini tentunya akan membantu membuka lapangan kerja hijau bagi masyarakat sekitar yang kemudian memberikan multiplier effect bagi pembangunan ekonomi yang lebih baik dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa KIS akan melakukan commissioning tiga proyek pertama, bekerja sama dengan AEP Group dan Mahkota Group pada April 2023 hingga November 2023 dengan volume Bio-CNG mencapai 1.230 MMBtu per hari. KIS juga telah menandatangani kontrak untuk waktu yang panjang dengan PTPN, Ok IV AEP Group, Mahkota Group dan grup lainnya untuk memasok limbah organik.

Unilever Oleochemical Indonesia akan membeli Bio-CNG ini untuk menggantikan bahan bakar fosil demi mempercepat tercapainya target Net Zero Emissions (NZE). Unilever akan menjadi yang pertama di Asia/Indonesia yang menggunakan Bio-CNG untuk menggantikan bahan bakar fosil dalam skala besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *