
Tapanuli Selatan, Petrominer – Pemerintah berupaya untuk mempercepat pengoperasian PLTA Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW). Dengan terhubung ke jaringan, pasokan dari pembangkit berbasis energi terbarukan ini bakal memperkuat keandalan listrik. Apalagi, lima menara transmisi yang roboh akibat bencana hidrologi pada November 2025 masih menyisakan tantangan bagi sistem kelistrikan Sumatera.
Percepatan ini menjadi fokus kunjungan Wakil Menteri ESDM Yuliot Tandjung ke Proyek Strategis Nasional tersebut di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Kamis (30/7). PLTA yang dikembangkan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) itu dinilai krusial untuk memperkuat keandalan pasokan listrik di Sumatera.
“Ini merupakan upaya percepatan kita untuk penyediaan dan keandalan energi secara nasional. Khususnya, kondisi energi di wilayah Sumatera cukup kritis sehingga kita memerlukan antisipasi. Dengan keterbatasan ketersediaan energi primer yang lain, kita sudah memiliki PLTA Batang Toru yang bisa on-grid,” ujar Yuliot.
PLTA Batang Toru berada di area seluas 650 hektare. Pembangunannya dimulai sejak 1 September 2017, dengan investasi Rp 21,6 triliun yang bersumber dari penanaman modal asing.
Urgensi pengoperasian pembangkit semakin meningkat setelah bencana hidrologi pada November 2025 lalu merobohkan lima menara transmisi dan merusak infrastruktur pendukung jaringan kelistrikan. Kementerian ESDM kini mengawal proses pemulihan yang masih berada pada tahap perancangan menara dan struktur pondasi.
“Pembangunan kembali jalur transmisi ini dilakukan secara terakselerasi agar energi listrik dari PLTA Batang Toru dapat disalurkan dengan optimal ke dalam jaringan transmisi Sumatera,” kata Yuliot.
Selain kendala transmisi, proyek Rp 21,6 triliun ini juga sempat terhambat perizinan dan administrasi. Kepastian kelanjutan diperoleh setelah Menteri Lingkungan Hidup mencabut sanksi administratif melalui Keputusan Nomor 1.444 Tahun 2026 pada 16 Maret 2026, disusul persetujuan untuk melanjutkan konstruksi. Saat ini, proses administrasi berjalan paralel dengan uji teknis pembangkit yang memerlukan genangan air.
Pengoperasian PLTA Batang Toru juga diharapkan kian mendukung target bauran Energi Baru Terbarukan nasional yang saat ini berada pada kisaran 16 hingga 17 persen dan ditargetkan mencapai 21 persen pada akhir 2026.
“Jika kita tidak melakukan percepatan-percepatan, maka target bauran energi 21 persen tidak akan tercapai hingga akhir tahun,” ujar Yuliot.








Tinggalkan Balasan